22. berkhidmat dan berbakti

1.1K 75 17
                                        

⚠️ Warning ⚠️

Adegan ini hanya bisa dilakukan kepada mereka yang sudah memiliki ikatan pernikahan, tidak diperkenankan dilakukan oleh pacar atau sesuatu yang tidak memiliki ikatan pernikahan.

Disarankan yang baca hanya mereka yang sudah berumur 🔞 keatas.

🍃 Sekian terima kasih 🍃

🍂Selamat membaca🍂


"Dimana, nyonya?" Kevin bertanya tidak sabaran ketika sampai dirumah.

"Nyonya tadi ditaman belakang tuan," jawab salah satu pembantu dengan takut, melihat tuan mereka yang pulang dengan terburu-buru, tidak seperti biasanya. Saat Kevin menjauh dari mereka, baru bisa bernapas dengan lega saling pandang satu sama lain seakan-akan bertanya, 'ada apa dengan tingkah laku, tuan mereka?'

Kevin segera berlari menuju kehalaman belakang ketika sampai disana Aretha tidak ada sama sekali, hanya ada beberapa pembantu yang sedang membersihkan taman.

Pria itu langsung mencari ketempat lain, sama seperti sebelumnya, nihil Aretha tidak bisa dia temukan. Cemas melanda hati Kevin, apakah Neneknya melakukan hal lain lagi?

Kevin menggeleng, mencoba menepis pikiran negatif di kepala nya. Hingga dia memutuskan untuk mencari kekamar nya atau kamar Aretha sebab hanya ruangan itu yang belum dia periksa.

Ketika membuka pintu kamarnya, Kevin sama sekali tidak menemukan Aretha. Harapannya hanya satu, kamar Aretha. Semoga saja Kevin bisa menemukan Sang pemilik kamar disana.

Kevin sungguh sangat khawatir dengan Aretha, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.

Pria tersebut menghela nafas sebentar, sebelum membuka pintu kamar Aretha dengan pelan tapi tidak melihat sosok yang dia cari sejak tadi.

Dia membuka ruangan yang ada dikamar Aretha satu per-satu, hanya tinggal kamat mandi yang belum Kevin periksa. Dia sama sekali tidak mendengar suara apapun, sebelum tangannya mendorong pintu tiba-tiba sudah lebih dahulu dibuka oleh seseorang.

Napas kevin tercekat melihat sosok perempuan didepannya hanya menggunakan tank top dan celana pendek. Bukan hanya Kevin tapi perempuan itu juga terdiam melihat pria yang tidak menggunakan baju hingga mengepost perut six pack nya. Kevin yang sempat merasa gerah mencari Aretha, membuka bajunya sebelum pergi ke kamar Aretha.

"Aaaaaaa!"

pekik perempuan tersebut tersadar, tangannya memukul Kevin dengan tempo cepat dan terus berteriak. Untung saja kamar Aretha sudah Kevin bikin kedap suara kalau tidak mungkin para pembantu dan penjaga akan segera datang.

Kevin memundurkan langkahnya hingga sampai didekat ranjang, karena tidak siap dengan serangan tiba-tiba. Enak kalau serangannya senjata, lah ini teriakan yang ada telinganya rusak kalau terus begini.

"Aretha!" geram Kevin, tapi Aretha masih tidak mau berhenti hingga Kevin memutuskan membalikan badan Aretha.

Aretha yang belum sama sekali siap, akhirnya dia terjatuh diatas kasur. Tangannya memegang erat tangan kanan Kevin, sehingga membuat pria itu ikut terjatuh tepat diatas aretha. Mulut mereka tidak sengaja saling bersentuhan.

Beberapa lama berdiam diri diposisi begitu. Badan Aretha hanya diam membeku tidak bisa berbuat apa-apa, dia seperti merasakan adanya sengatan listrik ditubuhnya.

Kevin hanya pria biasa, yang juga mempunya hasrat. Sungguh dia tidak sanggup menahan diri lagi ditambah dengan pakaian Aretha yang menggoda imannya.

Hingga tidak sadar, bibir yang semula hanya bersentuhan sekarang malah berganti ciuman. Aretha hanya diam, dia tidak tau sekarang harus berbuat apa. Aretha tidak naif, dia sering membaca novel maupun menonton Drakor, apa yang dilakukan pasangan saat seperti ini. Tetapi Aretha tidak menduga, dia akan secepat ini. Apalagi ini first kiss nya! Dia sungguh bingung.

Kevin yang tidak merasakan pergerakan seseorang, membuat dia tersadar tapi sekarang hasratnya sedang berada dipuncak. Ayolah Kevin pria normal!

Kevin sebisa mungkin menahan, sebelum mendapatkan izin dari yang punya tubuh. Dia berbisik serak ditelinga Aretha, "apa boleh aku meminta hak ku sekarang?"

Kevin yang tidak mendapatkan jawaban ataupun gerakan dari Aretha, menahan tubuhnya agar tidak jatuh menidih tubuh yang ada dibawahnya. Kevin tau keputusannya terlalu gegabah, apalagi Aretha yang masih sekolah. Untuk Kevin masih bisa menahan hasratnya, walaupun tidak dipungkiri dia kecewa.

"Tidak, jangan dipikirin ucapan yang tadi." Kevin mengecup pelan kening Aretha, dia segera berdiri, mengatur napasnya yang memburu.

Aretha yang tersadar dari pikirannya, segera memeluk Suaminya yang ingin berjalan kearah kamar mandi. Dia menggeleng pelan, "ya, Mas bisa memintanya sekarang." pipi Aretha terasa panas ketika berbicara seperti itu.

"Tidak! Kamu masih sekolah Aretha, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang tidurlah." Kevin berbicara lembut tapi terkesan tegas. Dia tidak ingin karena hasratnya sebagai pria, harus membuat Aretha mengambil resiko untuk kedepannya.

Aretha melepaskan pelukannya, dia terduduk dilantai yang telah diberikan karpet bulu. "Aku tau hal itu, Mas. Tapi aku juga tau, kewajibanku sebagai seorang Istri dan hakmu kepadaku. Aku tidak ingin menjadi seorang Istri yang tidak bisa berkhidmat dan berbakti kepada Suaminya." Aretha meneteskan air matanya, setelah menikah dia banyak membaca dibuku ataupun dimedia sosial tentang pernikahan.

Kevin menegang, mendengar ucapan dan isak tangis dari belakang. Arethanya menangis?

Dia membalikkan tubuhnya menghadap kearah Aretha, benar saja Istrinya itu menangis.

Kevin mensejajarkan tubuhnya dengan Aretha. "Jangan nangis, Mas gak suka lihat kamu nangis." pria itu menghapus air mata yang keluar dari sudut mata indah Istrinya, hatinya sakit melihat Aretha yang menangis. "Kamu tau Ar, resiko kedepannya, bukan?"

Aretha mengangguk, dia sudah tidak menangis lagi. Perempuan tersebut menghapus sisa air matanya, dia mengangguk tegas. "Aku tau! Tapi biarkan resiko kedepannya kita tanggung bersama-sama. Bukannya kamu suamiku, Mas?"

Kevin memandang Aretha, yang menatap dia penuh keyakinan dan ketegasan. "Tentu saja, aku suami mu!" dia menjeda kalimatnya, "... Tapi kamu yakin?" tanya Kevin untuk kesekian kalinya, dia tidak ingin mengambil keputusan yang kurang tepat nantinya.

Hah! Kevin menutup matanya sebentar, menarik nafas pelan melihat Aretha yang mengangguk tegas.

"Eh?" Aretha terkejut ketika tubuhnya digendong Kevin keatas kasur kembali. Kevin yang melihat keterkejutan Istri kecilnya itu terkekeh pelan. "Bukannya kamu yang mengizinkan dan memintanya tadi?" pipi Aretha memerah seperti kepiting rebus, tambah membuatnya terlihat menggemaskan dihadapan Kevin.

Kevin mencium lembut kening Aretha sambil membacakan sebuah doa. "Bismillah, allahuma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithana maarazaatanaa."

"Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang engkau anugerahkan kepada kami."

Setelah membacakan doa tersebut Aretha dan Kevin lebih merasa tenang. Malam masih panjang, hanya mereka yang mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin mulai malam ini, Aretha bukan lagi gadisnya tapi wanitanya, miliknya.

Archer |End|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang