Nama gue Alvaro Mahesa.
Gue adalah seorang cowok dengan tampang yang lumayan oke. Gue punya tiga orang sahabat yang selalu ada di dekat gue.
Sejujurnya, gue cukup populer di kalangan remaja cewek di sekolah. Mulai dari adik kelas, sampai kakak kelas pun tau siapa gue. Banyak yang mengejar gue, tapi cuma untuk popularitas doang. Bahkan pernah, ada satu gank cewek yang coba mempertaruhkan gue. Mega, dia cewek yang sengaja gue permainkan. Dan itu bukan salah gue, dia yang memulai semuanya. Gue nggak menerima dia sebagai pacar, tapi gue membuat dia seolah-olah gue memberi harapan lebih padanya. Walau pada akhirnya gue mencampakkan dia. Tadinya, gue berfikir kalau Mega akan berhenti mengusik dan menjauhi gue. Tapi ternyata dia semakin mengganggu. Gue mencoba cuek dan tidak memperdulikan dia, dan gue berfokus pada seorang gadis yang amat gue dambakan. Dan untuk kasus nya Arletta atau Sani. Mereka yang membantu gue, membuat Alibi. Gue bersyukur mereka nggak pernah keceplosan soal rahasia kita.
Awalnya gue cuma bisa mengaguminya dari jarak jauh. Tapi semakin lama, gue mencoba memberanikan diri untuk mencoba dekat dengan dia. Yah, walaupun nggak semudah yang gue fikirkan. Gue harus punya banyak akal supaya bagaimana gue bisa dekat dengan dia walaupun itu harus melibatkan sahabat-sahabatnya. Mungkin agak keterlaluan. Yah... yang namanya juga berusaha, cara apapun akan terasa halal.
Awal gue tau Felica adalah...
Saat pertama kali MOS, gue melihat sosok dia yang cantik tapi tomboy. Bisa di bilang, itulah saat pertama kali gue jatuh hati sama karakter nya. Gue memang nggak menyapa dia secara langsung, gue cuma bisa mengagumi dia dalam diam selama masa MOS itu. Sampai saat gue tau kalau kita satu kelas, gue mulai ada nyali untuk jailin dia, Dari mulai bikin dia kesel dan sebagainya. Dan untuk image buruk gue, itu berawal dari gue yang emang, caper sama Caca.
Gue memang populer, tapi gue gak pernah memacari siapapun. Kecuali Mega, tapi dia juga bukan pacar gue. Dia cuma sebatas gue beri harapan palsu aja. Sampai akhirnya di saat kenaikan kelas, gue dan Caca beda kelas. Karena gue terlalu pintar dan otak Caca biasa aja. Tapi jarak kelas gue dan dia ga jauh, cuma lewatin satu kelas lagi, nyampe di kelas Caca.
Dari sini, gue semakin gak mau kehilangan dia. Gue mulai berani lebih jahil lagi untuk dapat perhatian lebih dari Caca. Meskipun cara yang gue lakukan itu salah.
Dan sampai akhirnya upaya gue berhasil, dapat perhatian nya. Yah meskipun kesan pertama setelah kejahilan paling parah itu, harus berakhir dengan sudut bibir yang robek karena kepalan tangannya yang meninju pipi gue. Bukannya takut, justru gue malah semakin kagum dan terus berusaha mendekati dia. Meskipun responnya selalu acuh dan menyebalkan. Tapi gue yakin, dia pasti akan luluh.
Gue selalu banyak cara untuk menakhlukan salah satu makhluk Tuhan yang unik bernama Felica Audryana. Atau biasa di sapa Caca ini. Dari mulai gombalan, cilok surat, bahkan bunga, atau sekedar perhatian-perhatian kecil lain nya. Dan yah... seperti yang kalian tau, bahwa tidak mudah menakhlukan gadis pujaan. Setiap bertemu, selalu wajah jutek dan garang yang dia tunjukkan ke gue.
Terlepas dari itu. Setelah sekian lama, akhirnya gue berani mengutarakan isi hati gue padanya. Meskipun tidak seindah yang gue pikirkan. Tetapi, setidaknya gue merasa lega karena dia tau perasaan gue padanya. Tapi hal itu juga, membuat kami semakin jauh. Dia lebih sering menyendiri atau dekat dengan seorang cowok yang gue tau. Dia adalah anak kelas 3 yang ternyata naksir dengan Caca. Tapi gue gak yakin, karena cowok itu juga dekat sama cewek yang gue kenal. Namanya Siska. Caca dan cowok itu, Mereka lumayan dekat, sering pulang bersama sewaktu Caca tidak di jemput Papanya. Gue lumayan cemburu melihat kedekatan mereka. Tapi gue punya cara lain untuk mendapatkan kembali hati Caca.
Terlepas dari itu semua. Gue mengerti bahwa jalan rencana tidak selalu mulus. Ada saja yang ingin menghancurkan rencana gue. Termasuk Siska, seorang cewek dengan dua peran. Yang selalu mencari perhatian di depan gue. Gue tau, dia juga menyukai gue. Dan gue cukup paham dengan hal itu, tapi gue tidak ingin ber urusan dengannya. Biarlah semau nya sendiri, dan gue tidak akan Perduli. Karena gue tidak tertarik dengan wanita seperti itu. Yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri.
Kali ini gue mencoba melibatkan salah satu adik kelas. Yang harus kalian tau, dia adalah adik Iyok. Alasan gue memilih dia untuk membantu gue adalah. Dia cukup tau dan lumayan pintar dalam segala hal termasuk urusan Cinta. Gue menjelaskan segala nya kepada Fini. Untungnya dia mengerti dan menjalankan rencananya dengan baik. Tapi gue belum tau apa yang akan terjadi setelah ini. Entah Caca akan menerima gue, atau malah semakin menjauhi gue tanpa alasan.
Semoga saja, kali ini berhasil. Karena gue terlalu mencintai Caca dan tidak akan membiarkan siapapun memiliki dia. Yah, walaupun nantinya dia tidak akan jadi milik gue. Gue akan berusaha melupakannya walaupun itu berat.
✌✌✌
Sebentar lagi cerita ini bakalan tamat.
Dan aku mau mengucapkan terimakasih kepada para pembaca yang masih setia menunggu cerita absurd ini.
Dan sekali lagi.
Aku sangat sangat berterimakasih...
Sampai jumpa di part berikutnya.
See u
#Eliscamisca.f
#28/02/2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvaro
Novela Juvenil"Alah! Lo di depan dia aja nggak berani. Apa perlu biar gue yang jadi wakil, dan bilang ke Caca kaya gini. 'Ca, boleh nggak Alvaro bilang. Caca aku rindu.' cuih! najis Ro." Alvaro mendadak sakit hati mendengar ucapan Iyok. Namun dia berusaha untuk t...
