Maira dan kedua orangtuanya sudah sampai di gedung pertunangan Renata dan Leon. Disana ada beberapa teman Leon dan Renata yang sedang berbincang di depan Ballroom. Ada yang menatap Maira sinis, tapi ada juga yang menatapnya penuh iba. Perasaannya pun mulai tak enak.
Langkahnya terhenti karena seseorang mengulurkan tangan. "Maaf Maira, aku harus melaksanakan tugas dengan memeriksa keamanan." katanya sambil tersenyum manis.
"Iya nggak apa-apa kok Dick. Aku juga nggak bawa apa-apa, jadi silakan periksa." jawab Maira yang berhasil membuat kedua orangtuanya menatapnya heran. "Dia orang keamanan Leon pa, ma. Namanya Dicky. Jangan Ngeliatin kaya gitu." Maira memutar bola matanya malas.
"Iya benar Tuan Damian dan Nyonya." Jawab Dicky sopan.
"Well jadi sudah sedekat itu hubungan kalian. Tapi harus berakhir, papa tahu ini berat buat kamu." kata Damian menghela napas sembai mengusap puncak kepala anaknya.
"Mai udah pernah bilang perjodohan itu nggak akan berhasil, tapi bukan Damian Aditya kalau percaya gitu aja sama orang." cibir Maira.
Dicky tampak enggan tersenyum mendengar cibiran Maira yang membuat papanya mendelik sebal. "Silakan masuk Tuan dan Nyonya. Tapi acara belum akan di mulai." Kata Dicky dengan sopan sembari menahan tawanya.
"Nggak usah ditahan ketawanya Dicky. Maira dan papanya memang selalu begitu." kata Novia sambil terkekeh pelan.
"Apa Maira memang selalu begitu?" tanya Dicky polos dan membuat Maira memutar bola mata malas.
"Ya. Dan gen itu berasal dari suami saya." jawab Novia santai dan langsung mendapat tatapan tajam dari Damian.
Mereka akhirnya tertawa bersama. Maira dan keluarganya tak menyadari ada yang menatap mereka dengan sedih dari jauh.
"Wah... masih berani juga kamu datang kesini ya.." Cibir salah satu tamu yang tak dikenal Maira.
"Aku bahkan tak tahu dimana salahku, jadi kenapa aku harus tak datang?" balas Maira tak kalah tajam.
"Harusnya kamu tahu kalau Renata sangat membencimu karena hampir merebut calon suaminya." ungkapnya lagi.
"Apa maks..." ucapan Maira terpotong karena Eza sudah menariknya menjauh.
Orangtuanya pun akhirnya mengikuti Maira yang masih di bawa Eza untuk menjauh. "Ada apa nak Eza?" tanya Novia panik.
"Nggak apa-apa tante. Sepertinya ada yang ingin membuat keributan jadi sebaiknya kita menjauh." jawab Eza.
"Jelasin ke Mai maksud ucapan gadis itu." Maira menatap lekat Eza.
"Maafkan kau Maira. Aku nggak yakin setelah ini masih ada kesempatan untuk mengungkapkan itu. Jadi maafkan aku." ucap Eza sambil menatap lekat Maira yang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
"Jelaskan saja tidak perlu berputar-putar atau berusaha mengalihkan pembicaraan." Ucap Maira tegas.
Namun belum Eza menjelaskan apa-apa, MC sudah tampak meminta seluruh tamu undangan untuk masuk karena acara akan segera di mulai. Maira mendahului yang lain untuk masuk karena penasaran dan rasa kesalnya yang sudah memuncak.
Maira terdiam di barisan paling depan bersama Eza dan kedua orangtuanya. Ia terus memperhatikan panggung yang akan menjadi tempat Renata dan pasangannya bertukar cicin. "Kenapa sesak sekali rasanya." Batin Maira.
"Sayang. I miss you so bad." ucap seseorang yang langsung memeluk Maira erat. Ia melonggarkan pelukannya saat merasa Maira tak membalas. "Hei.. jangan bilang kamu melupakan aku." sergah Rendra sambil menatap Maira yang menatapnya tanpa minat.
YOU ARE READING
Wrong Side
عاطفيةPersahabatan Almaira Stephani dengan Narendra Abimanyu harus berantakan karena kesalahpahaman. Tak sampai disitu, bahkan mereka harus mendadak menjadi "kita" karena kelakuan Narendra. Gimana ceritanya???
