PART 21

2.8K 124 2
                                        

PART 21

Author POV

Sandra sedang berada di apartemennya sambil menatap kearah kota sydney yang tenang, pikirannya berkelana kemana-mana, tapi satu tujuannya bagaimana caranya menyampaikan ke ayahnya bahwa ia telah putus dari adit dan gagal mendapatkan kata persetujuan dari ayahnya adit. Memikirkan itu benar-benar membuatnya pusing. Sebenarnya sandra tidak benar-benar menyukai adit, dia lebih menyukai akbar yang merupakan sahabat dari adit, tapi nampaknya cintanya itu bertepuk sebelah tangan dan malah adit yang menjadi pacarnya saat itu, ia berpikir mugkin dengan berpacaran dengan adit bisa membuat akbar tertarik kepadanya, namun itu hanya angannya saja.

Terlalu pusing memikirkan hidupnya yang seakan-akan berada di bawah kendali dari ayahnya, membuat sandra meneteskan air matanya. Namun ia segera menghapus karena tiba-tiba ada telepon masuk dan ia langsung mengecek siapa yang menelepon ternya itu adalah ayahnya.

"halo kenapa pah?" tanya sandra dengan suara parau.

"gimana? Berhasil gak?" tanya papahnya di seberang telopon sana.

"aku udah putus pah sama adit, jadi apa yang mau diharapin lagi" ucap sandra.

"kamu gimana sih, papah suruh kamu sekolah di sydney itu buat menarik perhatian adit dan papahnya adit, kamu itu jadi anak gak bisa berbakti dikit ya sama papah?" sahut ayah sandra dengan suara yang nyaring. Membuat sandra memejamkan matanya untuk menahan tangis.

"tapi pah ini aditnya yang minta putus" sahut sandra lagi.

"papah gak mau tau pokoknya kamu harus cari cara supaya papahnya adit mau menandatangani surat itu, terserah apa yang mau kamu lakuin. Kalo kamu gak berhasil papah gak akan mau mengakui kamu sebagai anak papah lagi" sahut ayah sandra final dan tidak dapat dibantah.

"tapi pah-" jawab sandra sambil menjauhkan ponselnya karena ayahnya tiba-tiba langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa ingin mendengar sahutan dari sandra.

Sandra langsung menyandrakan tubuhnya di tembok dan ia langsung memrosotkan tubuhnya sehingga terduduk di lantai.

"sandra harus gimana mah, sandra gak mau berbuat jahat sama siapa-siapa, tapi sandra cuman punya papah di duni ini" ucap sandra sambil meneteskan air mata, meratapi nasibnya.

***

Dilain tempat adit sedang bingung apakah ia harus menghubungi tisha sekarang atau nanti saat ia sudah siap atau bahkan tidak mengubungi sama sekali sampai ia kembali ke indonesia.

"gue harus apa?" tanya adit pada dirinya sendiri sambil menatap ke layar ponselnya yang menampilkan no hp tisha.

"apa gue coba aja ya?" tanya adit lagi

"coba aja deh" gumam adit sambil mendial no hp tisha.

Adit sudah sangat deg-degan karena baru kali ini ia mencoba untuk menghubungi tisha setelah adit melanjutkan studynya di luar negeri. Sambungan telepon masih berdering dan pada dering ketiga telepon tersebut di angkat.

"halo" ucap seseorang disebrang telepon sana.

"..."

"halo, siapa? Kalo lo gak ngomong gue matiin" ucap seseorang itu lagi.

"ini gue" ucap adit pada akhirnya.

***

Tisha POV

Tisha masih saja menatap ponselnya yang berada di genggamannya layarnya sudah berwarna hitam menandakan tidaka ada kegiatan yang terjadi di ponsel tersebut. Tisha masih memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya tentang adit yang tiba-tiba menghubunginya setelah beberapa lama tidak pernah ada kontak yang terjalin antara mereka berdua. Tisha heran mengapa adit tiba-tiba menghubunginya sedangkan sudah terlampau sering tisha mengiriminya pesan namun tidak satupun dari itu yang di balas, jangankan di balas dibaca saja tidak.

Be LovedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang