Jungkook keluar dari ruangan. Ponselnya bergetar terus-menerus di dalam sakunya, membuat konsentrasinya terganggu.
Ada rapat bulanan yang harus dia pimpin, tapi sepertinya ada panggilan yang penting.
"Halo─" panggilan diangkat, orang diseberang mulai berbicara pada Jungkook.
"Baiklah, saya akan kesana."
Lalu dia kembali masuk ke dalam ruangan. Memberi perintah pada bawahannya untuk menggantikan Jungkook kali ini.
Barusan orang dari sekolah Taetae meneleponnya.
Jungkook melangkah terburu-buru, ingin segera pergi ke sekolah anaknya.
Dia baru saja mendapatkan kabar, anak menangis tidak mau berhenti di sekolah.
"Taetae punya Mama!!" tidak peduli tenggorokannya terasa sakit setelah berteriak.
Taetae membencinya, ketika salah satu teman di sekolahnya mengolok jika dirinya tidak punya mama.
Tapi setelah berteriak dia langsung menangis. Bahkan ketika ibu gurunya datang dan berusaha menenangkannya juga tidak berhasil.
Dia kemudian dibawa ke kantor karena memang jam pelajaran sebentar lagi akan dimulai.
Orang-orang di sekolah kebingungan, karena Taetae tidak berhenti menangis sampai nafasnya sesak tidak beraturan.
Jadi jalan satu-satunya adalah menghubungi orang tuanya agar datang ke sekolah. Bahkan ketika papanya datang, dia juga belum berhenti menangis.
"Sayang, kenapa?" Jungkook terlihat khawatir. Dia berjongkok di depan anaknya yang duduk di kursi. Tangannya membersihkan airmata di wajah Taetae yang memerah karena terlalu banyak menangis.
Jungkook kemudian menggendongnya. Tubuh anak kecil dalam dekapannya beberapa kali terkejang karena masih menangis.
"T-taetae pu─nya Mama," Jungkook bisa mendengarnya meskipun tidak begitu jelas karena bercampur dengan suara isakan. Pasti ada yang mengganggu anaknya.
Taetae akhirnya di ijinkan pulang lebih cepat. Keadaannya tidak memungkinkan untuk terus ikut kelompoknya untuk belajar. Dan Jungkook akhirnya tidak kembali ke kantornya.
Anaknya lebih membutuhkan dirinya sekarang.
"Makan ya?"
Jungkook menghela nafas lelah ketika hanya gelengan yang dia dapat. Taetae tidak mau makan seharian.¹
"Taetae mau apa? Nanti Papa belikan?"
Jungkook jadi orang penyabar sekarang. Dia tidak direspon. Anaknya ada di pangkuannya hanya diam memeluknya.
"Apa mau cheese burger? Papa belikan sekarang kalau mau?"
Bujukan Jungkook akhirnya membuahkan hasil. Dan akhirnya pergi berdua, pergi ke restoran fast food terkenal di kotanya, sekaligus ketika pulang pergi ke time zone. Inginnya menghibur Taetae, biar melupakan rasa sedihnya.
"Pa, itu seperti boneka punya Taetae─"
Mata Jungkook mengarah pada kotak kaca yang di tunjuk anaknya. Isinya tumpukan boneka kelinci warna merah muda seperti milik anaknya.
Jungkook terdiam, ini seperti de javu baginya.
"Kenapa tidak mau sekolah?" Jungkook pusing. Taetae mogok sekolah, mungkinkah psikologis anaknya terganggu karena kejadian kemarin?
Papanya di punggungi, sementara dia memeluk boneka merah muda di tempat tidur.
"Pokoknya tidak mau sekolah," Jungkook menghela nafas. Sepertinya memang harus mengalah, anak sekecil ini tidak bisa di paksa.
"Kalau tidak sekolah Taetae mau apa? Tidak bosan?" Apa yang dikatakan papanya benar. Taetae berbalik, melihat ke arah papanya.
"Tapi nanti Taetae disebut tidak punya Mama sama teman Taetae," jadi karena ini alasannya.
Jungkook jadi mengantar sampai kelas.
"Baik-baik sama Yeonjun," Taetae memegang erat lengan papanya. Tidak mau di tinggal.
Mingyu yang kelompoknya ada di pojok melihat takut-takut. Dia sendiri sudah meminta maaf, katanya tidak akan mengulangi lagi.
"Tapi nanti jangan lama datangnya─" Taetae berkata dengan mata memelas.
"Janji?" Menagih ke papanya.
"Papa janji," jari kelingking ditautkan.
Terbukti jemputannya memang tidak datang terlambat.
Tapi yang datang ternyata bukan papanya. Bukan juga Paman Jimin yang baik hati.
"Ayo!"
Taetae tidak menyukainya. Tangannya sakit ketika ditarik, dipaksa mengikuti langkah orang dewasa yang berjalan lebih dulu di depannya.
Taetae harus memaksa kaki-kaki pendeknya berjalan cepat. Bahkan ketika keseimbangannya belum begitu bagus, dan dia terjatuh orang yang menjemputnya tidak ada keinginan menolongnya. Lututnya sakit karena terbentur konblok, mungkin kulit luarnya juga terkelupas dan sedikit berdarah karena celana sekolahnya memang pendek.
"Jangan menangis! Cengeng sekali," di wajahnya memang terdapat banyak rengutan dengan mulut mengerucut. Menahan mati-matian agar tidak menangis di tempat. Lututnya terasa perih dan celananya kotor. Tapi tangannya ditarik kencang untuk berdiri.
Taetae tidak menyukainya.
Perempuan yang menjadi pacar papanya datang menjemputnya.
tbc
bentar, ini kok jadi malah kayak sinetron azab?
KAMU SEDANG MEMBACA
SPARKLE [end]
Short StoryJungkook menemukan anak kecil di depan pintu rumahnya dengan surat yang mengatakan jika anak itu adalah anaknya
![SPARKLE [end]](https://img.wattpad.com/cover/206666365-64-k398025.jpg)