"Tapi gue yakin. Lo nggak akan betah cuek lama-lama ke gue."
💝💝💝
Setelah kejadian kemarin. Caca mulai menyadari perasaanya. Dia mulai merasa bahwa terlalu kejam, kalau terus membuat Alvaro menderita. Hanya karena sebuah pembuktian cinta yang Caca sendiri tahu. Kalau Alvaro memang benar-benar mencintai dirinya. Se-sulit apapun tantangan yang dia berikan untuk Alvaro, tidak akan pernah merubah apapun. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan Fini.
"Ca, kantin yuk!" Letta mengajak Caca.
"Lo nggak laper tah?" tanya Sani.
"Sebentar friends, gue masukkin buku gue dulu ke tas." ucap Caca sedikit terburu.
"Btw, gue perhatiin. Tadi, selama di kelas lo ngelamun terus ada apa?" tanya Alissa pada Caca.
"Hah? Masa sih gue ngelamun?" Caca mengelak dan berjalan lebih cepat meninggalkan ketiga sahabatnya. Mereka bertiga pun sedikit bingung dengan tingkah Caca yang agak aneh. Namun mereka mencoba untuk berfikir positif dan mengejar gadis itu. Sesampainya di kantin, Caca duduk bersama Sani, sementara Arletta dan Alissa. Mereka berdua memesan makanan.
"Gue mau lo jujur. Sebenernya, ada apa? Gue penasaran sama sikap lo yang sedikit aneh akhir-akhir ini." Caca menghela nafas, dia mengerti. Sahabat nya yang sangat peka itu. Pasti akan menanyakan sesuatu perihal sikap nya yang berubah.
"Kemarin Fini jelasin semuanya ke gue, soal Alvaro."
"Maksud lo?"
"Nanti gue jelasin di rumah. Oh iya, besok kan hari minggu. Seperti biasa, soalnya bunga di rumah gue udah mulai layu." Sani menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tak lama, kedua temannya datang membawakan pesanan mereka masing-masing.
"Hus... ada cogan cuy..." bisik Arletta pada ketiga temannya. Alissa, Sani, dan Caca pun menoleh ke arah yang di tunjuk Letta. Terlihat, disana ada Alvaro, Bian, Diva, Dan Juga Iyok. Tidak lupa, di belakang mereka ada seorang cowok yang sangat Caca kenal. Dia Farel, siswa ganteng itu berjalan sendirian, Caca tersenyum padanya.
"Alvaro kenapa dah? Biasanya doi genit, kok sekarang mukanya jutek banget..." ucap Arletta sedikit penasaran.
"Lagi pusing kali doi." balas Sani santai sambil melahap pentolan kecil kedalam mulutnya.
"Atau lagi migrain?" seru Alissa dengan suara imutnya.
"ALISSA!!!" tegur ketiga sahabat Alissa. Gadis itu hanya menyengir bodoh sambil mengacungkan tanda pis (✌) .
"Udah... gue mau nyamperin Alvaro dulu."
"Uhuk!" Arletta tersedak. Sani santai menikmati makanannya, dan Alissa juga sangat menikmati minumannya. Jadi Caca pergi tanpa menyentuh makanannya. Meninggalkan para sahabat menuju ke tempat di mana seorang yang di cari nya berada. Setelah cukup jauh Caca berjalan, Arletta menyikut lengan Sani.
"Gue nggak salah denger kan San?" tanyanya seperti orang bego.
"Enggak," balas Sani santai.
"Mereka jadian?"
"Mana gue tau..." sahu Sani cuek sambil mengangkat bahu.
"Aish! Sani..." ucap Arletta, gemas dengan respon Sani padanya.
"Udah lagi Ta, nanti juga lo bakalan tau sama apa yang terjadi di antara mereka berdua." Arletta hanya bisa terdiam mendengar perkataan Sani. Dia kembali menikmati makanannya. Tapi dengan rasa penasaran yang mengganggu fikirannya.
"Baksonya buat gue yah?" Alissa permisi mengambil semangkuk bakso yang belum tersentuh oleh pemiliknya. Sani yang melihat tingkah unik Alissa hanya bisa tersenyum.
Sedangkan di tempat Caca berada. Dia menarik tangan Alvaro dan membawa cowok itu pergi dari kantin. menuju ke tempat yang lebih nyaman untuk mereka berdua berbicara. Sedangkan tak jauh dari sana, ada empat pasang mata yang menatap dengan pandangan tak suka. Cemburu? Sepertinya begitu. Siapa lagi kalau bukan Siska dan Farel.
"Ca lo mau bawa gue kemanasih!" Pekik Alvaro, sedikit merintih karena genggaman tangan Caca di tangan nya sangat kuat.
"Ada hal penting yang mau gue omongin ke Lo." ucap Caca agak memaksa.
Alvaro pun hanya pasrah mengikuti kemana gadis itu akan membawanya. Dan ternyata, Caca membawanya ke rooftop sekolah. Caca mengunci pintu agar tidak ada siapapun yang mengganggu. Alvaro memijit tangannya yang agak kram. Caca menyuruh cowok itu duduk di sebelahnya. Dia hanya menurut saja, dan tidak berbicara atau pun melawan.
"Varo!" seru Caca memanggil namanya.
"Gausah teriak-teriak Ca, Gue denger." balas Alvaro dengan nada lembut. Tanpa menoleh ke arah Caca.
"Huft... gue cuma mau bilang---" ucapannya terhenti. Namun Alvaro tidak menoleh sama sekali ke arahnya. Dan hal itu membuat Caca kesal. Dia pun menangkup wajah Alvaro untuk menatap wajahnya. Alvaro hanya menunjukkan ekspresi datarnya di depan mata Caca. Ia mencoba tenang, meskipun jantungnya sudah menari-nari di dalam sana.
"Makasih!" ucap Caca tegas, kemudian melepaskan tangan nya dari wajah Varo dan berdiri hendak meninggalkan tempat itu. Namun Varo menarik pergelangan tangannya.
"Sama-sama." balas Alvaro, ia berdiri lalu meninggalkan Caca yang masih terdiam di tempatnya. Ia memperhatikan kepergian Alvaro dengan wajah bingung sekaligus agak terkejut. Namun saat sosok itu sudah menghilang dari pengelihatannya.
"Dia barusan bilang apa?"
"Hah?"
"Sama-sama?" ucapnya dalam hati.
Caca pun mernertawakan hal yang menurutnya tidak lucu. Dia mengepalkan kedua tangannya hingga memutih. Sudah dipastikan kalau dia sangat marah dengan perlakuan Alvaro tadi pada nya.
"Hahah, sialan!"
"Lo mau jutekin gue? Hahahaha nggak lucu sumpah!" dia berbicara pada angin.
"Tenang Caca..." katanya pada diri sendiri sambil mengusap dadanya, Menahan emosi.
"Ah! Gue gaperduli Ro! Terserah lo mau marah sama gue terserah!!! Tapi gue yakin, lo nggak akan betah cuek lama-lama ke gue
Ingat itu!"
Caca pun bergegas meninggalkan tempat itu. Dia berjalan dengan perasaan kesal sekaligus bingung.
⚡⚡⚡
#Eliscamisca.f
#29/02/2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvaro
Novela Juvenil"Alah! Lo di depan dia aja nggak berani. Apa perlu biar gue yang jadi wakil, dan bilang ke Caca kaya gini. 'Ca, boleh nggak Alvaro bilang. Caca aku rindu.' cuih! najis Ro." Alvaro mendadak sakit hati mendengar ucapan Iyok. Namun dia berusaha untuk t...
