Pukul delapan malam, william menghampiri pak kardi di depan lobi.
"Bapak bisa pulang, saya masih ada urusan," ucap william pada supirnya. "Mana kunci mobil? Bapak bisa pulang naik angkutan umum, ini buat ongkosnya," lanjut william sambil menyerahkan selembar uang seratus ribuan.
Pak kardi pun menyerahkan kunci mobil tuannya itu dan mengambil seratus ribuan yang dikasih william.
"Tapi tuan, nanti saat nyonya bertanya, saya harus menjawab bagaimana?"
"Bilang aja saya ada urusan penting, kalau mau tau suruh telepon sendiri."
"Baik tuan."
Mobil william membelah jalanan bali. Hari yang melelahkan, dia benar benar butuh hiburan. Kedatangan paket misterius ditambah kesalahan karyawan yang membuatnya semakin emosi. Karyawan-karyawan di bali ini jarang bekerja langsung dengan william, biasanya william memantau bisnisnya hanya melalui direktur dalam rapat rutin tahunan yang digelar. Karyawannya belum tau watak sifat william yang perfeksionis, selalu menginginkan kesempurnaan dalam berbagai hal, jadilah setiap hari ini dia marah marah saat tau ada ketidaksempurnaan dalam kantornya.
Mobil william berbelok ke sebuah club ternama di pulau bali.
Berhenti di depan lobi club dan memberikan kunci mobilnya pada seorang valet.
Suara dentuman musik terdengar begitu keras. Gemerlap lampu warna warni memenuhi ruangan. Pasangan muda mudi, tua dan muda, namun lebih didominasi pemuda ada di ruangan itu.
William membawa dirinya di depan meja tinggi di depan seorang bartender.
"Minum apa sir?"
"Vodka please."
Tak lama bartender memberikan segelas vodka kepada william. Jam telah berganti, ini adalah gelas ke sembilan yang dia minum, tapi rasanya pikirannya masih melayang tentang kejadian mawar merah.
"Tambah lagi sir?"
William mengetukkan gelas yang sudah kosong ke meja bar tanda menyetujui ucapan bartender itu.
"Hello mister," sapa wanita seksi berbalut dress tanpa lengan dengan panjang tidak lebih dari satu meter itu. Merangkulkan tanggan kirinya ke pundak william dan berbisik, "ada yang bisa dibantu?" lanjutnya.
William sama sekali tidak menanggapinya, tangannya asik membawa vodka dalam gelas ke mulutnya.
"Pangil saja aku cathrine, aku akan menemanimu di sini," putusnya. Tangannya menggerayangi tubuh william dan bibirnya menjilat permukaan wajah william.
William yang sudah haus akan sentuhan itu membiarkan cathrine menyentuhnya. Saat di New york, dia biasanya menghabiskan setidaknya satu minggu satu kali untuk berbagi kehangatan dengan one night stand. Selama memutuskan menikahi gia dirinya belum kembali menyentuh one night standnya.
William lelaki normal yang memiliki kebutuhan akan sex, tapi kalau disebut sebagai seorang maniak sex juga bukan. Apalagi dia hidup di New york, kota yang terkenal akan kehidupan bebasnya. Sex hanya dijadikannya pelampiasan nafsu, kelebihan libido atau terkadang juga sebagai pelampisan emosi.
***
Gia tengah berkutat di dapur, memasak untuk suaminya. Meskipun william tidak pernah menyentuh makan malam yang disajikannya, namun gia selalu menyediakannya. Harapannya, akan ada saat dimana william membutuhkan makanan di saat pulang bekerja.
Pintu belakang terbuka, dan menampilkan pak kardi. Pak kardi dan bi ratmi memang tidak pernah menggunakan pintu depan, mereka terbiasa keluar masuk melalui pintu belakang, mungkin menyadari bahwa posisi mereka adalah pembantu. Gia sering meminta pak kardi dan bi ratmi untuk lewat pintu depan, namun mereka enggan melakukannya, kecuali untuk hal hal yang penting.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Wedding
RomanceSeorang wanita yang terpaksa menjalani ikatan pernikahan dengan lelaki yang tidak pernah ia cintai. Bukan karena perjodohan, bukan pula karena kecelakaan, tapi karena desakan dari orang tua uang menginginkannya untuk menikah. Trauma masa lalu menyeb...
