"Kenapa?" Tanya Prisil, meletakan benda pipi yang berada ditangannya keatas meja, memandang kearah sahabatnya yang baru saja sampai dengan wajah penasaran.
Prisilia Kania, remaja cantik yang memiliki kulit putih, badan proporsional dengan tinggi semampai membuatnya terlihat lebih dewasa daripada teman-teman seumurannya.
"Kenapa juga datang-datang muka langsung ditekuk begitu?"
"Ngeselin banget tu orang, sumpah!" kesal Aretha Olivia Khanza. Gadis remaja dengan badan yang tidak begitu tinggi ditambah warna kulit khas indonesia -sawo matang- serta rambut hitam panjangnya membuat dia terlihat sangat cantik.
"Kami tau, lo lagi sebel kanjeng Retha. Maksudnya sebel karena apa?" Jelas Cici Arlita selembut mungkin menyembunyikan kegeramannya didalam hati. Gadis ini tidak lebih kalah cantik daripada teman-temannya yang lain hanya saja wajahnya ada beberapa jerawat daripada wajah Aretha yang mulus, walaupun begitu itu semua normal untuk seumuran mereka.
"Tadi saat gue lagi di perpus, mau pinjam buku tu karna tempatnya tinggi. Gue berusaha banget mau ngambil bukunya, tiba-tiba ada orang yang lebih dulu ngambil dari pada gue, terus ngasih buku sambil bilang ...."
"Terus gimana? Orangnya cowok apa cewek? Dia bilang apa?" Tanya Cici bertubi-tubi membuat kedua sahabatnya kompak menyonor kepalanya. 'kebiasaan banget deh.' batin Aretha dan Prisil.
"Woy cucunguk, kalau kanjeng Retha lagi cerita jangan dipotong-potong dong gak seru jadinya, kan." Kesal Prisil dengan apa yang dilakukannya.
"Sakit beurit! serah gue dong." Balas Cici tidak terima.
"Kalian berdua pada berisik deh, mau lanjut apa gak nih?" Sebal Aretha melihat kelakuan kedua sahabatnya tersebut.
"Sorry kanjeng Retha, terus dia bilang apa?" Tanya mereka bersamaan.
"Terus cowok tu bilang gini 'pendek'. Ya, gue otomatis kesal dong. Lagian juga gue tau kalau pendek, gak usah kasih tau juga. Mana lagi dia langsung pergi gitu aja, ish nyebelin banget sih. Sumpah!"
"Kanjeng Retha kan memang pendek." gumam Prisil dengan santai. Diantara mereka bertiga, Aretha memang yang lebih pendek, tapi paling waras diantara kedua sahabatnya yang lain.
"Bilang apa beurit?" Aretha menatap Prisil tajam, membuat yang ditatap kerabakan atas ucapannya sendiri. Kenapa juga Aretha bisa dengar ucapannya? Kan bisa berbahaya. Jangan mengasut Aretha dengan kata-kata 'pendek', karena bisa membuat singa didalam tubuhnya bangun.
"Eh, bukan gitu kanjeng Retha maksudnya itu ...."
Kalimat Prisil terpotong oleh perkataan Cici. "kanjeng Retha, lo tau gak katanya pak Yoga akan melanjutkan studi nya di Amerika serikat".
"serius cucunguk!" Pekik Aretha terkejut, Cici mengangguk membenarkan. Tidak sama sekali terkejut dengan tindakan yang dilakukan sahabatnya tersebut.
"Hore, akhirnya gue bisa bebas juga dari pelajaran olahraga!" Sekali lagi Aretha memeki bahagia, membuat murid yang ada didalam kelas menoleh kearah mereka bertiga.
"Tapi ...."
"Tapi apa?" tanya Aretha tidak sabaran. 'Kenapa juga harus setengah-setengah kasih info sih, bikin orang penasaran aja. Astagfirullah untung gak mati penasaran.' batinnya kesal.
"Selama pak Yoga di Amerika Serikat akan diganti oleh guru baru yang gak kalah ganteng lho masih muda juga, gue jadi gak sabar mau belajar sama guru baru." ucap Cici mendramatis membuat Aretha dan prisil berdecak kesal.
"Lo ya, soal cowok ganteng aja gak bisa banget gak absen." Tiba-tiba seorang cowok duduk disamping Cici, memasuki kedua tangannya kedalam kantong celana sekolahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Archer |End|
RomanceAretha Olivia Khanza, adalah seorang gadis manis yang selalu ceria. Kehidupannya penuh dengan canda tawa. Namun,semua itu hanya ia jadikan tameng untuk menutupi masa lalunya yang kelam. Hidupnya baik-baik saja, sampai suatu hari ada orang asing yang...
