Brakk
Audrey berlari menghampiri kedua orangtuanya yang tengah menonton tv ruang tamu. Ia menghambur ke dalam pelukan sang Mama dengan air mata deras yang membanjiri pipinya itu.
Kedua orang tua Audrey kaget dengan kedatangan putri nya itu.
Audrey menangis tersedu sedu dipelukkan mamanya. Sedangkan Putra saling melirik satu sama lain ke arah Bintang, meminta penjelasan. Namun Bintang pun tak tahu apa yang terjadi dengan anaknya kini.
Akhirnya, mereka hanya bisa menenangkan Audrey tanpa mengeluarkan suara sebelum anaknya sendiri yang mulai.
Sekitar 10 menit Audrey berada didekapan Bintang, ia pun melepaskan pelukannya.
Ia mengelap air matanya, namun sial, air mata itu tak ada henti henti nya jatuh dari pelupuk matanya. Rasa sesak dan juga penyesalan kini sangat tercetak jelas didalam ulu hatinya yang paling dalam.
Putra mengelus puncak kepala anak nya itu, jika diperhatikan rambut Audrey semakin tipis akibat kemoterapi yang kini sudah dijalani dari beberapa hari yang lalu dan juga cuci darah untuk kepentingan ginjal nya itu.
"Kamu kenapa? Coba cerita sama Mama," pinta Bintang kepada Audrey.
Audrey terisak, ia mengelap ingus nya itu.
Kedua orangtuanya menggelengkan kepala. "Jorok banget, sih anak Mama!" Hardik nya bercanda. "Kalo ada Abang kamu, pasti diceng cengin abis abisan!" Lanjutnya lagi.
Bintang yang tanpa sadar mengingatkan Audrey kepada Abangnya itu, ia pun kembali menangis. Bintang pun serba salah, dirinya niatnya hanya untuk mencairkan suasana. Namun kini Audrey tanpa deras nangisnya.
"Ma—ma, hiks! Mama tau nggak?hiks, Ma—masih inget nggak? Yang waktu itu orang donorin ginjal nya untuk aku?," Tanya Audrey yang kini mulai cerita.
Bintang menatap kearah suaminya itu seraya menggeleng. "Mama nggak tau. Emangnya kamu tau?," Tanya nya jujur.
Audrey terisak, dan menatap kedua orang tuanya itu. "Ternyata orang itu Rava, Ma!!dia yang nolongin aku!" Pekik Audrey dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya itu.
Bintang dan juga Putra tak kalah terkejutnya.
"Bagaimana bisa?," Tanya Putra yang kini masih syok.
Akhirnya, Audrey pun menjelaskan secara rinci apa yang dijelaskan oleh Ravael kepada nya beberapa waktu lalu.
Bintang dan Putra hanya bisa diam, tak bisa berkutik sama sekali. Mereka berdua berasa hutang budi dengan keluarga Ravael.
Bintang menatap iba kepada putrinya itu.
"Udah malem. Mending kamu tidur, besok sekolah," usul Bintang.
Audrey mengelap air matanya itu, dan menggeleng lirih, lalu beranjak dari hadapan kedua orang tuanya menuju kamarnya.
Ngomong ngomong soal Yoga, Audrey menolak permintaan sahabat nya itu untuk mengantarkannnya pulang, namun Audrey menolak keras, dirinya butuh waktu sendiri akan semua ini. Dengan pasrah pun, Yoga hanya bisa menyetujui permintaan sahabat nya itu, meskipun ia pun merasa bersalah akan semua ini.
"Apa yang harus kita lakukan? Aku merasa bersalah banget, Mas. Apalagi... Audrey anak kita, dia malah... merenggut nyawa anak mereka," bingung Bintang dengan rasa tak tenang yang menghiasi suasana hatinya itu.
Ia tak habis pikir, ternyata orang yang telah menolong anaknya waktu kecil itu adalah orang yang selama ini dekat dengan anaknya.
Putra menghela nafas. "Nanti kalo ada waktu, kita main ke rumahnya Eva sama Tirta! Kita omongin ini baik baik, aku pun merasa bersalah," usul Putra. Bintang pun hanya mengangguk, patuh kepada perintah suaminya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Without You✓
Fiksi RemajaBerawal dari kisah percintaan Audrey Valencia bersama Ravael Leo Aiden di masa SMP. Ravael mengatakan perasaannya terhadap Audrey di depan kerumunan banyak siswa siswi yang membuat Audrey merasa senang dan malu. Bagaimana tidak? Ravael yang statusny...
