13.10.12

2.7K 183 3
                                        

Jimin menghela nafas perlahan-lahan, melihat kearah jam tangannya sudah menunjukan pukul sembilan malam. Salju kini turun, dan percayalah Jimin sudah memaki-maki saljunya. Kenapa harus datang di hari ulang tahunnya itu?

Terkutuklah tempat les. Kenapa juga dia harus dipaksa masuk ke les. Memang setahun lagi dia akan ujian untuk kelulusan sekolah, namun tetap saja. Jimin membenci les. Baginya, les adalah sesuatu yang hanya menghamburkan uang dan tidak begitu mempengarhui otak sebodoh Jimin.

"Ah aku harus beli cake," ia mengingatkan dirinya sendiri, bus terakhir untuknya sebentar lagi akan datang, kaki kecil Jimin lari menuju salah satu bakery disitu.

Jimin membeli cheesecake, beserta satu lilin kecil ditengah-tengah. Tidak terlalu mahal. Jimin segera membawa cake nya untuk pulang. Ini adalah hari ulang tahunnya, ingat?

Langkahnya berjalan sepanjang trotoar, sebentar lagi halte bus yang ingin dia tumpangi datang. Suasana musim dingin sangat sepi, penuh dengan kesedihan. Jimin dibaluti dengan jaket tebal serta syal yang besar menenggelamkan lehernya.

Seperti dibekukan oleh suara piano  yang indah dan menghanyutkan. Sulit di deskripsikan oleh Jimin karena dia sendiri bukanlah anak seni musik. Matanya menatap ke suatu toko alat musik yang brand new nya merupakan bongkahan piano besar.

Disanalah dia melihatnya.

Seseorang lelaki berambut cokelat kehitaman, dengan mata terpejam sambil memencet tiap-tiap tuts pianonya tanpa kesusahan. Seakan-akan dia sudah ahli dalam bidang musik, ia mengenakan sweater hitam dan kacamata bulat. Benar-benar tampan. Jimin sudah terpesona dengan alunannya, dia di baku hantam lagi oleh wajah lelaki itu.

Tampan dan dingin.

"Dia manusia kan?" pikirnya, karena toko itu tidak ada orang kecuali si pucat berambut cokelat kehitaman, ditambah kulit pucat serta aura seram di belakang punggung lelaki itu seperti ingin memakannya--

"Bus! Bus!" Jimin menepuk dahinya lagi, dia lari ke halte bus.

.

Dear Diary


Ini adalah hari ulang tahunku, pada musim dingin yang tentu saja bukanlah musim faforitku.

Eomma dan Appa lagi-lagi tidak di rumah.

Aku merayakan ulang tahunku sendirian, cake yang sudah kubeli sehabis pulang les. Lilin menyala di kegelapan. 

Tentu aku mengucapkan harapanku dalam hati, aku meniup lilinnya. Saat itulah aku merasa sangat kesepian.

Ini ulang tahunku yang ke Tujuh belas, yang berarti aku sudah menginjakan umur dewasa. Saksi nya? Hanya aku sendiri dan Tuhan.

Biasanya orangtua akan mengajak anaknya untuk meminum soju di ulang tahun ke 17, karena sudah gede!

Mungkin tidak hari ini aku meminum soju, aku akan menunggu orangtuaku pulang dulu. Lalu minum bersama mereka.

Oh! Aku mau cerita hal yang aneh hari ini!

Di hari ulang tahunku, aku seperti mendapat hadiah dari Tuhan. Hadiahnya sangat kebetulan sekali. Aku mengingatnya saja jantungku berdetak kencang.

Sebelumnya aku belum pernah melihat orang itu. Dia berada di toko musik. Awalnya aku kira dia bukan manusia. Mungkin dia spesies alien atau mayat, atau bahkan zombie?? 

Habis dia bermain sendiri di toko alat musik.

Tapi aku dapat mendengar alunan piano yang dia mainkan. Lelaki itu bisa menghayati sambil menggoyang-goyangkan kepalanya? Aku juga tidak paham, intinya begitu.

Seperti--dia adalah pemain musik? Mungkin. Jangan tanyakan padaku.

Dia memiliki wajah yang dingin dan tampan, hawanya saja seperti ingin menggerogoti tulangku.

Namun sayangnya aku tidak bisa menonton dia lama-lama. Karena bus ku sudah datang, pemberian Tuhan hanya sebentar saja waktu itu. Namun aku menikmatinya.

Aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi.

-Jimin-

Dear Diary 「Yoonmin」Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang