Topic : Heejin and all her bad things.
|-[2]-|
Merasa bangga, jelas.
Apalagi didukung dengan keinginan yang ia yakini akan berhasil.
Heejin, tengah berdiri diruangan pamannya.
"Paman bisa kan?"
Pamannya nampak berfikir. "Kau kan tahu sendiri, aku tidak punya kekuatan besar disini"
"Maka dari itu aku dari tadi menyuruh paman untuk menghasut CEO-nim disini untuk diajak berkerja sama denganku. Kalau paman sudah berhasil, selanjutnya aku yang bertindak"
Paman nya menghela nafas. "Aku tidak berani Heejin-ah"
"Ayolah paman. Bantu keponakanmu ini."
Paman nya kembali terdiam. Heejin makin dibuat geram olehnya. Hingga kemudian perempuan itu menyunggingkan senyum miring nya. Tatapan mulai menuntut dan licik.
"Atau, kalau paman tidak mau bantu, mau ku adukan ke ayah supaya warisan dari kakek nenek jatuh sepenuhnya ke tangan ayah?"
Paman nya tentu terkejut bukan main. "Apa-apaan kamu ini? Kamu cuma anak ingusan yang belum mengerti tentang itu semua! Tidak usah ikut campur Jeon Heejin."
Heejin tertawa."Hahahah, paman meremehkanku? Paman lupa siapa aku?"
Sial. Pikiran sang paman makin kacau. Lelaki berkepala tiga melupakan fakta bahwa ayah dari Heejin memiliki teman dekat yang rata-rata berprofesi di bidang hukum. Pengacara salah satunya.
Yang ditakuti olehnya adalah, Heejin bisa saja mengada-ngada kepada ayahnya. Mengatakan hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Hingga dengan perasaan yang berat. Paman nya itu menghela nafas, lalu mengangguk ragu dengan kepala tertunduk.
Heejin yang melihat balasan dari pamannya itu lantas tersenyum lalu dengan segera memeluk pamannya itu seerat mungkin.
"Terimakasih paman! Kau adalah yang terbaik!"
[2]
Heejin dengan senyum di wajahnya yang terulas sedari tadi sedang berjalan dengan langkah sombong seolah-olah ia adalah pemenang dari semua ini.
"Mba, ruangan CEO-nim disebelah mana ya?" seorang staff perempuan berperawakan bule itu dengan senang hati tersenyum lalu menunjukkan jalan menuju ruangan CEO-nim yang dimaksud Heejin.
Heejin, sekarang telah berdiri didepan pintu ruangan itu. Menarik nafas terlebih dahulu sebelum menggerakkan aksi nya.
Dengan senyum yang masih tersungging. Heejin masuk dengan rasa penuh percaya diri.
"Selamat siang CEO-nim, saya Jeon Heejin. Anda tentu tahu siapa saya, kan?"
Lee Sooman, selaku CEO yang sedang asyik menyesap teh nya itupun kemudian menoleh ke sumber suara.
Ia tersenyum. "Siang"
"Bisa bicara sebentar?" Heejin kemudian beralih duduk di sofa yang sudah disediakan.
Pakaiannya kali ini lumayan formal dan elegan. Menambah kesan angkuh pada dirinya.
"Kau tentu sudah dengar kan dari pamanku?" ucap Heejin mengintrupsi.
"Pamanmu?" bingung Lee Sooman.
"Ah maaf, maksudku Jeon Jinkook. Ia sudah memberi tahu mu tentang suatu hal kan?"
Lee Sooman agak tercekat. Ia kemudian membenarkan posisi duduknya yang tadi bersandar pada kursi jabatannya. Sekarang beralih tegak lalu menatap Heejin serius.
"Sepertinya aku tidak bisa" ucap Lee Sooman.
Heejin tentu terkejut dan tidak terima dengan jawaban yang diberikan oleh lelaki paruh baya ini. Ia mendecih diam-diam.
"Kenapa tidak?"
"Yang kau rencanakan adalah kejahatan Heejin-ssi"
"Aku tahu. Maka dari itu aku terpaksa harus meminta bantuanmu untuk memperlancar rencanaku"
"Kalau terpaksa, untuk apa?"
Heejin menghela nafas sejenak. "Aku menyukai Na Jaemin. Anak yang berada dalam naunganmu"
Lee Sooman terkejut. "Na Jaemin NCT Dream?"
Heejin memutar bola mata nya malas."Kau pikir siapa lagi selebriti yang bernama Na Jaemin selain dirinya?"
Lee Sooman mengangguk. Benar juga. Pikirnya.
"Lalu, kau mau aku melakukan apa?" ujar Lee Sooman.
Heejin berdiri. Ia kemudian berjalan menghampiri Lee Sooman yang tengah menunggu jawaban darinya. "Bantu aku agar Na Jaemin menurut denganku. Bantu, agar aku bisa bersama dengan Na Jaemin walaupun sebentar."
Lee Sooman menyunggingkan senyum miring nya."Memangnya kau punya apa sebagai imbalannya?"
Heejin tersenyum. "Bagaimana kalau trainee baru? Jangan khawatir, akan kucarikan yang tampan dari yang paling tampan. Ini perempuan atau laki-laki?"
Lee Sooman tertawa mendengarnya. "Kau yakin bisa?" ucapnya di sela-sela tawanya.
"Kau meremehkanku?"
"Baiklah, laki-laki tiga orang."
Heejin tersenyum. Setelah mengucap salam, ia kemudian keluar dari ruangan sang CEO-nim itu.
"Hah... perempuan gila itu benar-benar sudah terobsesi. Apa Na Jaemin setampan itu?"
Lee Sooman kemudian berdiri dan juga berniat untuk keluar dari ruangan dan membeli beberapa camilan untuk dimakannya.
Tetapi, sesampainya ia di ambang pintu. Ia menghentikan langkahnya. Otaknya mulai berpikir.
"Tunggu, apa ini salahku yang membuat Na Jaemin menjadi lebih tampan sekarang?"
~/***\~
[your one thought was done]
KAMU SEDANG MEMBACA
For 14 Days | Na Jaemin
Fanfiction[14 days project] Tentang aku si perempuan yang dengan tidak tahu dirinya mencintai seorang Na Jaemin yang notabene nya adalah idolaku. Aku mencintai nya, mari kita kutip 'mencintai' dalam arti yang lebih analitis. Perjalanan kita dimulai dalam w...
