Sebelum kalian masuk ke cerita,
Izinkan saya untuk memberitahukan sedikit bahwa pada bagian ini.
Tertulis khusus untuk Siska dan Farel. Karena..
Ya, author pengen aja gitu cerita wkwkwk...
Anyway...
Sebelum itu, jangan lupa ya tekan tombol bintang di bawah, dan berikan komentar kalian tentang part kali ini ya...
Selamat mebaca...
👇👇
"Kenapa sih, move on itu susah banget!" gadis berkacamata dengan rambut berkepang dua itu tengah menggerutu. Ia duduk sambil kakinya ia ayun-ayunkan, pandangannya menatap lurus ke arah jalanan yang ada di depannya.
"Mangkanya, kalau suka jangan berlebihan. Sakit kan?" seorang pria duduk di sebelah dan menyodorkan salah satu minuman itu kepadanya.
"Thanks."
Mereka sama-sama membuka penutup kaleng minuman dan meneguknya. Kembali menatap jalanan yang begitu padat dari atas jembatan. Langit lumayan mendung malam ini. Tidak terlihat bintang di sana, dan mereka berdua menghela nafas bersamaan.
"Eh," seru keduanya sambil saling pandang.
"Ahahaha, muka lo lucu Rel..." gadis itu tertawa begitu lepas. Dan pria yang di panggil 'Rel' itu, hanya tersenyum tipis.
"Makasih ya..." ia berucap saat tawanya terhenti.
"Untuk?" tanya pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan sana.
"Makasih, untuk semuanya." barulah kemudian ia menatap gadis itu dengan tatapan bingung.
"Lo udah bantuin gue, masi tetap di samping gue meskipun nyebelin, bahkan lo masih setia sama gue, padahal kan gue udah ngecewain lo berkali-kali."
Cowok itu terkekeh, "Lo ingat Ka, gue kan udah pernah bilang. Mau sejauh apapun lo pergi, sesibuk apapun lo mengejar yang lain, gue akan tetap berada di samping lo. Entah lo sayang atau nggak sama gue, intinya gue nggak akan pernah ninggalin lo." ia menarik nafas pelan. "Karna bagi gue,-"
"Kalau jodoh, pasti akan kembali." gadis itu memotong ucapannya.
"Nah!" seru pria itu membenarkan.
"Tau nggak sih Rel, lo jadi ngingetin gue ke masa-masa SMP dulu."
"Hah? Masa? Memangnya waktu itu lo kenapa?"
Gadis itu menempelkan dagunya di antara pagar besi berukuran kecil. Matanya sembari menatap lurus ke arah jalanan. "Gue inget waktu pertama kali kita kenal."
*Flashback*
"Hei, anak barunya jelek banget. Hahahaha." seru salah satu murid laki-laki dengan tubuh kecil, tengah mengejek gadis berkacamata dan gendut.
"Iya, udah jelek, hitam, dekil, kampungan lagi, hahahaha..." akibat dari ejekan itu.
Gadis yang tengah duduk di bangku itu segera menutup wajahnya dengan buku karena malu. Sungguh ia sangat sedih mendengar ejekan dari teman-temannya. Gadis itu menangis, sampai sesegukan.
Namun, saat di tengah tangis nya yang hampir tak bersuara. Datanglah seorang anak laki-laki lain yang berteriak kepada si pengejek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvaro
Ficção Adolescente"Alah! Lo di depan dia aja nggak berani. Apa perlu biar gue yang jadi wakil, dan bilang ke Caca kaya gini. 'Ca, boleh nggak Alvaro bilang. Caca aku rindu.' cuih! najis Ro." Alvaro mendadak sakit hati mendengar ucapan Iyok. Namun dia berusaha untuk t...
