"Hyung, kamu gak bisa ya kalo pulangnya normal aja hari ini? Kamu keliatan banget capek loh, kurusan juga pula." Taehyung menatap Jimin yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Ia tersenyum, kemudian menggenggam telapak tangan Jimin.
"Biar kerjaan aku cepet selesai, sayang."
"Tapi besok kan-" Jimin tidak melanjutkan ucapannya ketika lampu lalu lintas berganti menjadi hijau. Dan fokus Taehyung kembali ke jalanan. Ia juga melepaskan genggaman tangannya dari Jimin, dan mengeratkan pegangan pada kemudi mobilnya.
Setelah sampai di kampus Jimin, pria mungil itu melepaskan sabuk pengamannya dengan perasaan sedikit kesal. Besok acara pertunangan mereka, tapi Taehyung menolak untuk pulang lebih cepat agar bisa beristirahat. Bahkan ketika Jimin memintanya untuk pulang di jam normal pun, pria itu beralasan bahwa ia akan mengambil cuti 2 hari, yang artinya ia bisa beristirahat 1 hari setelah acara pertunangan mereka.
Taehyung menangkap gelagat kurang mengenakan dari calonnya. "Kamu marah?" Ucap Taehyung pada Jimin yang baru saja akan membuka pintu.
"Nggak marah, aku cuma berusaha perduli sama kamu. Tapi kalo kamu nggak butuh rasa perduli dari aku ya udah. Terserah kamu mau pulang jam berapa. Nanti gak usah nyuruh kak Mingyu atau siapapun orang kantor kamu buat jemput aku. Aku bukan anak kecil, aku bisa pulang sendiri."
Setelah berucap seperti itu, Jimin keluar dari mobil Taehyung tanpa mengizinkan pria Kim itu untuk membalas ucapannya. Ia bahkan berlari untuk masuk ke dalam kampusnya. Benar-benar menghindari percakapan lebih lanjut dengan sang calon.
"Shit, I fucked up!"
.
.
"Boss, ini kata orang marketing masih salah. Bukan gini maksudnya mereka." Mingyu kembali menyerahkan beberapa dokumen pada Taehyung.
"Gyu, gue harus gimana?"
Mingyu menatap sahabatnya. Ada apa lagi?
Sebab Taehyung sangat tidak fokus sejak pagi, beberapa kali ia melewatkan dokumen yang harus diperiksa dan ditanda tangani. Dan sudah beberapa kali juga divisi lain mengembalikan dokumen karena terdapat kesalahan.
"Kenapa? Jimin tiba-tiba minta batalin pertunangannya?" Yang ditanya menatap yang bertanya sewot. Mingyu ini memang punya mulut yang tidak berfilter.
"Gue di suruh pulang cepet sama Jimin, karena you know lah besok ada apa. Tapi kan lo juga tau sebanyak apa kerjaan gue yang belum selesai? Padahal udah gue berusaha selesain dari kemarin." Mingyu menatap sahabatnya iba. Kerja keras Taehyung belakangan ini rupanya masih kurang. Tim mereka membuat kesalahan cukup fatal yang membuat pekerjaan Taehyung bertambah.
"Udah, abis makan siang lo pulang aja. Kerjaan lo biar gue yang handle. Lagian satu kantor juga tau besok lo tunangan. Pasti pada ngerti kok. Nanti kalo ada yang julid, gue aduin ke tante Kim." Taehyung tertawa, Mingyu selalu bisa membuat masalahnya selesai dengan begitu cepat.
"Oke, gue sekarang mau makan siang dulu. Ikut gak?" Taehyung membereskan barang-barangnya, ia berniat untuk langsung pulang setelah ia makan siang. Ia akan menuruti saran sahabatnya.
"Iya boss, ikut."
Taehyung berlalu dari ruangannya dan berpamitan dengan satu sekretarisnya lagi yang berjaga di depan ruangannya. Meninggalkan Mingyu yang dengan gontai berjalan di belakangnya.
"Hadeh, ini mah gue yang lembur. NASIB JOMBLO, NASIB."
.
.
"Udah sih Jim, jangan cemberut terus. Calon pengantin gak boleh marah-marah ntar cantiknya ilang." Yoongi mengusap bahu sahabatnya. Sejak pagi mood Jimin begitu jelek. Bahkan ia membentak Kwon, juniornya di jurusan tari karena menggodanya.
Bayangkan, seorang Park Jimin membentak orang lain.
"Ya kesel, Yoongi. Aku tuh kan khawatir. Muka dia tuh pucet tadi pagi, terus pipinya yang biasanya berisi jadi tirus gitu. Keliatan banget dia kurusan. Pasti makannya nggak bener."
Yoongi menghela nafas, kemudian mengelus perutnya yang mulai membesar. "Tapi nggak seharusnya kamu ngomong gitu ke dia. Emangnya kamu tau kerjaan dia di kantor lagi gimana? Nggak kan? Bisa aja dia lagi ada masalah di kantor, dan dia berusaha nyelesain biar besok dia nggak ada beban pikiran. Biar dia bisa fokus ke kamu sama acara pertunangan kalian."
Jimin tertegun, ucapan Yoongi benar. Se-khawatir apapun ia pada Taehyung, tidak seharusnya ia meninggikan suaranya dan membuat Taehyung terlihat seperti orang yang jahat dan tidak mau mengerti perasaannnya.
"Aku bukannya sok menggurui kamu, tapi setelah nikah aku belajar banyak, Jim. Aku ngerti bahwa aku nggak boleh jadi orang egois yang gak bisa paham sama kerjaan suami aku. Karena kadang kita cuma ngeliat dari sudut pandang kita, tanpa mau tau dari sudut pandang pasangan kita. Aku sering berantem sama kak Jungkook masalah kerjaan dia, tapi lama-lama ya aku ngerti. Setelah dia coba ngejelasin dari sudut pandangnya dia."
Yoongi melihat sahabatnya yang tidak memberikan respon apapun setelah ia memberi ceramah yang cukup panjang. "Humm, Jimin? Kamu, nggak tersinggung kan?"
"Hiks, e-enggak. Makasih ya udah nyadarin aku. Hiks hiks, aku pulang sendiri aja ya Yoon. Kak Jeon jemput kamu kan?"
"E-eh iya. Kamu kenapa nangis? Duh aku minta maaf Jim, kalo terlalu nyakitin kata-katanya."
"Enggak, hiks. Aku malah makasih banget. B-besok jangan telat ya." Setelah itu, Jimin berlalu dari kantin. Ia ingin segera pulang dan meminta maaf pada Taehyung-nya.
.
.
"Mama, kok hyungie gak bisa ditelepon ya? Hp-nya mati ma." Jimin berucap gusar pada sang mama.
"Ya habis kali baterainya. Kenapa emang? Gak sabar ya anak mama?" Jawab mama Park dengan jenaka, berusaha menghilangkan kerisauan putranya.
"Uhh ma, serius. Apa hyung lagi meeting ya? Ah! Iya kak Mingyu!" Jimin meninggalkan ruang keluarga yang diisi oleh sang mama dan kakak. Ditambah Jiwoo.
"Kenapa tuh dia? Berantem pasti deh sama Taehyung. Duh, udah mau tunangan masih aja berantem." Mama Park tertawa, kemudian kembali mengajak cucunya bermain.
"Duh dek Jiwooo, padahal mama kamu tuh dulu kerjaannya ngambek terus ke papa kamu. Pas besoknya mau nikah ada drama dulu tuh, gara-gara papa kamu ngundang mantannya."
"Mama apa sih. Jangan ngomong yang nggak-nggak di depan Jiwoo."
.
.
"Oh gitu kak? Ya udah deh, makasih ya kak Mingyu. Maaf jadi ngerepotin kamu, semangat ya lemburnya. Besok jangan telat loh!" Jimin memutus panggilannya dengan Mingyu setelah pria Kim itu menjawab.
Jimin berbaring di ranjangnya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi sticker bulan dan bintang. Taehyung yang memasang, karena tau kalau Jimin begitu menyukai langit yang dipenuhi oleh bulan dan bintang.
Ia kembali menggunakan ponselnya, membuka ruang obrolannya dengan Taehyung yang terdapat 4 pesan dari Taehyung yang tentu saja hanya Jimin baca karena kesal dengan calon tunangannya itu. Ia mengirimkan sesuatu sebagai balasan dari 4 pesan itu walaupun sangat terlambat. Setelah itu ia mematikan ponselnya dan segera menuju alam mimpinya.
.
.
.
.
.
.
.
Us
TBC
Book 1 : It's You by Reika_Rei and chocolatesoup_
Nahkan, makanya hayo saling ngerti sama pasangannya. Coba ngaku yang sering ribut sama pasangannya soal begini. Aku sih jomblo happy ya, jadi gak ada masalah begini, wkwkwkwk.
Btw, ini triple-nya ya. Aku usahain setiap weekend update. Atau kalau memungkinkan aku update dalam seminggu 2-3 kali.
Enjoy!
YOU ARE READING
Us (It's You, Book 2)
RomanceNew chapter of Jimin and Taehyung's Love Story. Ready to be a witness of their true love? Book 1: It's You, by Reika_Rei and Chocolatesoup_
