"Kenapa baru bilang sekarang?"
👊👊👊
"Kak Caca!!!" seru seorang gadis memanggil nama ku. Refleks aku menoleh ke asal suara itu. Dia mendekat ke arah ku dengan senyuman yang belum juga lepas dari wajahnya.
"Nama Kakak, beneran Kak Felica kan?" tanyanya.
"Iya, lo siapa?" tentu saja aku balik bertanya, karena aku juga nggak kenal dia.
"Kenalin, gua Fini anggraini, Adik kelas Kakak." dia memperkenalkan diri dengan tatapan polos, dan juga senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
"Ada perlu apa manggil gue?" tanyaku tanpa basa basi. Dia terdiam sesaat, tanpa mengucapkan kata apapun. Cewek berambut ikal ini malah menarik lengan ku. Aku bingung sekaligus penasaran, dia aneh. Berhubung diriku agak sedikit 'KEPO' yaudah, ikut aja maunya dia kemana. Gak lama, kita pun sampai di tempat yang sangat familiar. Dan aku di persilahkan untuk duduk di sebuah bangku itu.
"Nah, Kakak tunggu disini ya. Gua mau beli minum sebentar..."
Tanpa menunggu jawaban dari ku, dia sudah lebih dulu pergi, sekarang tinggal aku sendirian di tempat ini. Saat asyik memandangi keadaan sekitar dengan perasaan bingung dan sedikit khawatir. Tiba-tiba saja, sepasang remaja tengah berjalan tak jauh dari tempat ku duduk. Aku tau siapa cowok yang tengah bercanda dengan cewek di sebelahnya itu.
Antara harus kesal atau senang, karena pada akhirnya dia sudah mendapatkan orang yang lebih baik daripada diriku. Dan aku yakin, setelah ini dia nggak akan ganggu kehidupanku lagi. Itu logika ku. Tapi pendapat hatiku agak berbeda, ia mendadak ngilu dan sakit. Aku masih yakin kalau ini bukan tentang cemburu dan mulai jatuh hati. Karena pada kenyataanya, memang itu kan. Kelakuan asli dari seorang Alvaro? Yang hobby nya gonta-ganti cewek.
"Nih buat Kakak, yang dingin biar nggak panas." katanya, yang tiba-tiba datang menempelkan kaleng minuman ber soda dingin di pipi ku. Aku sedikit terkejut refleks mengambil minuman itu, dan menjauhkan nya dari area wajahku.
"Maksud lo apa?" tanya ku sedikit skeptis.
"Semua orang juga tau kali kak, sama hubungan kalian berdua. Lagipula, kenapa muka kakak harus kesel ngeliat mereka berdua?"
Aku sedikit terbelalak mendengar ucapannya. Tidak ku jawab pertanyaan gadis itu, dan cepat-cepat membuka tutup kaleng, meminum isinya dengan gugup. Aku yakin, Fini pasti memperhatikan tingkah ku.
"Pelan-pelan kak. Awas keselek loh..." geez... perkiraannya benar.
"Lo bawa gue kesini, tujuan sebenarnya apa sih?" tentu saja, aku mengalihkan segalanya. Dan mencari tau maksud gadis di sebelah ku.
"Banyak tau, hal yang pengen gua ceritain ke Kakak." katanya.
"Sekarang bukan waktu yang pas, bentar lagi bel istirahat bunyi. Ini di belakang gedung, dan kelas gue jauh di lantai tiga." aku berusaha menahan, yah meskipun rasa penasaran ku semakin bertambah. Aku melihat raut wajahnya mulai berubah datar.
"Gini aja. Gimana kalau nanti, pulang sekolah lo tunggu gue di halte. Nanti kita pulang bareng, sekalian lo cerita apa yang mau lo ceritain ke gue. Oke?" aku mencoba memberikan pengertian padanya. Cukup lama gadis itu terdiam, sampai akhirnya ia pun tersenyum sambil mengangguk cepat.
"Oke!"
Lalu dia pun berlalu begitu saja tanpa pamit, dasar nggak sopan. Aku pun beranjak pergi meninggalkan tempat ini, sebelum aku berbalik. Aku sempat melihat ke arah dua sejoli tadi. Ternyata tanpa ku sadari, mereka sudah lebih dulu pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvaro
Teen Fiction"Alah! Lo di depan dia aja nggak berani. Apa perlu biar gue yang jadi wakil, dan bilang ke Caca kaya gini. 'Ca, boleh nggak Alvaro bilang. Caca aku rindu.' cuih! najis Ro." Alvaro mendadak sakit hati mendengar ucapan Iyok. Namun dia berusaha untuk t...
