"Maaf Presdir Kim, tapi saya keberatan. Saya masih pegawai baru di sini, bahkan posisi saya hanya kepala tim. Saya bukan pegawai yang berpengalaman. Pengangkatan ini tidak berdasarkan sesuatu yang relevan. Masih ada Direktur Kim yang jelas-jelas lebih potensial dan berpengalaman dibandingkan saya." Suara Taehyung mulai meninggi. Nafasnya juga mulai tidak beraturan.
"Manager Kim, Direktur Kim akan saya tempatkan di Seoul. Di kantor kita yang baru. Karena saya yakin Direktur Kim sudah punya koneksi yang kuat di Seoul."
"Lalu? Apa Presdir kira saya punya koneksi yang kuat di Paris?" Namjoon menahan nafasnya. Ia pikir Taehyung sudah keterlaluan. Iya yakin, bunda memiliki tujuan yang baik dibalik kenaikan jabatan Taehyung.
"Saya melakukan ini atas dasar rekomendasi dari pemilik saham, memangnya kamu pikir saya bisa seenaknya mengangkat pegawai? Karena kamu anak saya?"
"Bunda!"
"Taehyung!"
Kondisi di dalam ruangan rapat pagi itu sangat kacau. Taehyung dan bunda Kim yang terlibat dalam adu argumen yang cukup panas. Membuat keduanya akhirnya lepas kendali.
Merasa bahwa rapat sudah tidak bisa dilanjutkan, Namjoon dengan sangat menyesal membubarkan rapat tersebut. Menyisakan ia, Taehyung dan ibu mertuanya di dalam.
Dua puluh menit sudah berlalu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan sepatah kata apapun. "Taehyung?"
Taehyung menatap kakak iparnya, ia tau bahwa ia telah membuat kesalahan. Namjoon menunjuk sang bunda yang menatap lurus ke arah meja rapat. Nafasnya sudah mulai teratur, menandakan ia sudah lebih tenang.
"Bunda-" Taehyung duduk bersimpuh di samping sang bunda. "Maafin adek, bun."
"Bunda ngelakuin hal ini bukan karena hyung anaknya bunda, tapi semua orang bisa liat potensi hyung. Kenapa bukan Namjoon? Coba kamu pikir, keponakan kamu baru lahir, hyung. Masa harus jauh dari daddy-nya? Terus kakak kamu? Tega liat kakakmu jauh dari suaminya? Lagipula Namjoon juga udah bunda tempatin di kantor baru. Namjoon udah punya banyak koneksi di sini, hyung. Akan lebih gampang kalo Namjoon yang stay di sini."
Taehyung mencelos, tak berpikir sejauh itu. Ia terbawa emosi dan itu membuat dirinya berpikiran sempit. Ia menganggap sang bunda memberinya perlakuan istimewa. Yang mana sangat tak ia sukai, sejak awal bekerja di perusahaan sang bunda, Taehyung meminta sang bunda untuk memperlakukannya sama rata dengan pegawai lainnya, agar ia dapat memahami bagaimana cara bekerja dengan baik.
"Maaf bunda, aku kelepasan. Aku, nggak mikir sejauh itu. Maafin adek, bun..." Bunda Kim meraba-raba, berusaha menemukan letak kepala sang putra yang sedang bersimpuh di sampingnya. Setelahnya, ia menyisir helaian rambut Taehyung yang tidak diberi gel hari ini.
"Semua orang percaya hyung bisa, hyung punya potensi. Yang bisa nilai diri hyung itu orang lain, bukan diri hyung sendiri. Paham?"
Taehyung memutar kursi roda sang bunda, kemudian memeluk kedua kaki bundanya. Menghela nafas berat, menyesali kebodohan yang ia lakukan hari ini.
.
.
"Jadi gimana boss? Udah fix nih lo bakal ngurus cabang yang di Paris?" Taehyung yang sedang memeriksa laporan, menghentikan gerakan tangannya.
"Gyu, gue nggak mau bahas itu dulu. Gue butuh banyak waktu buat mikirin itu. Tapi satu yang udah pasti, kemanapun gue pergi. Lo-" Taehyung menunjuk sahabatnya itu dengan pena mahal miliknya, hadiah dari sang kekasih. "Lo akan selalu ikut sama gue, pokoknya ntar kancut lo gue rantein sama punya gue. Jadi kita nggak bakal pisah." Seringai menyebalkan Taehyung berikan di akhir kalimatnya. Kemudian mengembalikan fokusnya pada tumpukan laporan yang ada di depannya.

YOU ARE READING
Us (It's You, Book 2)
RomanceNew chapter of Jimin and Taehyung's Love Story. Ready to be a witness of their true love? Book 1: It's You, by Reika_Rei and Chocolatesoup_