Alvaro itu...
Selamanya tetap malaikat di hati ku.
♥♥♥
Tok... tok... tok...
"Alea ada orang di luar?!" panggil Kakakku.
"Iya bentar." balasku.
Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju ke arah pintu. Saat pintu terbuka terlihat seorang gadis dengan pakaian santai. Dia tersenyum ke arahku, dan tentunya aku membalas senyumannya itu.
"Eh Almira, ada perlu apa?" tanyaku.
"Hallo Ka, gue mau pinjem catatan bahasa inggris lo dong."
"Oh iya. Lo kemarin nggak masuk kan ya. Yaudah lo masuk aja dulu, biar gue cari bukunya. Nungguinnya di dalam aja."
Aku mengajaknya masuk. Dia duduk di tepian ranjang sambil menunggu ku mencari buku yang di minta. Aku ini orangnya sedikit pelupa, jadi carinya sambil mengingat-ingat.
"Ka, ini siapa?" Amira bertanya.
Aku menoleh ke arah gadis itu. Dia memegang bingkai berisi foto seseorang di dalamnya. Dengan cepat aku mengambil bingkai itu mencoba menyembunyikan, dan menjauhkan dari nya. Tidak, bukan hanya Amira. Tapi aku menyembunyikannya dari siapapun, cuma diriku yang bisa menyentuhnya, yang lain tidak boleh!
"Bu-bukan siapa-siapa." tegasku.
Terlihat raut wajah Mira yang tak yakin akan ucapanku. Namun aku harus membuatnya tidak memperdulikan hal ini.
"Eh, tadi kamu mau pinjam buku apa?" ku coba untuk mengalihkan perhatiannya.
"Aaahh iya, buku bahasa inggris lo ada kan? Catatan yang kemarin gue kan ketinggalan karena nggak masuk. Gue mau salin."
"Oh, oke, tunggu sebentar."
Aku mengambil kotak berisi buku-buku sekolah ku. Dan mencari barang yang di minta Amira. Saat ketemu, langsung ku berikan ke pada gadis itu.
"Selasa jangan lupa balikin ya." pesanku padanya.
"Oke, yaudah. Kalau gitu gue balik ya, thanks bukunya. Selasa janji deh gue balikin bye Ka."
Aku mengantarkannya sampai di depan pintu. Setelah kepergian Amira, diriku segera masuk kedalam kamar dan mengambil benda yang tadi sempat di sembunyikan. Lalu ku peluk bingkai foto itu. Kalian pasti penasaran kan, kenapa aku sangat menyanyangi bingkai berisi foto seseorang ini?
Bukan hanya fotonya saja kok. aku bahkan lebih menyukai orang aslinya. Dia adalah pangeran bagiku. Setelah pertemuan pertama di jembatan penyebrangan itu, aku semakin jatuh cinta dan mengagumi sosoknya meski hanya dari jarak jauh. Aku tau, dia sedang mengejar cinta seorang gadis di kelasku. Gadis yang cukup populer karena kepintaran, bela diri, dan kecantikannya.
Jujur saja aku membenci hal itu.
Kenapa dia sibuk mengejar seseorang yang tak pernah menganggap nya ada. Ingin rasanya aku membuat dia sadar kalau ada aku di sini yang menunggunya, yang mencintai dia, yang ingin dia tau kalau aku lebih tulus menerima segala kekurangannya. Namun sayang, aku tidak bisa mengatakan langsung pada cowok tampan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvaro
Roman pour Adolescents"Alah! Lo di depan dia aja nggak berani. Apa perlu biar gue yang jadi wakil, dan bilang ke Caca kaya gini. 'Ca, boleh nggak Alvaro bilang. Caca aku rindu.' cuih! najis Ro." Alvaro mendadak sakit hati mendengar ucapan Iyok. Namun dia berusaha untuk t...
