| 21

3.9K 409 46
                                        

"Sudah berapa kali ku katakan, dia tidak kemari, Kook." Hoseok menghela napas menghadapi bocah jelmaan kelinci di hadapannya. Bertanya hal yang sama, lalu dibalas dengan jawaban yang sama pula. Siklusnya benar-benar seperti itu sedari tadi.

"Benarkah, Hyung?" Alis Jungkook memicing. Menatap penuh selidik pada orang di hadapannya, terkesan curiga.

"Hei, kau tidak percaya padaku?" Suara Hoseok terdengar meninggi. Ia hanya terkejut, tentang bagaimana bocah ini bisa mencurigainya.

"Tidak, hanya saja a-aku ... "

Melihat apa yang terjadi pada bocah itu, Hoseok menghela napasnya. Ia tidak mau emosi dan menambah situasi menjadi semakin runyam. Berakhir dengan ia berdiri, menepuk bahu bocah yang hampir menangis di depannya.

"Aku memang tidak tahu di mana Yoongi, tapi jika kubantu mencarinya, tidak apa, bukan?"

***

Seokjin membenturkan kepalanya pada kemudi. Sudah beberapa jam sejak ia bertekad untuk mencari di mana sang Adik, tapi hasilnya nol besar. Seokjin tak mendapatkan apapun selain perkataan Ibu Panti yang sukses membuat pikirannya semakin buyar.

"Yoongi? Ia memang kemari tadi, tapi hanya sebentar. Sekadar menyapa dan bermain dengan anak-anak lainnya lalu pergi. Memang ada apa?"

Mengingatnya, membuat Seokjin ingin mengubur diri dalam-dalam saja rasanya. Lalu menutup mata dan telinga, berpura-pura tak tahu menahu tentang permasalahan yang tengah ia hadapi. Lelaki dewasa itu mengerang pelan lalu mengangkat kepalanya dari kemudi mobil. Mau bagaimanapun, ia harus menemukan Yoongi dan membuang jauh pikiran tentang mengubur diri.

***


21.10


"Terimakasih, Paman. Yoongi akan datang besok pagi," Yoongi berujar sembari membungkuk sopan. Bibirnya terus mengucap banyak kata 'terima kasih' pada lelaki di depannya.

"Hm, dan kau harus pulang sekarang, Nak. Istirahatlah, mata panda tidak cocok denganmu," si Lelaki berucap dengan tawa kecil di akhir kalimat. Yoongi mengangguk patuh. Anak itu membungkuk sekali lagi sebelum berjalan menjauh. 

Beruntungnya ia dipertemukan dengan lelaki pemilik toko tadi. Berawal dari membantu mengangkat barang dagangan, hingga sang pemilik toko menawarkan pekerjaan, yang tentu saja disambut dengan senang hati.

Pemilik toko berkata bahwa ia tidak bisa memberi upah yang besar, mengingat toko miliknya bukanlah toko besar berisi barang lengkap seperti minimarket ataupun supermarket. Tapi Yoongi tak masalah akan hal itu. Yang terpenting baginya adalah bisa membayar sewa rumah dan mencukupi biaya makan sehari-hari. Jikapun uang yang ia dapatkan kurang, Yoongi bisa menambah pekerjaan ditempat lain, bukan?

Mengeratkan jaket pada tubuh, Yoongi memacu kedua kakinya agar berjalan lebih cepat. Udara sangat dingin mengingat waktu yang telah larut. Remaja itu menghela napas lega saat kedua kakinya memijak lantai rumah sewaan. Memasukkan kunci kedalam lubang, dan segera masuk setelah pintu terbuka.

***

09.15

Taehyung mendengus tak suka melihat kedua saudaranya sibuk dengan ponsel masing-masing. Mendial nomor, mengucapkan terima kasih, lalu menutup telepon. Hanya seperti itu sejak tadi. Taehyung jengah, sungguh.

"Jin Hyung, Jungkook-ah, tidak bisakah kalian berhenti bermain ponsel? Melihatnya sedari tadi benar-benar membuatku jengah," ujarnya menyuarakan protes. Seokjin menoleh, berbeda dengan Jungkook yang masih sibuk dengan ponsel. Anak itu menghubungi Hoseok sebenarnya. Hendak menanyakan kapan Hoseok datang dan mereka berangkat mencari Yoongi.

"Kau tidak suka? Kalau begitu jangan melihat."

Taehyung mengernyit tak suka saat Seokjin membalas ucapannya. Nada bicaranya terdengar ketus sekali. "Memang ada apa Hyung? kelihatannya penting sekali, sampai kalian tidak bisa mengalihkan perhatian dari ponsel," Taehyung kembali berujar. Sedikit mencibir sebenarnya.

"Hm, memang penting." Kali ini Jungkook membalas seadanya, sebelum berdiri dari duduknya dan menghampiri Seokjin yang duduk di dekat ranjang rumah sakit.

"Jin Hyung, aku pergi dulu, Hoseok Hyung sudah menunggu di depan," pamitnya lalu melangkah keluar ruangan. Seokjin mengangguk kecil.

"Jungkook pergi kemana, Hyung?" tanya Taehyung. Seokjin memilih mengangkat bahu. "Tidak tahu," jawabnya, dan maaf karena ia memilih untuk berbohong kali ini.

***

"Hyung, kita akan kemana, memang?" Jungkook bertanya setelah memasang sabuk pengamannya. Kedua mata bulatnya menatap Hoseok yang sibuk berpikir.

"Sebenarnya ... aku juga tidak tahu," Hoseok menjawab ragu dengan cengiran canggung. Jungkook berdecak kecil. Kepalanya ia sandarkan pada jok mobil.

"Memang Yoongi tidak memberi tahu kemana ia pergi?" Hoseok bertanya. Jungkook mendengus malas, merutuki kebodohan kuda di sampingnya. "Kalau Yoongi Hyung memberi tahu, aku tidak akan repot-repot memintamu untuk membantu, Hyung!" serunya malas. Hoseok menggaruk tengkuk, lantas mengangkat bahu.

"Ya siapa tahu, 'kan?"

.

.

.

"Kita sudah berkeliling kota sedari tadi, Kook. Matahari hampir tenggelam." Jungkook menggeleng, teguh pada pendiriannya. Matanya sibuk memandang kiri-kanan, meneliti rumah- per-rumah yang tercakup oleh indera pelihatnya. 

"Sebentar lagi Hyung," tolaknya. Hoseok menghela napas, lantas menepi dan menghentikan laju mobilnya.

"Dengar, kita sudah mencari sedari siang tadi tanpa secuil pun hasil yang didapat. Lagipula, ini hampir malam. Kau pasti sudah lelah," jelasnya. Jungkook menunduk. "T-tapi, aku hanya ingin menemukan Yoongi Hyung," lirihnya. Hoseok mengangguk. Ia paham.

"Aku tahu, dan aku paham, Kook. Tujuan kita sama, tapi hari hampir malam, dan kau harus istirahat. Ingat juga jika kau masih harus sekolah besok," ujarnya, "lagipula, kenapa tidak lapor pada polisi saja, sih?" lanjut si kuda. Jungkook menggeleng kecil.

"Seokjin Hyung tidak mau," tuturnya. Helaan napas lolos dari bibir Hoseok. 

"Sekarang kita pulang, oke?" tanyanya. Kali ini, dengan berat hati Jungkook mengangguk.

"Jangan pasang wajah seperti itu, Kook. Benar-benar tidak enak dipandang."

Jungkook menoleh. Menatap sengit Hoseok yang sibuk dengan setir dan jalanan. Bibirnya mengerucut menyuarakan cibiran yang tertuju pada si manusia kuda.

"Besok kau pulang pukul berapa?" tanya Hoseok.

"Tiga," Jungkook menjawab singkat. Hoseok tersenyum kecil. "Kujemput, makan es krim, lalu kembali mencari, bagaimana?" tawarnya. Jungkook menoleh semangat.

"Wah! ditraktir 'kan, Hyung??" serunya dengan manik berbinar. Helaan napas terdengar sebelum anggukan pasrah terlihat.

"Iya ...."






TBC

Truth: REVEALED ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang