I : Introduced

535 38 11
                                        

Dukkk Dukkk

Dukkk Dukkk

Aku menuruni setiap anak tangga yang ada dirumahku dengan langkah yang terburu-buru. Kalian bisa sebut aku sedang berlari.

Ku lihat sebentar ke arah ruang makan, dan ayah juga ibu sedang sarapan disana.

Ah, ibuku tadi sudah mencoba untuk membangunkan aku dari tidur. Tapi karena aku nya yang terlalu bebal--hehe. Jadinya aku mengabaikan segala jurus yang ibuku gunakan untuk membangunkan aku dari tidur.

Alhasil, aku bangun kesiangan. Lagi.

Aku berlari kecil menuju ruang makan.

"Pagi yah, bu" sapaku.

Aku segera mengambil segelas susu coklat yang sudah ibuku siapkan dari tadi. Sudah sedikit dingin, tapi tak apa.

"Jam berapa sekarang, Nadifa?"

Ibuku menanyakan sebuah pertanyaan. Aku terkejut.

Bukan karena pertanyaannya. Tapi karena ekspresi yang ibuku berikan saat ia mengucapkan pertanyaan itu. Tuhan, tatapannya seperti...

Mengerikan.

Tatapan seperti seekor singa yang yang siap memakan mangsa yang ada didepan nya.

"UDAH IBU BILANGIN JANGAN NONTON YOUTUBE MULU KALAU MALEM! KAMU TUH TELAT BANGUN TERUS KALAU MAU SEKOLAH!"

Uhukk uhukk

Aku tersedak susu yang sedang ku minum. Bagaimana tidak?

Ibuku tiba-tiba berteriak dan mengomeliku dengan hebatnya. Huft, lagi-lagi pagiku yang indah selalu diawali dengan omelan ibu yang bak kicauan burung beo.

Untung saja susu yang tadi kuminum tidak tumpah ke seragamku.

Jangan bercanda, aku sedang memakai seragam putih dengan rok abu-abu sebagai pelengkapnya.

Sungguh tidak lucu bukan kalau diseragam ku ini ada bercak bekas susu coklat.

"Sumpah ya bu, kuping aku bisa pecah setiap hari" ucapku sembari mengusap-usap dada.

"Heh kamu ya! Kalau dibilangin ngejawab aja"

"Ibu si lagian tiba-tiba teriak. Kan aku jadi kaget"

"Ya kamu! Bangun tidur selalu kesiangan. Gimana kamu gak telat melulu kalau sekolah? Hah?!"

"Huft, iya iya. Besok aku gak kesiangan lagi"

Ibuku hanya mendengus malas. Merotasikan kedua bola matanya.

"Halah, kemarin kamu juga bilang gitu"

Ayahku yang sedari tadi hanya diam dan menyaksikan perdebatan antara aku dan ibu, kini bersuara.

"Nadifa, kalau kamu sampe ketauan nonton youtube sampe malem lagi. Ayah bakal sita handphone kamu sampe kamu lulus."

Gosh.

Kalau ayah sudah bicara. Aku angkat tangan. Tidak bisa mengelak lagi.

.

"Pagi semua!"

Hossh hossh

Lelah sekali. Setelah tadi aku harus berdebat dulu dengan pak satpam si penjaga gerbang, aku juga harus berlari untuk naik ke lantai 3 dimana kelasku berada.

Aku ini telat. Makanya aku berlari.

Ngomong-ngomong, aku sudah kelas 12. Atau, tiga SMA.

Jangan salah, walaupun aku agak bergajulan, tapi aku ini cukup pintar. Aku saja bisa masuk kelas IPA-2. Kelas yang berisi orang-orang pintar, yang berada di tingkat dua. Karena tingkat satu sudah pasti diduduki oleh kelas IPA-1.

For 14 Days | Na JaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang