wrong

74 5 1
                                    

Aku tak henti-hentinya tersenyum melihat pesan darinya. Sekarang pertanyaanku kenapa di depan Raina dia tak menyapaku?

Aku turun ke bawah untuk makan malam bersama Abi, Umi, dan kak Diana.

"Gimana hari pertama ospek Din?", Abi bertanya padaku.

"Seru bi, aku dapat teman baru, lingkungan baru, dan orang-orang baru".

"Ciee tadi temanku bilang, Robi jadi pembingmu ya? Ganteng kan dia?", ternyata kak Diana kenal dengan nya.

"Ya... gitu deh", apakah dia sepopuler gitu di kampus sampai kakak ku saja yang beda fakultas dengan nya bisa tahu tentangnya.

"Inget Din, kuliah yang benar. Nggak usah pacar-pacaran".

"Uhuk-uhuk...", kak Diana tersedak seperti nya dia kaget mendengar ucapan nya Abi.

"Kamu kenapa nak?", lalu Abi memberikan air putih kepada nya.

"Tersedak aja Bi". Lalu dia melihat kearah ku dan menatapku lurus.

Setelah makan malam aku pun kembali ke kamarku. HP ku berbunyi ada orang menelefon tapi, nomor itu tak ada namanya, ku angkat tanpa ragu.

"Iya Assalamualaikum, maaf ini dengan siapa ya?", aku bertanya kepada nya.

"Waalaikumsalam, ini saya Dinda, Robi". Kak Robi, tahu dari mana dia nomor HP ku.

"Oh kak Robi, ada apa kak?".

"Cuma mau memastikan ini nomor HP mu asli atau bohongan". Gak penting banget dia bertanya seperti itu padaku.

"Iya kak, ini nomor saya".

"Yaudah sampai ketemu besok ya Din, assalamualaikum".

"Waalaikumsalam".

Hari ini sudah ada 3 cowok yang selalu menghantuiku. Rayhan, Vico, di tambah dengan Robi.

-----------

Hari sudah pagi, matahari mulai keluar dari zonanya, dan aku pun bangun dari tidurku. Ini adalah hari kedua ospek, dan mulai minggu depan adalah hari pertama ku resmi jadi Mahasiswa.

"Inget pesan abi, Nikah dulu baru pacaran, karna kalau udah nikah terus mesra-mesraan itu pahala dan ibadah nak". Lagi-lagi abi memberikan kode agar aku dan kak Diana tidak pacaran.

"Siap 45 Bi", aku memberikan hormat pada Abi, dia serta Umi membalasnya dengan senyuman padaku. Kak Diana malah menyenggol tangan kanan ku. Dasar :(

Kami sudah sarapan, aku dan Kak Diana ke kampus dan Abi akan pergi ke rumah sakit sedangkan Umi, dia akan mengurus rumah.

Tiba di depan fakultas aku berjumpa dengan Wulan. Aku masih kesal dengan nya soal kemarin.

"Maaf ya kemaren telat ngasih tahu nya ke kamu". Dia merangkul ku dengan muka manisnya.

"Awas kamu ulangin lagi ya", aku mengancamnya dengan menunjukkan tangan ku yang di kepal.

Wulan hanya tersenyum dan memelukku.

"Assalamualaikum", Raina datang tapi dia sendiri.

Wulan melepaskan pelukan nya dan kami menjawab salam nya.

"Kok sendiri, mana Rayhan", dalam hati Rey I miss you a lot...

"Oh.. Kakak udah ke tempat ospek nya", what, brother??

"Kakak, dia kakak mu?", apakah ini alasan nya.

"Iya, dia kakak ku, maksudnya aku ini sepupunya tapi ketika ayah dan ibu ku berpisah aku tinggal bersama tante, ibu nya kak Rayhan. Soalnya ayahku jadi polisi dia sering pindah-pindah tempat dinas, sedangkan ibu ku sekarang ada di Hongkong buat kerja. Akhirnya aku memilih tinggal bersama kak Rayhan dan aku juga pengen kuliah di sini". Jadi dia adik nya, dugaanku selama ini salah.

Wulan lalu ingin mengatakan
"Tuh kan bener dia saudaranya, kamu sih nggak per..", aku membekap mulut ember nya.

"Per apa? Kak Rayhan emang kenapa?". Dia bertanya padaku.

"Nggak kok, nggak kenapa-kenapa, yaudah ayo udah kumpul semua disana". Kami bertiga berjalan beriringan menuju tempat ospek.

Ahhh... Terjawablah sudah dia siapa :) aku sangat senang hari ini. Tapi rasa penasaranku masih ada, kenapa di depan Raina dia bersikap cuek dengan ku, ishoma nanti aku harus menanyakan ini ke padanya.

💙💙💙❤❤❤

Kira-kira apa alasan Rayhan cuek pada Dinda di depan Raina?
Dan apakah Robi ada rasa pada Dinda?

Tunggu update selanjutnya, see you soon😚😚😚

Manusia Aneh (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang