Matahari menyeruak masuk ke kamar Maira lewat korden kamar yang sudah terbuka lebar. Sembari terus menguap Mai berdecak sebal karena tidak biasanya bi Ijah ke kamarnya kalau dia belum bangun.
Perlahan ia mulai bangun dan mengambil tongkatnya. Ya sekarang Maira sudah bisa berdiri dan hanya memerlukan tongkat untuk berjalan.
Dokter sangat kagum dengan perkembangan pesat yang di tunjukkan Maira. Keinginannya untuk sembuh luar biasa.
Selesai membersihkan diri, Maira keluar kamar dan menuju dapur. Samar-samar ia mendengar dua suara yang sangat di kenalnya. Ia mengernyit bingung dan berbalik menatap jam dinding. Ini masih jam 7.
"Lo pada ngapain pagi-pagi disini?" Maira menatap kedua orang yang sudah sarapan bersama mama dan papanya itu.
"Hai sayang." Leon dan Rendra kompak menyapa Maira.
"Duduk Mai. Rendra sama Leon kesini mau ngajak kamu liburan. Gimana?" Kata Mama menengahi sebelum mereka ribut.
"Astaga niat banget kalian ini ya. Gue aja baru bisa jalan." Gerutu Maira.
"Kita bawain kursi roda lagi biar lo enggak kecapean. Mama sama papa udah kasih ijin kok." Kata Rendra.
Leon yang mendengar panggilan itu terdiam. Ia mulai berpikir seberapa dekat Rendra dan keluarga Maira.
"Iya enggak apa2 kok Mai. Asal kalian, Rendra dan Leon harus janji sama papa buat jagain Maira." Kata Papa.
"Siap pa." Jawab Rendra dan Leon bersamaan kemudian tertawa karena panggilan yang terasa lucu.
Papa dan mama tersenyum riang.
"Akhirnya papa punya dua jagoan." Seru papa dalam hati.
"Nambah deh derita gue." Celetuk Maira.
Pletakkkk ... jari Rendra dan Leon mendarat sempurna di dahi Maira. Mama dan papa terbahak melihat bibir mengerucut Maira karena terkena sentilan.
Sedetik kemudian Rendra dan Leon mengecup dahi Maira bersamaan. Mereka meringis saat mendapati Maira melotot kearah mereka secara bergantian.
"Papa pasti bahagia banget deh sekarang." Kesal Maira.
"Iya dong. Papa punya dua jagoan yang bisa papa andalkan untuk menjaga kamu dan mama kalau papa pergi ataupun jauh dari kalian." Papa sumringah.
"Enak di papa, bencana di Mai pa. Lihatkan gimana tengilnya dua bocah ini? Kesal Mai.
"Eitass Mai. Kita berdua ini bocah yang udah bisa bikin bocah lho. Kalau2 lo lupa." Sergah Leon.
"Macem2, gue potong biji lo." Tunjuk Mai pada keduanya secara bergantian.
Papa, mama, Rendra dan Leon bengong mendengar ucapan Maira. Tapi sedetik kemudian mereka tertawa bersama dan itu sukses membuat Maira blushing karena malu.
"Eh biji mata maksud Mai. Kalian ini." Sela Mai.
Tawa itu semakin pecah saat melihat Mai salah tingkah. Mai semakin mengerucutkan bibirnya karena tidak ada yang berhenti tertawa.
"Bi Ijah tolong siapin baju Maira ya. Langsung bawa ke mobil Leon." Kata mama setelah menghentikan tawanya.
Bi Ijah langsung berlalu setelah menjawab permintaan tolong majikannya.
YOU ARE READING
Wrong Side
عاطفيةPersahabatan Almaira Stephani dengan Narendra Abimanyu harus berantakan karena kesalahpahaman. Tak sampai disitu, bahkan mereka harus mendadak menjadi "kita" karena kelakuan Narendra. Gimana ceritanya???
