INRA (DEWASA)
Aku merenung di kamar rumah sakit, berhari - hari aku masih memikirkan tentang Bryan Bramantyo itu. Siapa dia? Apa dia orang penting di negara ini makanya aku seperti pernah dengar namanya. Aku harus cari koran.
"POJIR! POJIR!", teriakku memanggil Pojir.
Tuing,
Langsung saja dia ada di hadapanku. Dia terlihat tidak bergairah.
"kenapa lesu gitu?"
"pusing"
"hahaha tali pocong lu terlalu kenceng kali"
Dia duduk di sofa lalu bersandar, aku pun penasaran dengan tali pocongnya.
"coba agak gue kendorin"
Dia menyodorkan kepalanya, lalu aku mulai membuka ikat tali pocongnya. Loh ternyata dia punya rambut. Tanganku kelibet dan terlepas lalu tampaklah full wajahnya.
"duh! Lepas kan tuh!", ujarnya kesal.
Wahh dia ganteng juga, sayang banget
ganteng gini jadi pocong.
"buruan Ra! Iket lagi"
"iya iya"
Aku pun buru - buru mengikat tali pocongnya. Lah ini anak bukannya bersyukur punya tampang ganteng malah mau nya di pocongin.
"udah agak enakkan?"
"ya lumayan sih"
"lu itu ganteng ngapain jadi pocong sih?", tanyaku penasaran.
"ya pilihan, lagipula jadi ganteng itu beban tau"
"uweekkk muntah gue!"
Aku berdiri lalu menjentikkan jari untuk mengganti pakaianku. Dia lalu ikut berdiri dan mendekat.
"lu kenapa masih mau tetap cantik?"
"karena ini anugerah. Paham?"
"iya berusaha sih meski agak konyol ya alasannya"
"berisik lu ah"
Aku pun berjalan menembus tembok lalu berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Hari ini style ku adalah denim, jadi aku pakai kaos polos berwarna kuning dengan jaket denim lalu celana jeans panjang berwarna abu - abu.
"lu mau cari apa lagi sih?"
"duh susah sih jadi gue. Mau hidup atau koma, otak gue kudu jalan"
"sekarang penasaran dengan apa?"
"Bryan Bramantyo!. Bantu gue cari koran lama. Bantu gue ke gudang"
Dengan pasrah si Pojir mengantarku ke gudang. Tapi yang ku temukan malah.
"ini apaan? Bed karatan!, keranda!, tiang infus!"
"Ya ini kan Rumah sakit Indira, bukan sekolahan yang punya banyak buku"
Aku menepok jidatku, duh salah ku sih karena tidak menyebutkan secara spesifik.
"bawa gue ke tempat koran bekas"
"dimana itu?"
"ya dimana aja terserah"
Sekali lagi dia pasrah dan memenuhi permintaanku,
Tring...
Eh dia malah bawa aku ke kwitang.
"kok ke sini?"
"koran bekas", katanya sambil melirik ke kiri.
Iya sih aku lihat buku lawas dan kertas koran menumpuk. Aku pun berjalan menghampirinya. Kalau aku ambil bisa enggak? Kalau orang pada ngibrit gimana?.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (SELESAI)
Romance"Bodoh Indira! ngapain kamu nunggu laki - laki itu sampai tidak kawin!" iya itu lah aku, aku jatuh cinta pada seorang pria hingga buta. sampai aku menunggunya tanpa tahu kapan dia akan datang. iya dia datang, tapi malah memberikan undangan pernikaha...
