Lo boleh kok curhat ke gue kapan aja.
Gue nggak akan bosan, walaupun dalam hati terasa jengkel.
🌟🌟🌟🌟
"Kenalin, Gue Farel. Farel Dimansyah." Caca mengulurkan tangannya.
"Felica audryana, panggil aja gue Caca."
"Hmmm, Gue... boleh duduk di sini? Di sebelah lo?"
"Hah? Eh, oh boleh kok, silahkan aja."
Gadis itu sedikit menggeser duduknya. Memberikan jeda jarak agar dia tidak merasa terlalu canggung. Cowok bernama Farel itu, hanya bisa tersenyum. Memaklumi tindakan Caca.
"Bay the way, lo ngapain di sini?" Farel bertanya pada Caca.
"Hm? Gue? Eum... cuma pengen aja duduk disini. Soalnya asik, bisa sendirian sambil tenangin hati." gadis itu berkata jujur. Dan karena Dia juga bukan tipikal orang yang suka basa basi. Sangat to the point sekali.
"Lo sendirian, nggak takut?"
"Hah? Takut? Takut kenapa? Ada hantu? Hahaha, siang bolong gini nggak perlu takut kali. Udah biasa juga."
"Ya... gue kan cuma tanya. Kali aja saat lo sendirian kayak tadi, emangnya ga takut kalau ada orang jahat yang lagi ngintipin lo gitu?"
"Gue hajar lah!"
Keduanya tertawa.
"Tapi nggak logis sih, mana ada orang jahat di sekitar sekolah?" Caca sedikit menahan tawanya, ketika menyadari kebodohan Farel.
"Eh iya ya?"
"Iyalah, ada-ada aja. Hahaha..."
Cukup lama Caca tertawa, sampai akhirnya dia merasa penasaran dengan datang nya Farel ke tempat ini.
"Lah elo sendiri? Lo ngapain di sini?" Caca seketika bertanya. Lalu cowok itu menghentikan tawanya dan menoleh ke arah Caca sambil tersenyum. Namun hal itu tidak membuat seorang Caca menjadi salah tingkah atau merasa malu. Justru ia sangat antusias menunggu jawaban dari cowok itu.
"Bolos." Farel membalasnya dengan singkat
"Hah? Bolos?" Caca sedikit kurang percaya pada perkataan nya.
"Iya. Soalnya gue lagi males ikutin pelajaran bahasa. Selain gurunya yang killer, tau nggak? Waktu dengerin ceramahannya di kelas itu, bikin ngantuk. Daripada nanti malah tidur terus kena marah kan, mending gue bolos aja sekalian."
Caca menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah ucapan itu, mereka pun saling terdiam. Tidak ada kata. Hanya terdengar suara desis angin dan kicauan burung. Caca menatap ke arah langit, hari ini dia merasa alam tak adil. Mengapa cuaca begitu cerah di saat hatinya mendung.
"Ehem..." Caca menoleh ke arah Farel.
"Ehm, em... lo, lo sering kesini?" Farel bertanya sedikit gugub.
"Enggak sih, cuma kalau lagi bete aja gue kesini. Bisanya sih, gue suka nongkrong sambil liatin anak cowok main bola dari sini, bareng temen-temen gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvaro
Novela Juvenil"Alah! Lo di depan dia aja nggak berani. Apa perlu biar gue yang jadi wakil, dan bilang ke Caca kaya gini. 'Ca, boleh nggak Alvaro bilang. Caca aku rindu.' cuih! najis Ro." Alvaro mendadak sakit hati mendengar ucapan Iyok. Namun dia berusaha untuk t...
