Jimin menguap.
Tugas-tugas nya menumpuk dari tempat les, hanya gara-gara dia dipaksa duduk manis di toko kukis Yoongi kemarin. Sampai Jimin mengerjakan tugas-tugasnya itu di studio nari, dimana Hoseok yang baru datang dengan harapan Jimin sudah lepas dari tugas terkutuknya itu hilang begitu saja.
"Yak Park Jimin!"
Telinga sebelah kiri Jimin tersumbat dengan earphone, tapi tenang saja, Jimin masih dapat mendengarkan yang bagian kanan. Jimin melirik kearah Hoseok sebagai jawaban lalu kembali fokus ke buku tulisnya lagi.
"You got no jams, man."
"Whatever," Jimin membalas sambil memutar bola matanya malas, "derita anak kelas dua begini."
Hoseok mengacak pinggang, "Apalagi kalau kamu mengambil jurusan bisnis. Percayalah kamu tidak akan tau berjubel-jubelnya tugas mereka. Sigh.. "
Jimin mendongakan kepala agar melihat hyung nya itu, sudah melepas jaket tebalnya, kini dia mengenakan kaos lengan panjang putih dan celana training hitam. Jimin memiringkan kepalanya polos, "Hyung tidak ada tugas?"
"Oh jelas--" Hoseok baru ingat apa yang dia ingin sampaikan, "oh ya aku lupa. Tadi pagi aku sempat melihat poster perlobaan tari klasik moderen. Aku mendaftarkan kita--"
Jimin duduk, bola mata sipitnya membulat hebat, "K-Kamu mendaftarkan aku... tanpa bilang kepadaku!?"
"Hey Jimin. Dunia harus tau siapa dirimu yang sebenarnya, let yourself shine by who you are."
Lelaki cantik itu segera mempacking barangnya ke dalam tas, oke fix Jimin gak mau balik lagi kesini selama masa perlombaan itu berlangsung. Jimin harus pulang juga, ditambah waktu sudah malam, Hoseok sialan telat datang padahal dia sudah menunggu lama di studio sendirian.
"Hey where are you going?"
"Pulang. Kan sudah kubilang... aku menari karena hobi okay? Aku tidak suka semua orang lihat, apalagi terdengar sampai ke orangtuaku. I'll be dead!" Jimin segera mengenakan jaket hitam kebesarannya itu.
"T-Tunggu sebentar kita kedatangan--"
Jimin membuka pintu studio dan membeku saat dia berdiri disana, karena sosok lelaki pucat berambut cokelat ketuaan sedang berdiri dengan kacamata kotak. Nampaknya dia ikut bingung dengan kedatangan Jimin, begitupun Jimin yang nyawanya terpental entah kemana.
"--tamu."
Pelajar muda itu menoleh pelan-pelan ke Hoseok, membutuhkan penjelasan kenapa ada si pucat pemilik wajah datar yang berdiri sambil membawa tas selempang.
"Seperti yang aku bilang.. perlombaan ini bertema klasik moderen. Kebetulan aku punya kenalan dekat kakak kelas semasa sekolahku dulu yang bisa bermain piano. Dia adalah Min Yoongi, dia akan menjadi pemain instrumentalnya."
Yoongi tersenyum simpul, "Jimin?"
Jimin tersentak, nyawanya hampir terpental untuk yang kedua kalinya. Berusaha menahan rona merah muda yang ingin keluar secara alami. Bertatapan dengan jarak satu koma lima meter, Jimin menghitungnya dengan akal, ini cukup dekat. Menelan saliva nya saja susah sekali, gugup setengah mati
Hoseok memasang wajah bodoh sambil melihat Jimin, "Eh? Kalian saling kenal! Baguslah! Ini akan mempermudah semuanya."
Jimin tidak tau. Apakah dia harus berterimakasih atau memaki Hoseok habis-habisan.
...
Dear Diary
Mimpi konyol aku ternyata terjadi.
Aku akan MENARI!?
Tidak. Ditemani oleh Hoseok tentu saja. Tapi tadi aku tidak bisa menolak, aku beku! Yoongi akan bermain instrumen klasiknya!
Benar-benar diluar dugaanku
Dunia sempit sekali
Aku tidak menyangkan, Hoseok hyung yang berisik dan bodoh itu berteman dengan Yoongi hyung yang pendiam dan dingin.
Sial tanganku tidak bisa berhenti bergetar, padahal aku sedang menulis.
Rasanya? Detak jantungku berdegup-degup. Dugum-dugum. Telingaku bisa mendengar suara jantungku yang berdetak keras. Dugum-dugum. Dugum-dugum. Dugum-dugum.
Ahhh aku tidak bisa berhenti tersenyum. Perutku geli, sampai aku melompat-lompat di kasur! Bagaimana cara mendeskripsikan rasa senangku? Seperti pelangi dan unicorn menari-nari.
Apa yang aku pikirkan?
Tapi aku tidak suka dilihati orang. Aku takut. Aku bisa tidak fokus jika ditatap banyak orang.
Aku harap aku tidak merepotkan Yoongi hyung dan Hoseok hyung.
-Jimin-
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Diary 「Yoonmin」
FanfictionDear Diary : Lagi-Lagi aku membohonginya. Dan membohongi diriku sendiri -Jimin- Semua narasi disini berdasarkan sudut pandang Jimin. (COMPLETED)
