PART 27

1.2K 71 19
                                        

Keadaan ruang meeting benar-benar menegangkan bagi tisha, setelah melakukan pertemuan dengan para petinggi perusahaan untuk mengungumkan pengangkatan pimpinan baru perusahaan dan ia yang menjadi sekertarisnya. Tisha duduk tak jauh dari adit, pimpinan baru perusahaan dan juga pria yang menjabat sebagai suaminya. Tisha benar-benar tidak paham mengapa adit menyuruhnya untuk tetap tinggal di ruang meeting dengan alibi ingin berbicara, namun sampai saat ini adit bahkan sama sekali belum membuka mulutnya untuk berbicara, tisha mulai jengah dengan suasana ini tau begitu ia tadi akan langsung keluar dari ruang meeting dan tidak mendengarkan apa yg perintahkan adit.

"Kalau bapak tidak ada yang ingin dibicarakan, saya akan keluar karna banyak berkas baru yang harus saya pelajari" ucap tisha sopan sambil berdiri dari duduknya.

"Tunggu" sahut adit dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari meja dihadapannya yang sudah dipandangnya sejak tadi.

Tisha kembali duduk ditempatnya tadi dan menunggu apa yang ingin diucapkan adit.

"Kamu tinggal dimana, knp gak ada di apart?" tanya adit sambil menatap tepat dimata tisha.

Tisha langsung menundukkan kepalanya saat matanya dan mata adit saling tatap. Tisha bingung menjawab perkataan adit seperti apa.

"Aku tinggal di apartemen deket kantor" sahut tisha pelan.

"Kenapa gak di apart kita aja, apa itu terlalu jauh dari kantor?" tanya adit lagi.

Tisha benar-benar bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan adit, tidak mungkin ia akan menjawab terlalu banyak kenangan yang adit tinggalkan di apart itu, biarpun hubungan mereka tidak berjalan baik sejak awal, tapi tisha menyadari bahwa kebiasaan adit saat di apart mereka benar-benar menjadi kebiasaan bagi tisha.

"Gapapa, kepengen aja" ucap tisha.

"Pulang ke apart sama aku ya?" tanya adit dengan suara lembut.

"Kenapa aku harus pulang ke apart itu?" tisha balik bertanya dengan adit. Sambil menahan tangis, entah apa yang membuatnya jadi ingin menangis hanya mendengar pertanyaan dari adit.

"kamu kan istri aku sha, udah sewajarnya kamu pulang kerumah sama aku" sahut adit.

"Aku pikir kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi" sahut tisha pelan, namun masih dapat didengar oleh adit.

"Apa maksud kamu" tanya adit.

"Kamu pikir sindiri deh dit, kaya apa kamu selama ini, kamu gak ada kabar sama sekali selama beberapa tahun ini" sahut tisha dengan bergetar karena tiba-tiba saja air mata yang sudah ditahannya mengalir begitu saja.

"Kamu mikir apa sih" ucap adit yang mulai terpancing emosi.

"Udah deh, aku mau lanjut kerja, gak enak sama karyawan yang lain yang punya kepentingan sama kamu" sahut tisha sambil meninggalkan adit yang masih duduk di kursinya.

***

Tisha sedang berada di rumah mertuanya tentu saja dengan adit, seminggu sejak kejadian adit mengajaknya untuk pulang ke apart mereka tidak ada yang berubah diantara ia dan adit benar-benar hanya seperti bos dan sekertaris. Suasana yang tegang diantara adit dan tisha yang duduk bersebelahan benar-benar tertangkap mata mamah mertua tisha, ia juga sudah tau bahwa tisha sudah cukup lama tidak tinggal di apart itu dan memilih menyewa apart lain walaupun tisha masih sering ke apart tempat tinggalnya dengan adit hanya sekedar untuk membersihkan agar tidak berdebu.

Mama adit tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga anaknya, namun melihat adit dan tisha saat ini terpaksa ia ikut campur dengan menyuruh mereka berdua menginap di rumah dulu untuk setidaknya satu malam agar apa yang terjadi diantara keduanya terselesaikan dan mereka berdua kembali bersama.

"Yaudah kalian ke kamar sana, istirahat aja" ucap mama adit.

"Iya ma" sahut adit dan tisha secara bersamaan membuat mereka langsung saling tatap namun tidak bertahan lama.

Mereka langsung naik ke atas ke kamar adit, dengan adit yang jalan duluan diikuti tisha. Suasana canggung langsung menyelimuti keadaan diantara keduanya, tisha duduk di sofa yang berada di pojok ruangan sedangkan adit duduk dipinggir kasur. Mereka bertahan selama beberapa menit dengan keadaan seperti itu, sampai mamah adit masuk kedalam kamar mengantar baju untuk tisha karena tisha tidak ada meninggalkan baju di rumah ini.

"Kamu aja duluan yang mandi" ucap tisha selepas mamah adit keluar.

"Hmm"

Tisha tidak tau harus berbuat apa sehingga ia hanya memainkan smartphonenya selagi menunggu adit selesai mandi.

Tisha bergegas masuk kamar mandi saat adit sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan anduk yg terlilit dipinggangnya, penampakan yang sama sekali tidak pernah tisha liat membuat pipi tisha bersemu merah.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tisha meembersihkan diri, saat keluar kamar mandi ia melihat adit yang sedang membaca buku sambil bersandar di dashboard kasur, tisha yang melihat hal seperti itu benar-benar terkejut ia sama sekali belum pernah melihat adit yang serius seperti itu, adit benar-benar telah menjadi pria dewasa.

"Sini" ucap adit sambil menepuk sisi kasur yang kosong disebelahnya.

Tisha langsung menuju kasur dan mendudukkan dirinya disebelah adit dengan hati-hati dan dengan jarak yang cukup jauh. Ia tidak tau harus berbuat apa, ia bingung dan suasanya sangat awkward.

"Kenapa jauh banget duduknya? Sini-sini" ucap adit lembut namun matanya masih tertuju pada buku yang dibacanya.

Tisha langsung mendekat kesisi adit namun tidak sampai menempel, tisha merasa tidak nyaman jika harus terlalu berdekatan.

Adit langsung menutup buku dan melepas kacamata bacanya di nakas sebelah kasur. Terjadi hening beberapa saat tidak ada suara apa pun hanya suara jam yang menggantung di dinding. Tisha hanya menunduk sedari tadi, ia tidak berani menatap ke arah adit.

Adit tersenyum tipis saat menatap tisha yang menunduk, perlahan tangan kanannya mulai menggenggam tangan kanan tisha yang sedari tadi hanya memainkan jari sebelah kirinya. Membuat tisha mendongak dan terkejut karena jarak ia dan adit sangat dekat.

Sejak kapan adit menjadi sangat dekat seperti ini, kemana perginya guling yang berada di antara ia dan adit. Adit tersenyum melihat muka terkejut dari tisha, terlihat sangat lucu dan cantik secara bersamaan.

Tangan kiri adit yang bebas ia gunakan untuk mengusap kepala tisha yang masih menatapnya terkejut, membuatnya menjadi mengalihkan tatapannya ke arah lain.

"Ayo kita selesein malam ini" ucap adit yang membuat tisha kembali menatap adit terkejut.

Hehe up lagi dong:)
Ternyata ngetik dihp jdi lebih sedikit agak produktif wkwk.
Jadi lebih gampang ngetiknya karna pas lgi ada ide bisa lgsg ngetik.

Semoga masih suka sama ceritanya:)
Jangan lupa buat vote sama coment:)
Mwahhh.

Be LovedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang