Us "10"

1.3K 140 8
                                        

"Wahai bapak Kim Taehyung yang terhormat, dengerin gue ya. Sampe idung lo pesek juga si Jimin nggak bakalan ngerti kalo lo beneran ngajak dia nikah. Lo nya aja ngomongnya bercanda gitu."

Taehyung mengusak rambutnya, kesal karena sekretaris sekaligus teman baiknya ini tidak memberi solusi sama sekali, justru malah menambah beban pikiran Taehyung.

"Gyu, udah deh lo keluar aja. Gue pusing denger omongan lo, percuma ganteng otaknya nggak ada."

"Heh, sembarangan lo Kim."

"Lo Kim juga ya, monyet. Lagian ini di kantor, gue atasan lo. Mau kena potong berapa bulan ini hah?"

"Ehh, santai dong pak bos. Ini kan saya, Kim Mingyu sekretaris bapak yang paling tampan sedunia lagi mau ngasih solusi, jangan ngegas gitu pak. Nanti cepet tua, Jimin gak doyan lagi."

Taehyung sudah bersiap mengangkat tumpukan berkas untuk dilemparkan ke wajah sahabatnya yang sedang berleyeh di sofanya.

"Eh iya iya, jangan pake kekerasan pak. Gini, gini ya. Lo mending ajak si Jimin buat ngobrol, cari tempat yang bagus, terus lo ajak ngomong serius. Dia kan masih bocah, udah gitu rada lemot. Dijelasin sejelas-jelasnya, Kim. Biar dia paham, ngerti. Gitu, mudeng gak lo?"

Taehyung menatap sahabatnya, terkadang otak manusia setengah ubur-ubur ini memang berfungsi dengan baik.

.

.

"Ih, kan aku bilang nggak usah jemput loh. Ngapain kamu, emang nggak ada kerjaan?"

Taehyung mengusak surai kekasihnya, membuat Jimin merengut sebal. Rambutnya sudah cukup berantakan karena dijadikan pelampiasan rasa kesalnya pada ujian matematika tadi, sekarang malah ditambahkan oleh Taehyung.

"Gak ada, lagian tadi kata Jungkook si Yoongi mau ke dokter."

"Sejak kapan kamu jadi bertemen deket gitu sama kak Jeon?"

"Sejak dia jadi suaminya Yoongi? Gak tau ah, ayo pulang. Aku laper."

"Mau makan di tempat biasa?"

"Call."

.

.

"Beneran nggak mampir dulu? Di dalem nggak ada papa kok, papa lagi dinas ke Gwangju. Cuma ada mama sama kak Sungwoon." Ucap Jimin untuk memastikan. Pasalnya, Taehyung ini masih saja takut dengan ayahnya.

"Nggak deh, salam aja."

Jimin mengangguk, kemudian memperhatikan Taehyung yang sudah masuk ke mobil dan bersiap untuk pulang. Sebelum pria Kim itu membuka jendela mobilnya. "Weekend ini kamu ada acara?"

Jimin berpikir sebentar, berusaha mengingat apakah ia memiliki janji dengan teman-temannya atau mungkin dengan keluarganya. "Hmm, nggak hyung. Kenapa?"

"Oke, weekend ini kita ke Daegu ya. Siapin barang-barang kamu, kita nginep semalem." Setelah itu, Taehyung bergegas menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah.

.

.

"Weekend ini? Daegu? Kampungnya Tae-hyung? EH WEEKEND INI??!!" Jimin berteriak heboh ketika menyadari besok sudah hari Jumat yang artinya lusa ia akan berangkat ke Daegu Bersama Taehyung.

"Mama, mamaaaaa. Ma, dimana maaaa?" Jimin mencari keberadaan sang mama, berteriak di seluruh bagian rumah. Persis dengan kumpulan monyet yang Sungwoon sering perhatikan di kebun binatang.

"Jimin, gue gampar ya. Kebiasaan lo, kayak monyet." Sungwoon yang sedang memakan keripik kentang di ruang tengah menegur adiknya.

"Mama mana, kak?"

Us (It's You, Book 2)Stories to obsess over. Discover now