Kenalin, gue...
****
"Lo kenapa Boy?" Diva, sedikit penasaran dengan kedatangan Varo, yang memasang wajah lesu.
"Bay-boy-bay-boy! Lu kata gue Boymin apa?!" tegas Alvaro, merasa tak terima di panggil dengan sebutan 'itu'.
"Uwidih, santai dong Ro. Lo abis diapain sampai muka lo kusut begitu? Udah macam lap bekas aja."
"Nyesel gue."
Diva tertawa ngakak.
"Di tolak lagi sama mak lampir? Atau di aniaya? Hahaha..."
Namun Alvaro hanya terdiam. Dia meraih hand wrap dan menggubat kan ke tangan. Kemudian mulai mengambil ancang-ancang untuk memukul samsak yang ada di hadapannya. Varo cukup merasa beruntung karena ruang olahraga di sekolahnya memiliki alat seperti ini. Jadi dia bisa dengan mudah meluapkan amarahnya kepada benda itu daripada hal lain.
Sedangkan Diva, ia menghentikan tawa dan menatap heran ke arah sahabatnya. Diva memahami, kalau Alvaro sudah memberikan reaksi seperti itu. Pasti ada sesuatu yang sangat membuat Varo marah, sampai harus melampiaskannya dengan cara seperti itu.
Di sisi lain...
Gadis yang barusan mendengar pernyataan cinta dari musuhnya. Masih tetap berada di posisi yang sama, menyembunyikan wajahnya sambil Mengupatkan kata - kata kasar dengan suara sangat kecil (seolah Menggumam). Sedangkan saat kedua sahabatnya baru saja sampai di dalam kelas, melihat Caca seperti itu. Mereka langsung menatap ke arah gadis berambut pendek yang duduk di sebelah Felica dan bertanya 'Caca kenapa?' Tanpa suara.
Sani hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
"Gue jadi khawatir, jangan-jangan dia abis di apa-apain lagi sama Alvaro. " ucap Alissa kepada kedua temannya dengan suara pelan.
"Eh gue denger ya!"
Alissa dan Arletta pun mundur perlahan. Agak ngeri karena ucapan Caca yang sedikit meninggi. Tapi setelah mengucapkan kata-kata itu. Caca berdiri, mengusap wajahnya secara kasar dengan kedua telapak tangan. Memandang ketiga sahabatnya sesaat lalu kemudian pergi tanpa berbicara.
Setelah kepergiannya...
"Gue rasa dia lagi bimbang deh?" celetuk Sani.
"Emang Caca kenapa?" Letta bertanya.
"Gue juga gatau, tiba-tiba dia masuk terus kaya gitu. Gue tanya, dia gak jawab."
"Gue yakin. Pasti ada hubungannya sama Alvaro." Alissa berucap dengan yakin.
"Hmmm, bisa jadi sih." balas Letta.
"Udah-udah, mendingan kita gak usah ikut campur dulu deh. Kalau memang bener kaya gitu, lebih baik biarin mereka berdua aja yang selesai kan semuanya." akibat ucapan Sani, Letta dan Alissa terdiam. Mata mereka berbinar, sesaat kemudian mereka tepuk tangan dengan sangat elegan. Hal itu membuat Sani sedikit bingung.
"Kalian kenapa sih?" tanyanya sedikit kikuk.
"Sumpah demi apa..." ucap Alissa.
"Lo keren San." Timpal Arletta.
"Ah... ahaha-ha apasih..." wajah Sani merona dan sedikit malu-malu kucing.
-______________________________-
Caca berjalan menyusuri lorong. Entah kemana dia akan pergi. Pastinya dia ingin mencari tempat yang tenang untuk menyendiri. Mencoba menetralisir keadaan yang tengah dia rasakan. Sejak kejadian tadi, jantungnya terus saja berdegub sangat kencang. Belum lagi, fikirannya terus terbayang dengan ucapan cowok itu.
"Kenapa tiba-tiba sih?" gadis itu menggumam.
"Jadi harus pakai rencana ya?"
"Iyalah, seenggaknya siapin kejutan kek, atau apa lah itu. Biar romantis dikit!"
Kata gadis itu sambil terus mengomel. Tanpa dia menyadari siapa yang tengah mengajaknya berbicara. Dia terdiam sesaat sebelum akhirnya menyadari kalau ada orang lain di belakangnya. Dengan segera Caca menoleh ke arah orang itu.
"Lo? Lo ss–siapa?" ia bertanya dan merasa sedikit bingung.
Namun orang itu hanya tersenyum.
"Kenalin, gue..."
☆☆☆☆
Hayo...
Penasaran ga nih kira - kira...
Siapa ya orang yang ada di bagian cerita ini?
Jangan lupa nantikan terus ya kelanjutan cerita mereka.
Bakalan ada bagian gemeshnya nih...
>o<
Sampai jumpa di part selanjutnya.
🙋🙋🙋
#Elissamisca.f
#10/10/19.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvaro
Novela Juvenil"Alah! Lo di depan dia aja nggak berani. Apa perlu biar gue yang jadi wakil, dan bilang ke Caca kaya gini. 'Ca, boleh nggak Alvaro bilang. Caca aku rindu.' cuih! najis Ro." Alvaro mendadak sakit hati mendengar ucapan Iyok. Namun dia berusaha untuk t...
