"Satu album aja sekalian!"
"Bagus juga ide lo. Gue coba pertimbangin deh." Kata Alvian menyahuti omongan Awan, sambil mengusap dagunya Alvian seakan berfikir keras akan perkataan Awan.
Sedangkan Awan semakin menggeram emosi pada Alvian.
"Salah lo sih Wan, udah tau kan si Vian anaknya kampret masih aja lo turutin omongannya."
"Apa maksud lo?" Tanya Alvian nyolot, Alvian tidak terima karena Bara mengatainya kampret.
"Lah, emang Lo kampret kan, di kasih hati malah minta jantung."
"Tapi kan Awan sendiri yang nawarin!"
"Pait pait pait," kata Bara. Tidak mau berdebat.
"Wong Awan sendiri gak komen aja kok."
"Oke gue mau, asalkan ...." Awan mengentikan kalimatnya, membuat Bara dan Alvian menatapnya lekat sambil menunggu kalimat Awan selanjutnya.
"Lo mau ngiringin instrumen gue besok."
"Besok?" Tanya Bara, tak mengerti akan maksud dari perkataan Awan.
"Dia minta kita manggung di sana lagi."
"Lo kalau ngomong jangan kek bencong dong Wan, yang jelas. Dia itu dia siapa?" Alvian berbicara dengan nada tinggi, membuat sebagian teman yang juga duduk di sebelah mereka ikut memperhatikan mereka.
"Joni."
"Kampret banget dah si Joni, gue kan capek, gue butuh istirahat ya, udah beberapa hari gue gak tidur di rumah. Bantal sama kasur gue udah rindu banget itu sama gue." Monolog Bara sambil menendang udara asal.
"Emang Lo tidur dimana Bar?"
"Noh, di rumah si kutu kolor, maksa gue buat nemenin dia selama bapaknya kerja di luar kota." Jawab Bara sambil menunjuk ke arah Alvian yang cengengesan, menampakkan sederetan giginya yang tertata rapi. Sedangkan Awan hanya menatapnya sekilas lalu merebahkan kepalanya di atas tangannya yang di lipat.
"Gue ga-"
"Kalau Lo gak mau, gue juga gak mau nurutin permintaan lo buat nyanyi di sekolah."
Alvian langsung terdiam, perkataan Awan membuatnya tidak jadi menolak.
Bara menunduk lesu, jadwal yang seharusnya berganti dengan hari libur, malah di isi dengan acara manggung di kafe orang. Sama halnya dengan Awan, cowok itu juga sama sepemikiran dengan Bara. Dia begitu lelah, dia juga ingin istirahat, tapi tetap saja sejauh apapun dia mencoba menolak pasti akhirnya dia akan menerima job itu dan akan melakukannya.
Jika saja menyanyi bukan sebagian dari hobinya, sudah pasti cowok itu tidak akan pernah mengambil pekerjaan itu, dia lebih suka tidur di kamarnya daripada harus bernyanyi ria di kafe orang malam-malam.
"Yaudah gue setuju, asal lo mau nyanyi dua lagu."
☁️
☁️
☁️
Keesokannya
Atala menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Rintik hujan mengguyur tipis ke arah tangannya yang terentang keluar jendela.
Udara sore yang sekaligus menyejukkan hati Atala. Membuat pikiran Atala sejenak damai, seakan jauh dari yang namanya beban.
Tak terbayang oleh Atala, seberapa indahnya ciptaan Tuhan yang kini tengah mengguyur kota. Andaikan mata Atala bisa melihat, ia yakin saat ini pasti dirinya akan melangkah keluar jendela, menerobos hujan yang turun membasahi bumi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind
Novela JuvenilAku nggak butuh mata, jika itu hanya mengambil salah satu nyawa. _Atala Ulfiana. Written by IndaPurna 28 November 2019 End 16 Maret 2020
