Jimin pagi ini masih dalam mode blank. Obrolan tadi malam dengan kekasihnya berlangsung dengan penuh emosi dan amarah.
Jimin merasa dipermainkan. Jelas-jelas keluarga mereka telah setuju untuk menikahkan mereka berdua tahun depan. Setelah Jimin lulus. Tapi sekarang apa? Kekasihnya justru meminta untuk melangsungkan pernikahan mereka bulan depan.
Bahkan Taehyung tak memberinya alasan yang jelas.
"Jimin, cepetan habisin. Kamu katanya harus dateng pagi." Jaehwan menegur sang adik ipar yang sejak tadi melamun. Tidak ada satupun anggota keluarga Jimin yang mengetahui pertengkaran pria mungil itu dengan tunangannya.
"I-iya, abang."
"Jimin, lo makan gak sih di kampus? Liat tuh pipi lo tiba-tiba tirus gitu. Serem Jim."
"Makan kak, elah." Jimin mendengus malas. Pagi ini tidak ada mama dan papanya. Dini hari tadi sang papa telah berangkat memenuhi panggilan dinasnya, ditemani sang istri. Jadi lah, hanya ada sang kakak dan suaminya.
"Abang gak masalah kan nganter aku dulu? Sumpah aku males banget bawa mobil."
"Gak apa-apa Jim, abang tunggu di luar ya. Mau panasin mobil dulu." Jimin mengangguk, kemudian Jaehwan meninggalkan meja makan dengan mengusak rambut adik iparnya.
"Lo kenapa sih? Kusut banget, perasaan yang baru jadi ibu tuh gue deh." Ucap Sungwoon pada adiknya.
"Apa? Gue baik-baik aja tuh." Jimin menjawab malas.
"Bilang tuh ke yang tadi pagi banting-banting pintu lemari. Jangan dikira gue nggak denger ya, Jim." Jimin memandang kakaknya, menyesali perbuatannya yang ternyata didengar sang kakak.
"Jiwoo bangun tuh." Jimin mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Jimin, gue kakak lo. Bukan setahun dua tahun Jim. 20 tahun gue jadi kakak lo. Dan lo masih mau menghindar gini?" Sungwoon meninggalkan meja makan untuk menghampiri sang putri yang memang sudah bangun dari tidurnya.
.
.
"Aku jalan, hati-hati di rumah."
"Iya, nanti kalo udah ngobrol sama Taehyung, kasih tau aku ya."
"Iya sayang, udah jangan jadi pikiran. Maaf aku gak bisa nganter buat check up-nya Namu ya." Seokjin tersenyum manis, suaminya ini menggemaskan sekali sih?
"Iya, Nam, say bye-bye to daddy." Seokjin mengangkat tangan mungil Namu untuk melambaikannya.
"Okay, daddy love you both." Namjoon mengecup singkat bibir istrinya, kemudian mencuri kecupan di kening putranya. "Percaya sama aku, Taehyung baik-baik aja."
.
.
"Boss, dikit lagi copot tuh rambut lo." Mingyu bergidik ngeri melihat sahabatnya yang sibuk menjambak surainya sendiri.
"Diem, gue slepet pake dollar nanti."
"Walah mau boss, buat malem mingguan nanti." Mingyu tersenyum menyebalkan yang membuat Taehyung ingin memukul wajah sahabatnya.
"Jomblo busuk aja sok mau malem mingguan. Kasih tau gue, cewek atau uke mana yang sakit mata tingkat akut sampe mau sama spesies kaya lo?"
'Kalo buat bertahan hidup gue bukan dari ini siluman bangsat, udah gue gebukin sampe jelek.' -Kim Mingyu yang tersakiti.
"Iya deh, gue bukan Kim Taehyung yang gantengnya kagak ketulungan." Mingyu menatap sahabatnya yang tidak memberi respon apapun. Ternyata pria yang satu marga dengannya itu sibuk dengan ponselnya.
"Iya kak, aku ke sana ya sekarang." Taehyung merapihkan barang-barangnya yang ada di atas meja kerjanya. "Gyu, gue keluar bentar. Kalo bang Namjoon tanya, bilang aja makan siang."
"HEH BOSS INI MASIH JAM 10, BELOM ISTIRAHAT BOSS. YA LORD KIM TAEHYUNG BANGSAAAAADD." Percuma, Mingyu. Kim Taehyung sudah masuk ke dalam lift.
.
.
.
.
.
.
.
Us
TBC
Book 1 : It's You by Reika_Rei and chocolatesoup_
Nahloh, Taehyung mau ketemu siapa tuh?
Btw maaf part ini pendek banget, huhu. Me love you
YOU ARE READING
Us (It's You, Book 2)
RomanceNew chapter of Jimin and Taehyung's Love Story. Ready to be a witness of their true love? Book 1: It's You, by Reika_Rei and Chocolatesoup_
