29.03.13

841 112 3
                                        

Tenang aja 👍 Apdet ko

...

Kelopak mata Jimin terbuka perlahan-lahan, menyadari jika dirinya berada di dalam ruang inap rumah sakit sendirian.

Mata cantik Jimin menoleh kearah punggung tangan kanannya yang dalam keadaan terinfus. Merasakan cairan dingin masuk dan mengalir melewati selang bening itu. Pupil mata Jimin mengecil, entah bingung reaksinya harus seperti apa. Entah dia harus senang telah diselamatkan, atau justru kesal karena Tuhan memberikan kesempatan kedua untuknya.

Oh Jimin menyadari sesuatu, kedua telapak tangannya yang penuh dengan luka-luka bekas gesper ayahnya ternyata sudah diobati.  Bahkan ada bekas-bekas luka yang kian menghilang dari kulitnya. Hal itu bikin Jimin tubuh Jimin gemetaran.

"K-Kemana lukanya..?"

"Ah! Jimin sudah sadar--!"

"Hoseok hyung.." Jimin terkejut, pria itu melambaikan tangan kecil dan duduk di samping ranjang Jimin. Raut wajahnya terlihat sangat kawatir, "berapa lama aku tidak sadarkan diri?"

Hoseok menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Kamu dinyatakan koma selama empat hari. Untung saja dia menemukanmu di jalan astaga.."

"Dia?"

"Si pucat wajah datar."

"Y-Yoongi hyung..?"

Hoseok menganggukan kepalanya, "Waktu itu Yoongi hyung sedang mempersiapkan peralatan untuk pergi ke Jepang. Dia mendapatkan tawaran pekerjaan di Rumah Sakit ternama disana. Kebetulan sekali dia bertemu denganmu."

Jimin mendengar sesuatu yang lebih pahit, jauh lebih pahit sampai hatinya lagi-lagi terkikis.

Bukannya harusnya kamu senang, dengan begitu kamu bisa melupakan pria pucat itu?

Tapi Jimin tidak bisa senang. Tiba-tiba tetesan air matanya mengalir dan membasahi pipinya. Suara isakannya terdengar dan menggema sampai ke seluruh ruangan kamarnya. Tubuhnya gemetaran, ia menutupi wajahnya. Mengabaikan Hoseok yang begitu canggung melihat Jimin menangis

"Berhenti menangisiku seperti aku sudah mati, Bantet."

Jimin terbujur kaku, suara berat khasnya terdengar menggema dan menghentkan isakan air mata Jimin. Jimin melihat kearah pintu keluar, disana pria pucat itu berdiri dan menyila kedua tangannya. Pria itu mengenakan sweater dan mantel hitam. Apapun yang Yoongi kenakan, bagi Jimin sudah menjadi definisi perfect.

Hoseok cengir menahan gemasnya Jimin, "Aku tidak bilang orangnya sudah di Jepang."

"E-Eh?"

Yoongi menghela napas perlahan, mengusir Hoseok "Sudah berisik kau, Pergi sana."

"Ckh ckh fine."

Akhirnya Hoseok pun pergi. Kini kecanggungan menyelimuti mereka. Jimin menundukan kepala karena rasa malu, setelah apa yang terjadi diantara mereka dan kini Jimin rasa dia sudah tidak memiliki muka untuk bertatap langsung pada Yoongi.

Kedua tangannya menyengkram selimut, mata nakal Jimin mencuri-curi lirikan untuk melihat wajah Yoongi. Sial, kenapa Yoongi memasang wajah datar. Jimin tidak bisa menebak sama sekali apa yang Yoongi pikirkan.

"Kalau dipikir pertama kali kita berbicara, di rumah sakit ini juga kan?"

Tuhan memberikan cahaya-cahaya kecil di kehampaan Jimin.

Melihat senyuman pria tampan itu. Ini bukan senyuman samar-samar, ini adalah senyuman paling menawan, tampan, dan indah yang pernah Jimin lihat. Jantung Jimin seperti lari maraton.

"Kamu orang pertama yang masuk rumah sakit ketika melihatku pertama kali," Yoongi mendengus kesal, seperti mengeluh kepada Jimin, "aku sempat mikir. Apa aku sejelek itu sampai anak orang pingsan?"

"T-Tidak! Hyung tampan. S-Sampai aku pingsan," Jimin menggelengkan kepala  sambil menahan malu, andai Jimin memutar balikan waktu, Jimin pasti akan memperbaiki semua kebodohan dan kesalahan yang Jimin alami.

Kemudian mereka kembali hening, Jimin sadar apa yang dia ucapkan dan kembali menundukan kepala. Andai saja Jimin mendongak untuk melihat wajah Yoongi sekarang.

Melihat bola mata sipit Yoongi yang membulat dan berbinar mendengar perkataan Jimin.

"Tidak ada kah yang ingin kamu katakan padaku?"

"Tidak ada hyung."

Jimin mengutuk dirinya. Bisa-bisanya Jimin berbohong dan berkata tidak ada sementara banyak sekali hal yang ingin Jimin katakan namun tidak kunjung bisa dikeluarkan, tangan Jimin gemetaran, ia kembali teringat bahwa dirinya sangat tidak berdaya dihadapan hyung nya langsung.

Lagi-lagi Jimin tidak melihat wajah Yoongi, wajah kusut dan sedihnya.

"Hah.." Yoongi menghela napas, ia kini duduk di pinggir kasur Jimin, "jangan nunduk. Angkat kepalamu."

Jimin menggeleng dan tetap menunduk, tubuhnya gemetaran, "M-Maaf hyung--"

Cup

Ucapan maafnya terhenti, tubuhnya yang bergetar itu perlahan-lahan diam. Pupil mata Jimin membesar, matanya membulat sempurna. Rona merah merona langsung mengental seperti tomat yang direbus. Begitu merasakan tangan besar yang memegang kepala Jimin lalu mendengar ada suara kecupan yang mendarat diatas punggung tangan Yoongi.

"H-H-Hyung..?"

"Shht berisik. Jangan merusak suasananya."

Dahi Yoongi terjatuh di pundak Jimin, napas pria itu terasa dan menembus lapisan kain tipis yang Jimin kenakan. Napas teratur dan panasnya, itu benar-benar bikin Jimin frustasi sekarang. Seperti ada kompor yang menyala--tidak--ada gunung yang meletus didalam perutnya.

"Istirahatlah dan jaga kesehatanmu, arreseo?"

Yoongi menjauhkan diri dari Jimin dan melangkah keluar dari kamar Jimin.

Namun langkah kaki Yoongi berhenti tepat di depan pintu keluar. Yoongi tidak menoleh saat mengucapkan kata-kata yang bikin jantung Jimin ingin lepas.

"Aku akan tetap menunggmu."

Dear Diary

Aku membencimu Tuhan.

Kenapa Engkau mempermainkan hatiku dan terus membawa-bawa hadiahMu

Aku semakin mencintainya dan semakin tidak ingin meninggalkannya.

Engkau harus tau, bagaimana rasanya jantungku meletuk-letuk seperti popcorn yang terpanggang. Saat Yoongi hyung menolongku dan menciumku

Tidak-- tidak ciuman langsung.

Dia menggunakan tangannya dan mencium diatas tangannya sendiri, tetap saja hatiku tidak tahan, manusia macam apa yang tidak akan lari keliling tujuh lapangan mendapatkan perlakuan hangat itu

Lalu kepalanya mendarat di pundakku. Aku tidak akan pernah melupakan sensasi geli yang kurasakan ketika napas teraturnya menyentuh kulitku.

Perasaan hangat di malam hari.

Serta senyumannya. Ya Tuhan aku tidak kuat

Aku dengar juga dia akan ke Jepang.

Tapi dia bilang kalau dia ingin menungguku? Apa maksudnya

Ya Tuhan, aku membenciMu

Tapi hatiku berkata bahwa aku  sangat berterimakasih padaMu

Dear Diary 「Yoonmin」Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang