'Aku bukannya menjauh karena berhenti. Hanya saja, aku ingin tau. Seberapa besar rindu mu itu padaku.'
☆☆☆
"Lo kenapa sih? dieeem mulu..." Bian bertanya sambil menepuk pundak Alvaro.
"Galau paling dia..." sahut Diva.
"Bacot kalian!!!" bentak Alvaro merasa kesal. Mereka berdua terdiam, lalu perlahan sedikit menjauhi pria bodoh itu, karena kalau ia sedang marah terlihat mengerikan. Sesaat ketika Bian dan Diva baru saja menjauh. Datanglah Iyok tanpa wajah berdosanya mendekati Alavaro sambil berkata.
"Ro, tadi gue ngeliat Caca di anter pulang cowok. Kalau nggak salah liat sih, dia anak kelas tiga." katanya dengan wajah polos, dan cukup meyakinkan. Ia tak tau kalau Alvaro sedang naik pitam, dan kedatangan nya yang berkata seperti itu. Semakin membuat suasana hati Alvaro kian memanas.
"Yok! Iyok! Sini goblok!" Bian berseru memperingatkan cowok ganteng itu untuk menjauh dari Varo. Namun ia tidak menghiraukan nya dan malah menatap ke wajah yang terlihat memerah itu. Saat ia kembali menatap mata Varo. Refleks detik itu juga Iyok pun segera bangkit kemudian berjalan ke arah Bian dan Diva.
"Varo kesambet setan?" tanya Iyok kemudian, berbisik pada Bian.
"Iya, Setannya Caca." balas Diva santai.
"Emangnya dia abis ngapain bisa kesambet gitu?" Iyok kembali bertanya.
"Apa lagi kalo bukan karena di tolak." Diva berbisik.
"LAH! LO DITOLAK LAGI RO?!" Iyok berteriak kemudian tertawa sangat kencang. Membuat suasana hati Varo yang sudah kacau, jadi semakin kacau karena ejekan dari Iyok. Varo menggebrak meja yang ada di hadapannya lalu pergi meninggalkan ketiga pria itu.
Setelah kepergian Varo, mereka betiga hanya bisa mengelus dada sambil menggelengkan kepala. Turut prihatin dengan keadaan sahabat karib nya itu.
"Varo bikin gue jantungan Njir!" ucap Bian terheran-heran.
🍃🍃🍃
"Ca, udahlah... kenapa sih lo nggak jujur aja sama dia."
"Gimana gue mau jujur San. gue masih ragu sama sikap dia ke gue. Gue masih mau tes dia, sebenernya dia itu beneran cinta atau nggak sama gue." Caca mengusap rambutnya frustasi.
"Sekarang jelasin ke gue. apa yang belum dia lakuin ke lo?"
Caca terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Sani.
"Dia playboy." ucapnya lirih...
"Fel, dia itu bukannya udah mau berubah demi elo? Bahkan dia aja gak pernah ngeladenin Fans nya lagi. Gue juga enggak pernah tuh, ngeliat lagi dia main sama cewek-cewek di sekolah."
"Tapi San. belum tentu juga dia bneran berubah."
Sani memutar bola mata malas, "Terserah deh Ca, semoga aja lo nggak menyesal nantinya."
Mereka pun akhirnya saling tak bicara. Dan Sani membereskan barang-barang, memasukkan nya ke dalam tas. Setelah meja dan laci nya beres. "Gue balik duluan ya, lo hati-hati pulang nya." Caca hanya tersenyum sambil mengangguk, tanda meng––iya kan ucapan Sani.
Setelah beberapa menit kepergian Sani, ia pun kemudian membereskan peralatan belajar, memasukkan kedalam tas nya. Dan beranjak keluar dari ruang kelas. Memasang earphone di telinga, menyalakan MP3 mendengarkan lagu kesuka nya. Dan saat Caca tengah asik berjalan sambil bernyanyi. Dirinya tak sengaja berpapasan dengan seorang yang sudah beberapa hari ini, sangat ia niantikan kehadiran nya. Padahal kemarin––ia sendiri yang memutuskan untuk menjauhi cowok itu. Tapi nyatanya... sejak saat itu hingga saat ini pun dirinya sudah mulai merasa rindu. Dan ternyata, tanpa Caca sadari, cinta nya sudah mulai tumbuh secepat itu...
Caca dan Alvaro hanya berlalu sambil bertatap mata. Sama-sama cuma bisa membisu melihat satu sama lain. Mata mereka saling meng'isyarat'kan sesuatu. Cukup lama keduanya terdiam seperti itu, sampai akhirnya Felica pun mengalihkan pandangan nya. Ia gugub, dan agak canggung. Tapi sebisa mungkin dirinya berusaha untuk fokus dan sesegera mungkin menjauh dari Alvaro. Namun, lengannya keburu di cengkram. gadis itu berhenti sambil menormalkan detak jantung nya yang semakin berpacu cukup cepat.
"Gue kangen Ca." ucap Alvaro lirih, membuat Caca semakin terpaku.
"Gue fikir... coba beberapa hari gak ketemu, bakalan bikin gue lupa sama lo. Tapi ternyata enggak. Gue malah kefikiran dan pingin banget nemuin lo. Gue bener-bener rindu banget sama elo Ca." suaranya terdengar begitu sendu, seolah sudah putus asa.
Namun Caca hanya bisa terdiam. Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Karena pada kenyataan nya ia juga merindukan cowok itu. Bukan cuma Caca yang menjauh, tapi Varo juga berusaha menahan diri untuk tidak bertemu satu sama lain. Mereka berdua sama-sama bingung. di satu sisi mereka masih ingin mengetahui lebih dalam tentang perasaan masing-masing. Tapi di sisi lain, ternyata, baru segini saja sudah cukup membuat hati dua insan itu jadi tak karuan.
"Ca," panggil cowok itu lembut, seperti sedang menunggu jawaban dari gadis itu.
Namun tak ada jawaban, melainkan...
"Maaf Ro, aku buru-buru." ucap gadis itu dengan sangat terburu, sambil melepaskan cengkraman cowok itu dari lengannya. Ia pergi begitu saja. Meninggalkan Alvaro yang masih terdiam di tempatnya sambil menatap punggung Caca yang semakin menjauh dari pandangannya.
💦☔☔☔💦
Gimana nih...
Kasian banget ga sih Alvaronya...
Maaf aku suka ngaret.
So terimakasih buat kalian yang masih setia dengan VaCa...
Sampai bertemu di chapter selanjutnya...
#06 febuari 2020
#storyteenfiction
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvaro
Roman pour Adolescents"Alah! Lo di depan dia aja nggak berani. Apa perlu biar gue yang jadi wakil, dan bilang ke Caca kaya gini. 'Ca, boleh nggak Alvaro bilang. Caca aku rindu.' cuih! najis Ro." Alvaro mendadak sakit hati mendengar ucapan Iyok. Namun dia berusaha untuk t...
