•part three

965 77 5
                                        


Author POV

Cahaya matahari menembus melalui celah jendela membuat Wonwoo terbangun dari tidur nyenyaknya.

"Kepalaku sangat pening, duh aku kapok minum alkohol terlalu banyak"

Tenggorokan ku terasa serat.

Wonwoo beranjak bangun dari kasur lalu mengambil segelas air putih. Tiba-tiba saja handphonenya berdering nyaring. Ia segera mengambil benda pintarnya yang berada di atas nakas.

Paman kim calling...

              ***********************

Pria itu mengerang kesakitan.

"H-hentikan....a-ayah," ucapnya menahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya yang tak lama mengalir deras melalui pipinya.

Pria tua itu masih saja mencambukkinya tanpa belas kasihan. Mencambuk punggungnya berkali-kali menyebabkan adanya banyak lebam keunguan dan goresan. Ia terbatuk mengeluarkan darah.

"Inilah akibatnya jika kau melawan ayahmu!" ucap si pria tua dengan suara menggertak.

"Bersihkanlah darahmu sendiri. Itu benar-benar terlihat menjijikan, sehabis itu bersiap-siaplah kita akan menemui seseorang", ia berkata dengan dingin setelah puas memukulinya habis-habisan dan melenggang pergi tanpa mempedulikan pria tersebut yang terkapar lemas di lantai.

Mata pria itu membengkak akibat terlalu lama menangis. Ia menatap nanar tubuhnya yang tak dilapisi sehelai benang pun menutupi bagian atas tubuhnya dihiasi penuh luka kebiruan.

Di rumah besar yang mewah dan suram ini. Hanya kekejaman yang Selalu ia terima.

Dirinya hanya ingin keluar.

Ia mengambil bajunya lalu memakainya secara perlahan.
Tanpa barang satupun, ia pergi tak tau arah menyusuri jalan setapak yang gelap gulita karena hanya ada sedikit lampu  penerang. Ia berusaha berada di tempat yang sejauh mungkin dari rumahnya.

Ia menemukan halte yang sepi lalu memutuskan untuk bermalaman disana. Tubuhnya terasa sangat sakit namun ia memilih untuk menghiraukannya dan segera tidur memejamkan matanya.

Seperti ini lebih baik.

              **********************

Paman kim mengajak Wonwoo untuk bertemu dengannya di sebuah kafe yang berada di tengah kota.

Wonwoo menunggunya sambil sesekali menyesap kopi yang hanya tinggal setengah.

Bunyi bel pintu kafe terdengar.
Paman kim datang dengan senyuman ramah yang terpatri di bibirnya. Wonwoo membalas senyumannya.

Paman kim melangkah menuju tempat dimana Wonwoo duduk lalu dan duduk tepat di depannya.

"Hai Wonwoo-ya,terimakasih karena sudah membantu paman kemarin," ucap paman kim hangat.

"Itu bukan masalah paman, aku senang bisa membantumu," ucap Wonwoo dengan kekehan kecil.

Lalu paman kim memesan minumannya dan mereka melanjutkan banyak pembicaraan yang sesekali di iringi candaan.

Paman kim mulai membicarakan anaknya yang mempunyai sifat baik. Ia juga selalu mematuhi paman kim.

Namun Paman kim khawatir dan gelisah mengapa anaknya pergi keluar dari rumahnya secara tiba-tiba seperti itu dan dari mukanya benar-benar menunjukkan bahwa ia merasa sangat sedih.

Wonwoo menepuk punggungnya pelan dan menenangkannya.
"Paman tenang saja... kau pasti akan menemukannya," ucapnya yakin sesekali mengusap punggung paman kim.

Our Secrets; meanie [discontinued]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang