Ku buka pintu kamar dan turun menuju lantai bawah. Ku lihat keluarga ku dan keluarganya Rayhan saling bersenda gurau bersama. Rasanya sangat senang sekali melihat mereka bahagia bersama.
"Ayo Din, duduk di sini". Umi menyuruhku duduk di sampingnya.
"Jadi, maksud kedatangan kami kesini ialah ingin mengikat nak Dinda dengan anak kami, Rayhan". Hatiku bercampur aduk antara senang karena dia menepati janjinya tapi di sisi lain Vico masih berusaha ingin bersama ku lagi.
"Din, maafkan aku mungkin selama ini aku kurang komunikasi denganmu. Lalu..."
"Begini Dinda, jadi sebenarnya tadi itu aku hanya marah sama kamu karena kak Robi bilang dia ingin melamarmu, padahal kan kamu sudah dekat dengan kak Rayhan. Namun, saat aku memberitahu tentang kak Robi pada kak Rayhan, kakak tetap bersikukuh untuk melamarmu. Padahal, aku sudah jelaskan bahwa kamu dan kak Robi ada something". Ternyata sebuah hubungan harus ada kepercayaan antara kedua belah pihak dan itu ada di diri Rayhan.
"Aku juga minta maaf, kenapa aku cuek saat ketemu kamu, karena aku hanya ingin mengetes cintamu padaku, dan ternyata matamu tak bisa membohongi kalau kamu sangat mencintaiku". Disitu aku hanya bisa tersipu malu. Semua orang yang mendengar ceritanya disini hanya bisa tertawa mendengarkan suara hati Rayhan.
"Yaudah kalian gimana sih, ayo langsung tentukan tanggal baiknya, benar kan pak Hendra". Tutur Abi pada papa nya Rayhan.
"Kalok saya sih tergantung Dinda nya Om", ucap Rayhan.
"Yaudah Dinda nya gimana?", balas Umi menanyakan padaku.
Aku hanya terdiam tidak tau harus berbicara apa.
"Kalau seorang wanita ditanyakan sesuatu tapi dia hanya diam, berarti jawabannya Iya", tutur Abi.
"Umi sama Abi apaan sih".
"Sudah dek, iya in aja, iya kan Rai?", kak Diana malah menggodaku.
"Saya mau om, tante...".
"Alhamdulillah...", mereka semua kompak mengucapkan kata itu.
Setelah panjang lebar bercerita waktu sudah jam 09:00 malam.
"Begini saja mas, kita tentukan tanggal tunangannya nanti saja. Mereka juga kan baru kuliah". Tutur Abi.
"Saya terserah mereka saja, yang penting sudah ada restu". Balas Pak Hendra.
"Baiklah, kami pulang", ucap ibunya Rayhan.
Mereka pulang, tanggal tunangan masih belum di tentukan. Tapi, hatiku sudah tenang dan terjawablah sudah semua persoalan ku tentang dia. Iya... Dia menepati janjinya.
Saat di dalam kamar, hatiku ingin menyampaikan semua yang dialami Vico pada kak Diana. Tapi aku harus memulai nya dari mana?
_______
Hari sudah pagi, pukul 02:00 aku sudah bangun untuk sholat tahajud, dzikir, sampai subuh.
Selesai sholat subuh, aku merapikan kasur kemudian mandi.
_________"Dek, bangun...", aku kaget ada seseorang menepuk pundak ku.
"I..ya bu...". Ibu-ibu yang menepuk pundakku pergi meninggalkan ku.
Jadi, itu hanya mimpi. Ahh... Aku belum dilamar Rayhan, sedari tadi ternyata aku duduk di halte gang depan rumah dan tertidur disini. Hahaha... Batinku:)
Dream...
