WAJIB PUTER BANGET NIH! BIAR NGE FEEL BANGETT
Audrey memasuki cafe yang biasa ia tempati untuk sekedar main main bersama para sahabat nya pada saat jaman SMA dahulu.
Mata cewek itu memerhatikan seluruh atensi cafe, Audrey tersenyum ketika orang yang ia cari sudah duduk manis di meja cafe seraya memainkan hp nya.
"Udah lama?," Tanya Audrey duduk di hadapan Rivael.
Nyatanya cowok itu sedikit kaget. Rivael menaruh hp nya diatas meja cafe dan meminum minumannya yang sempat ia pesan.
"Gak kok. Di minum," ajaknya.
Audrey mengangguk singkat dan meminum minuman nya juga.
"Lo mau ngomong apa?," Tanya Audrey penasaran.
Rivael berdehem sebentar. "Gak penting penting amat sih. Cuma mau nawarin doang," ujarnya ambigu.
Pikiran pikiran yang tak mungkin terjadi itu berkelana dengan seenak nya di otak Audrey.
Audrey menggeleng pelan dan kembali melihat ke arah Rivael. "Nawarin apa?," Tanya nya yang memang tak paham.
"Besok kan gue ke London. Gimana kalo kita semua sekalian aja berangkat nya bareng bareng ke sana? Itung itung reuni lah! Kita nginep di villa aja, trus ntar makan makan pas malem nya, baberceiuan
di kolom berenang belakang villa," tawarnya seperti orang sedang promosikan bisnisnya.
Audrey berfikir sejenak. "Gue sih, yes. Kalo lo mau bicarain hal ini mah kenapa gak ajak yang lain aja! Kan ini hak kita semua," heran Audrey.
Rivael menggeleng. "Gak papa. Kapan lagi kan berdua? Sebelum gue nikah?,"
Audrey memasang raut wajah tak mengenakkan. "Sori, gue bukan pelakor," sarkasnya.
Rivael terkekeh mencairkan suasana. "Gak usah bawa hati. Intinya sampein aja, ya! Gak banyak waktu juga soalnya. Ntar calon gue ngomel," kompornya sengaja, seolah olah ingin sekali Audrey terbakar dengan api cemburu nya.
Audrey menekuk alisnya tak suka. "Jangan seolah olah lo ngerendahin gue disini, dah. Lo fikir gue cemburu? Enggak!" Sewot nya tak terkendali.
Rivael terkejut namun detik berikutnya menghela nafas.
"Udah lah, lupain. Ntar marahan trus gak jadi. Disana juga ada sesuatu yang pengen gue perlihatkan ke elo," jelas Rivael dengan nada serius.
Audrey bingung. Sesuatu? Apa itu?
"Gak usah difikirin. Itu ruangan doang," kekeh Rivael.
"Ruangan apa, sih?,"
"Ruangan rahasia Ravael waktu dulu."
Audrey membeku. Ruangan apa?
"Dibilang jangan difikirin!" Sentak Rivael yang membuat Audrey kaget.
"Udah, ya! Disini gue berasa ingkar janji. Padahal kan waktu dulu gue bilang kalo gue gak bakalan hadir didalam lingkaran hidup kalian lagi," sarkasnya dan berdiri.
Entah kenapa emosi cowok itu tiba tiba bergejolak ketika mengingat kejadian itu.
Audrey menggenggam tangan Rivael yang langsung di hempaskan oleh sang empu.
"Gue minta maaf soal itu," lirihnya pelan.
Rivael memandang tubuh mantannya itu yang lebih pendek darinya.
Cowok itu menatap lurus. "Gak usah minta maaf. Udah terlanjur juga. Kecewa pula. Lagipula gak usah bahas masalalu, kita sama sama udah punya masa depan nantinya," tekannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Without You✓
Teen FictionBerawal dari kisah percintaan Audrey Valencia bersama Ravael Leo Aiden di masa SMP. Ravael mengatakan perasaannya terhadap Audrey di depan kerumunan banyak siswa siswi yang membuat Audrey merasa senang dan malu. Bagaimana tidak? Ravael yang statusny...
