Bukan niat merebutmu, hanya sebatas menjaga dari jauh.
Karena suatu masalah di masalalu memaksa untuk bertanggung jawab akan hatiku yang terlanjur sendu."🌼-Takdir Cinta-🌼
Cerita selalu di awali dengan tiga masa yang tak pernah berubah; pagi, siang, dan malam.
Di pagi yang masih petang, dimana seharusnya mereka para pekerja bekerja dengan tenang, harus mengawali pencaharian dengan perkara di depan mata.Duhai ngeri ketika harus serentak terperangah menyaksikan dunia yang seakan berubah peradaban. Dimana terlihat sepasang insan tertidur pulas di brankar rumah sakit.
Suster dan dokter yang hanya bisa membuka mulut tak percaya, berdiam diri tak mengerti bagaimana cara menjelaskan pada sepasang suami-istri di hadapan mereka ini. Sedang para kerabat dari dua anak manusia ini, hanya bisa menggaruk kepala dan memandang polos kepada orang-orang berpakaian putih yang seakan siap mencincang hidup-hidup dengan peralatan medis mereka.
Daniar selaku seorang mertua mewakili keluarganya yang mangap akan hal itu, ia segera beranjak membangunkan Rizal dan Zahra.
"Zahra, Rizal, bangun Sayang. Ayo bangun."
Rizal dan Zahra tak bergerak sedikitpun, hanya ada erangan ala orang tidur dari mulut Rizal. Bahkan Rizal semakin mempererat dekapan pada Zahra yang ia jadikan sebagai bantal guling, infusnya saja sampai lepas saking nikmatnya tidur mereka.
"Rizal bangun, ini rumah sakit!" Daniar berusaha memindahkan lengan anaknya dari tubuh si menantu, sangat memalukan bagi sang ibu.
"Iya Ma, Rizal tahu ini rumah sakit," jawab Rizal asal. Daniar tak punya cara lain, ia harus segera memakai jurus jitunya itu; mencubiti lengan mereka berdua. Raungan sakit keluar dari mulut sepasang kekasih ini. Zahra segera bangun dan mencerna keadaan sekitar, Rizal ikut membuka mata ia duduk di bantu oleh mamanya.
Zahra menatap bergantian orang-orang dalam ruangan, ia terlonjak kaget saat menyadari apa yang terjadi.
Malu. Itu yang Zahra rasakan saat ini, wanita itu tak habis pikir akan sememalukan ini.
Ziad yang sejak tadi berdiri polos segera berjalan ketika Mita menyenggol sikunya agar lekas menggendong adiknya dan berpindah kamar."Kau apa-apaan sih, Ra, dokter berjenggot itu sampai shok melihat kalian tadi," sembur Ziad menatap lurus ke depan. Saking malunya Ziad sampai lupa jikalau ada kursi roda hingga ia pun terus menggendong Zahra sampai kamar.
Maaf. Hanya kata itu yang keluar dari mulut Zahra, ia memandang Mita yang berjalan di belakang memberi isyarat agar tetap tenang.
"
Dokter yang merawatmu juga sampai marah-marah padaku karna membiarkanmu keluar kamar sampai menghilang begitu." Ziad terus saja menyerocos, namun Zahra lebih memilih diam tak menjawab.
Benar saja, sesudah sampai dikamar suster Syifa dan dokter yang entah siapa namanya sudah setia berdiri, bagai perdana mentri yang siap memberi pidato bagi para rekan kerjanya yang menunduk hormat.
Alis Zahra menyatu saat bertatap muka dengan dokter. Ziad dan Mita dipersila menunggu di luar.
Suster Syifa bisa merasakan ada pertarungan batin di antara tatapan kedua manusia di hadapannya, dehaman tak mampu menyetop adu sorotan tajam mereka berdua."Saya sudah sembuh!" ketus Zahra tak henti balik menghunus menggunakan tatapan. Si dokter juga tak mau kalah, rahang dokter itu mengeras menahan emosi, tak pernah ia dapati pasien yang sifatnya seburuk ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Cinta [BAKU]
Romance17+ HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN. Zahra Nadzaran Fidqa, seorang muslimah berusia 19 tahun bermasalalu menyeramkan. Ia di jodohkan dengan anak teman orang tuanya, Rizal Maulana. Zahra terima dengan lapang dada, walau awalnya terpaksa, namun pada akhirn...