"Kalau kamu nggak percaya lihat deh nanti kalau mereka berdua bermesraan di depan matamu". Wulan kembali menjalankan sepeda motornya.
"Okok Din".
Akhirnya setelah perdebatan panjang, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena sebentar lagi ospek akan segera dimulai.
Semua mahasiswa baru berkumpul di aula. Aku tidak melihat Raina disini. Ahh sudahlah.
Ospek di mulai dengan perkenalan dan sosialisasi lingkungan kampus dan juga bermain game.
Ospek ini akan di laksanakan sampai tiga hari kedepan. Kami semua di bentuk kelompok dan nanti akan ada kakak senior yang akan membingbing kami.
Saat di tentukan anggota kelompok nya, tangan ku rasanya ingin menampar wanita ini, Raina iya Raina dia sekelompok dengan ku.
Meskipun aku kesal dengan nya, aku harus tetap baik padanya.
"Ehh kita sekelompok ya Din". Dia merangkul ku.
"Iya".
Kakak senior itu memperkenalkan dirinya di hadapan kami.
"Selamat pagi adek-adek, perkenalkan nama kakak Teguh Robianto, bisa di panggil kak Robi".
Dia memperkenalkan diri di hadapan kami, dia sangat baik, murah senyum, dan bisa dibilang cukup tampan. Tapi hatiku masih untuk nya, iya benar untuk Rayhan.
Kak Robi sepertinya ingin mendekatiku. Ahh aku harus menjaga hati ini untuknya. Meskipun sekarang dia bersikap aneh di depan ku. Sungguh mengherankan lagi dia meminta nomor HP ku. Ku ragu untuk memberikan nya, tapi karna ini kating jadi aku harus menurutinya toh lagi dia orangnya baik dan tadi saat dia memperkenalkan diri, dia bilang dia adalah seorang hafiz.
Kegiatan ospek berakhir pada jam 16:00. Raina mengajakku untuk bertemu dengan Wulan.
Kebetulan aku tidak satu kelompok bersama nya, jadi ku putuskan untuk bertemu dengan nya selesai ospek di gazebo dekat fakultas farmasi.
"Dimana ya Wulan, kalok sampek jam setengah lima gak datang, aku bisa di jemput nanti sama Rayhan".
"Kayak nya dia lagi otw kesini".
Sudah hampir setengah jam kami menunggu Wulan. Sifat nya yang nggak on time selalu menerpanya saat dia janjian dengan ku.
"Rai, ayo pulang". Rayhan muncul dari arah timur. Aku harus kuat melihat mereka berdua bermesraan.
"Iya, tapi aku lagi nunggu Wulan". Dia berdiri dan bergerak ke samping Rayhan. Wajahku sudah mulai tak terkendali.
"Ini sudah sore, ayo Raina besok aja". Dia sungguh mengacuhkan ku.
"Din, kamu pulang sama siapa?", setelah sekian menit akhirnya dia menyapaku juga.
"Sama Wulan, Rey. Sudah Raina kamu pulang aja sama dia, aku masih mau nunggu Wulan".
"Yaudah deh, hati-hati ya". Rayhan lagi-lagi tak mengucapkan apapun kepadaku.
Mereka berdua pergi dan Wulan masih belum muncul batang hidung nya.
Kak Diana tiba-tiba datang bersama Vico. Tahu dari mana mereka kalau aku ada di sini.
"Dek ayo pulang". Vico hanya tersenyum padaku. Ku balas senyum manis nya :)
"Gimana ya kak, aku masih nungguin Wulan nih".
"Coba Wulan telfon dulu gih".
Aku menyetujui saran nya. Aku mengambil HP ku untuk menelefon Wulan. Ternyata dia sudah pulang dari tadi, karena kakak nya yang kuliah di luar negeri pulang ke Indonesia. Aku mengomelinya karna dia tak memberikan kabar. Dia bilang daya baterai HP nya habis.
Akhirnya aku pulang ke rumah bersama kak Diana. Sedangkan Vico dia masih ada urusan dengan teman-teman nya.
Setelah sampai dirumah, ada pesan masuk ke HP ku.
Selamat sore calon istri
Jangan lupa sholat dan makanSaat berjumpa dia tak seperhatian ini padaku, tapi saat kita tak bersama dia malah menghawatirkanku. Dasar :(
Jujur aku rindu di kejar-kejar olehmu :)💙💙💙
Jangan lupa vote😉
