"Pa, udahan ngambeknya. Ini mau ketemu sama ibunya Taehyung loh. Itu berarti kan Taehyung serius sama Jimin." Mama Park mengelus bahu tegap suaminya. Sudah beberapa hari ini suaminya tak banyak berbicara.
Awalnya hanya pada Jimin, namun lama-kelamaan, hal itu juga berlaku pada dirinya. Membuatnya bingung. "Oppa, aku serius bingung loh kamu kenapa. Kamu diemin aku juga, salah aku apa?"
Papa Park menatap istrinya yang sudah berkaca-kaca. Lalu menyesali sikapnya yang ikut mendiami sang istri tanpa alasan yang jelas. "Nggak, kamu gak salah. Sini." Ia menarik lengan istrinya untuk duduk di sampingnya, kemudian memeluk tubuh mungil yang sudah mendampinginya puluhan tahun itu. Wanita yang telah melahirkan dua putra manis untuknya. "Maaf ya, kamu jadi kena. Aku stress banget."
"Jimin udah besar, pa. Gak seharusnya kamu bersikap seolah-olah dia masih anak kecil. Dulu sama Sungwoon kamu juga begini. Untung Jaehwan tahan banting."
Pria yang mulai memutih rambutnya itu tertawa. Mengingat bagaimana ia menguji kesabaran menantunya dulu.
"Taehyung juga tahan banting kok, sama gunting rumput aja nggak takut."
Mama Park tersenyum, ia tau. Suaminya berlaku seperti itu hanya supaya pasangan dari anak-anaknya tidak berani menyakiti putra mereka. "Udah yuk, berangkat. Jangan sampe telat. Nggak enak."
.
.
"Ini tempatnya pilihan Seokjin ya, Jim?"
"Iya ma, kak Seokjin yang pilih tempatnya. Kenapa ma?"
Mama Park menggeleng, kemudian menautkan jemarinya dengan sang suami. "Enggak, mama suka aja. Bagus."
"Ohh, ya udah. Aku telepon Tae-hyung dulu ya." Setelah beberapa kali nada sambung terdengar, panggilan itu diangkat. "Hyung, aku udah nyampe. Ini di parkiran."
Tak lama setelah panggilan berakhir, Taehyung menjemput keluarga Jimin kemudian membawa mereka ke dalam ruangan yang telah Taehyung siapkan.
Ketika memasuki ruangan, kedua orang tua Jimin terkejut melihat seorang laki-laki bertubuh mungil yang duduk di atas kursi roda. Taehyung yang menyadari kegelisahan kedua orang tua Jimin, cepat-cepat bereaksi.
"Ekhm, papa mama, kenalin. Ini bundanya Taehyung. Bunda, ini papa sama mamanya Jimin udah dateng."
"Halo, salam kenal. Saya ibunya Taehyung, Han-"
"Hansoo?" Mama Park menyela. "K-kim Hansoo?"
Taehyung mengernyit bingung ketika mama Park menyebut nama ibunya bahkan sebelum sang bunda selesai memperkenalkan diri.
"H-haru? Son Haru? Haru –ya"
"Oh ya ampun, Hansoo." Mama Park tiba-tiba saja menerjang bunda Kim dengan pelukan. Keduanya sama-sama berlinangan air mata. "Astaga Hansoo, kamu kemana aja. K-kenapa kamu gak pernah ada kabar."
"M-maafin aku, Haru. Maaf."
.
.
"Jadi, mama sama bunda ini udah kenal lama?" Jimin yang masih belum mengerti kondisi antara mamanya dan ibu kekasihnya ini memulai percakapan di antara mereka.
"Huum, papa kamu juga kenal kok sama si bunda. Kita bertiga itu satu kampus, Jimin. Tapi semenjak bundanya Taehyung nikah, mama sama papa gak pernah ketemu lagi."
"Iya maaf, kamu tau sendiri deh dia gimana." Bunda Kim menggerutu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kedua orang tua Jimin adalah sahabatnya di masa kuliah.
"Wah, bagus dong. Bunda sama mama papa Park udah saling kenal kan. Lancar lah ya Taehyung jalannya." Namjoon ikut menimpali. "Eh, ekhm. Aduh maaf, kelepasan. Sebelumnya perkenalkan, saya Kim Namjoon, suaminya Seokjin." Namjoon mengusap belakang lehernya, merasa sedikit tidak enak ketika ikut menimpali obrolan tanpa memperkenalkan diri.
"Gak apa-apa Namjoon."Mama Park tersenyum. "Kita kenalan aja dulu yuk semuanya."
"Halo, saya Kim Seokjin. Kakak satu-satunya dari Kim Taehyung, hehe."
"Saya Kim Sungwoon. Kakaknya Jimin. Nah ini suami saya, Kim Jaehwan."
"Oh iya Seokjin, kata Jimin kamu baru melahirkan ya? Anak kamu ada di mana?" Mama Park melontarkan pertanyaan pada Seokjin.
"Oh, Namu di rumah orang tuanya Namjoon, tante. Masih belum bisa dibawa keluar jauh dulu soalnya."
"Mama dong panggilnya, kok tante? Iya sih, anak kalo masih bayi gitu sebaiknya jangan dibawa terlalu jauh dulu."
"Hehe, iya ma."
Setelah becakap-cakap, keluarga Park dan Kim melanjutkannya dengan menyantap makan malam yang lagi-lagi sudah disiapkan oleh Taehyung.
.
.
"Jimin, nih kasih ke Taehyung. Jangan dia semua yang bayar." Ucap papa Park pada putra bungsunya sambil menyerahkan kartu pada sang anak.
"I-iya pa." Jimin sedikit gugup menghadapi sang ayah, sebab ini pertama kalinya sang ayah mengajaknya berbicara terlebih dahulu setelah pertengkaran mereka sebelumnya.
"Hyung, ini. Bayar pake ini aja." Taehyung memperhatikan kekasihnya yang sedang memegang sebuah kartu, yang Taehyung yakini pasti milik papa Park.
"Nggak usah, Jimin. Udah pake punya aku aja. Balikin gih ke papa."
"Eh tapi ini kata papa-"
"Bayar pake punya papa aja, Taehyung. Kamu harus nabung buat nikahin anak papa kan?"
.
.
.
.
.
.
.
Us
TBC
Book 1 : It's You by Reika_Rei and chocolatesoup_
Eh aku gemes banget dong sama boneka bts versi imut-imut itu :( rasanya mau bawa pulang, yang benerannya hehe.

YOU ARE READING
Us (It's You, Book 2)
RomanceNew chapter of Jimin and Taehyung's Love Story. Ready to be a witness of their true love? Book 1: It's You, by Reika_Rei and Chocolatesoup_