[FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
Kalau yang lain nyatain cinta dengan I LOVE YOU aku bisanya QOBILTU.
-Cinta Santri-
Yang penasaran yuk yuk merapat!
Start: 01 Januari 2020
Finish:
#highest rank!
#1-sayyid[10062020]
#1-cintasantri[31082020]
#1-voment[0202202...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jam dinding di ruang kelas pondok menunjukkan pukul 16.20 saat Hyera akhirnya menutup spidol dan berbalik menghadap para santri yang masih sibuk mencatat. “Oke, sampai situ dulu. Latihan soal nomor 4 sama 5 kalian kerjain sendiri di rumah. Besok saya cek,” katanya, sambil mengecap ujung spidol yang hampir kering.
Para santri mengangguk—beberapa mengerang kecil, tapi tetap menurut. Setelah mereka bubar, Hyera menurunkan jilbabnya sedikit, mengibas-ngibas wajah yang gerah. Kawasan Pondok Pesantren memang luas dan rapi, tapi ruang kelas siang–sore tetap panas aja.
Belum sempat ia menghela napas, terdengar suara langkah pelan di pintu.
“Udah selesai?”
Hyera otomatis menoleh. Di ambang pintu berdiri Agil, bersandar santai dengan tangan di saku, wajahnya kayak habis tidur tapi mata tetap tajam. Kaos lengan panjang hitam, celana training gelap… cowok pondok tapi style-nya tetap dingin.
Hyera memutar bola mata. “ngapain lo di sini?”
“Cek guru baru,” jawabnya datar. Nada sok-sokannya langsung bikin Hyera mendelik.
“gue bukan guru baru. Udah tiga minggu gue ngajar di sini. Telat banget ngeceknya.”
“Ya… siapa suruh ente jadwalnya sore. Ane kalau sore biasanya tidur,” katanya santai sambil jalan masuk kelas, duduk sembarangan di bangku paling belakang.
Hyera menepuk meja. “lo itu anak yang punya pondok, Gil. Masa bangun cuma pas ashar?”
Agjl mengangkat bahu. “Kan udah bangun. Tuh buktinya ane di sini.” Dia ngomong begitu sambil nyender, kakinya selonjor, tatapannya… gangguin banget.
Hyera mendesis, “Cara jawab lo itu loh. Kalau gue jadi masih jadi santri lo udah gue tabok pakai buku rumus.”
Agil ketawa kecil. “Makanya sekarang ente ngajar matematika, bukan jadi santri lagi.”
Hyera sudah mau balas, tapi ia memilih membereskan barang. Makin diladenin makin ngeselin.
Agil memperhatikan papan tulis, mengernyit. “Tadi ente jelasin integral?”
“Limit,” jawab Hyera cepat.
“Hmm.” Agil berdiri, maju ke papan, mengambil spidol Hyera, lalu—tanpa tanya—menulis ulang langkah hitung limit yang tadi Hyera jelaskan.
Rapi. Cepat. Efisien.
Tapi nyebelinnya: lebih rapi dari punya Hyera.
“Harusnya gini,” katanya sambil menulis tanda panah tambahan.
Hyera mencabut spidol dari tangannya. “gue yang ngajar, bukan lo.”