Rosie terdiam menunggu lelaki yang akan segera datang menjemput, ia lirik jam, kemana Rio? Cih. Lama sekali lelaki itu, hingga 15 menit berlalu akhirnya Rio datang dengan mengetuk pintu, rosie segera membuka pintu dan melihat lelaki manis yang selalu ada selama hampir 2 tahun ini.
"Kenapa lama sekali! Sudah ku bilang aku tak suka menunggu! Cepat antar aku, kau sudah tau jadwalnya bukan?" Rosie berucap, Rio mengangguk,
"Maaf, ayo rosie" Rio berucap dengan senyuman seperti biasa,
Keduanya mulai melangkah keluar dan segera memasuki mobil lantas melaju menuju tempat tujuan.
•
Diheningnya mobil Rio melirik rosie, meski sakit masih menguasai namun kenapa dia masih begitu mencintai? Bahkan untuk bersikap marahpun Rio tak bisa, Rio hela nafas, ia hentikan laju mobil ketika lampu merah terlihat.
Rio mengambil kado yang hendak ia berikan 2 hari lalu, yeah. Selama 2 hari Rio menenangkan diri dirumah dan mendengarkan berbagai motivasi yang asta berikan maka dari itu Rio bisa menghadapi dan melihat rosie kembali,
"Rosie, ini untukmu, selamat ulang tahun," Rio berucap ia berikan kado berukuran kecil itu,
"Setelah 2 hari kau baru menyatakannya? " dengan dingin rosie berucap,
"Maafkan aku, bukan aku lupa tapi aku harus bekerja dan selama 2 hari penuh aku tak sempat untuk mengucapkannya" Rio berucap, rosie hela nafas meski kesal terasa ia terima kado dari Rio,
"Kau harus lebih baik lagi Rio, terima kasih." Meski ucap gadis itu terdengar tak ikhlas Rio hanya bisa tersenyum,
"Hm, rosie, doaku akan selalu menyertaimu, dan aku mencintaimu" Rio berucap dengan perkataan yang terasa tulus terdengar. Rosie alihkan pandang untuk melihat arah jalan,
"Hm, aku juga Rio" Rio tersenyum, dengan pandang menunjukan luka, sekarang ketika gadis itu membalas kata cinta tak lagi membuat nya merasa senang, kini hanya kebohongan yang dapat Rio rasakan,Rio mulai kembali fokus untuk melihat jalan raya.
•
•
Rio perhatikan sang kekasih diatas panggung, entah kenapa rasanya sungguh hampa, Rio tau akan semua dan ia berniat untuk mempertanyakan semuanya, dan meminta kejujuran yang sesungguhnya.
Masih terasa denyut yang membuat nafas seakan sesak, Rio masih merasakan luka setelah kejadian 2 hari lalu, dan itu benar-benar menyakitkan, ingin sekali ia marah lantas menyentak dengan kasar, namun cinta yang dirasa menahan hingga diam yang bisa Rio lakukan.
•
Keheningan malam ini kurasakan begitu sepi, ku lirik gadis dibelakang yang menatap jendela luar, gadis yang begitu aku cintai, dengan laju mobil hanya alunan musik kesukaanya yang mengalun menemani perjalanan pulang.
Mungkin benar adanya, jika aku adalah yang terbodoh didunia, aku sudah mengetahui kenyataan bahkan melihat adegan yang begitu sangat mengecewakan, memberikan luka yang begitu dalam hingga sesak nafas terus kurasakan. Namun cinta yang besar seakan menahan agar aku tetap diam.
Aku tidak mau kehilangannya, hanya dia dan paman orang yang paling penting dalam hidupku, aku tak mempunyai siapapun selain mereka berdua, maka dari itu aku akan bertahan meski sakit membuatku ingin melepaskan.
Ku hentikan mobil ketika kita sampai didepan dorm nya, ku lihat dia segera turun dari mobil,
"Rio bawakan barangku masuk ke dorm" aku mengangguk dengan senyuman yang selaku kutunjukan dengan segera aku turun dan mengambil barangnya lantas masuk untuk mengikutinya.
![Love Is Silent[END]](https://img.wattpad.com/cover/200585954-64-k618478.jpg)