diskusi ayam jago .3

29 10 0
                                        


Nama ayam cemani diambil dari bahasa sansekerta, di mana "cemani" artinya adalah hitam legam. Padahal, ayam cemani tidak selalu berwarna hitam, kadang-kadang ada pula ayam cemani berwarna putih meskipun jarang ditemukan.

Konon, ayam cemani tidak hanya memiliki bulu, jengger, paruh, dan kaki berwarna hitam, tetapi daging, darah, tulang dan jeroan ayam cemani juga berwarna hitam. Keistimewaannya inilah yang membuat harga ayam cemani lebih mahal dibanding harga ayam biasa.

Terlepas dari mitos ayam cemani yang berkaitan dengan hal-hal gaib, ternyata ayam ini sudah menjadi peliharaan sejak zaman Kerajaan Majapahit. Sejak dulu, harga ayam cemani sudah cukup tinggi. Tak heran jika sebagian besar pemilik ayam cemani adalah kaum bangsawan pada masa itu.

Menurut penelitian secara ilmiah, warna hitam pada sekujur tubuh ayam cemani merupakan kondisi genetik yang bernama fibromelanosis. Kondisi ini menyebabkan mutasi gen endothelian-3 (EDN-3) yang membuat lapisan epidermis ayam memproduksi pigmen hitam. Ketika bertumbuh besar, jumlah gen tersebut akan meningkat 10 kali lipat dibanding ayam biasa.

~~~

Seperti itulah yang dikatakan mesin pencari Google.

Jito terus bertanya,

Untuk apa seekor ayam hantu ada di kandang ini?

Ya! Jito memikirkan itu semua dalam lamunannya, ditemani udara pagi menjelang siang, serta bau tahi ayam basah yang khas.

"Bukan kah kau selalu mengikuti Jengger?"

Jito menegakkan tubuhnya hingga hampir jatuh, ia menoleh ke sumber suara yang berada tepat di sampingnya.

"Do-Doro?!" Jito membelalak. Ia tak menyadari kedatangan Doro. Ia yang terlalu serius berpikir atau memang merpati cacat ini terlalu sakti?

"Ada apa kau kemari, Doro?" tanya Jito berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Doro menatap datar pada dua buah kurungan yang berjauhan dan tak menoleh ke arah Jito sedikit pun. Dapat Jito lihat, paruh Doro bergetar pelan seolah menggumamkan sesuatu.

Atau membaca amalan-amalan :v

yang pasti, Jito tak dengar dan tak ingin mendengar.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan, nak?" tawar Doro, Jito menimang-nimang.

Ini adalah sebuah kesempatan langka baginya, Doro adalah makhluk terpelajar di area kandang ini. Walau fisiknya cacat, tapi itu bukan halangan selama masih ada otak.
Kehilangan dua saya pun bukan masalah.

"Em, gini. Sebenarnya–"

"Apa alasan Jengger bertarung hari ini?" tebak Doro yang diangguki antusias oleh Jito.

Lihat? berbicara dengan makhluk cerdas tak perlu repot menjelaskan, karena mereka sudah paham apa yang ingin lawan bicaranya katakan.

"Pertama, di matamu Jengger itu jago yang seperti apa?"

Jito membungkam paruh nya, ia tarik kembali perkataannya. Ternyata, bertanya pada makhluk cerdas itu lebih rumit dari yang ia kira.

Jito bertanya dan dijawab dengan pertanyaan. Jito mendengus kesal dan menjawab.

"Jengger itu kayak ... Optimus Prime."

Doro mengolah pelan pada Jito yang memasang wajah polos.

"Hah!?"

"Iya, Jengger itu kayak Optimus, aksinya selalu terlihat keren dan penuh wibawa, juga kata-katanya yang terlalu tinggi, aku sampai nggak ngerti."

Jawab Jito jujur. Dalam hati ia membandingkan dirinya dengan Bumblebee, seraya mengangguk-angguk bangga.

Doro menghela napas lelah. "Baik, jika memang begitu sosok Jengger di matamu," ujar Doro sambil kembali menoleh ke medan perang dingin.

"Menurutmu, sosok yang seperti itu bisa berubah drastis dikarenakan apa?"

Jito menyerah, di sini, dialah yang pertama bertanya, itupun hanya sekali. Sedang Doro, yang menawarkan sebuah jawaban tapi dengan harga dua buah pertanyaan. Intinya, bagi Jito makhluk cerdas itu ribet!

"Mana aku tahu lah!" jawab Jito mulai kesal.

Angin berhembus pelan, menerbangkan daun-daun kering berguguran ke udara, membuat Doro sedikit mendecih iri.

"Sejarah," ucap Doro setelah keheningan lama.

Ptok?

"Seperti ucapan Winston Churchill, sejarah ditorehkan oleh para pemenang."

Ptok?

Lagi, Jito menyuarakan ketidak pahamannya.

"Dalam artian, Jengger bermaksud mengubah sejarah." Doro mengenang kembali masa-masa itu, masa mudanya saat mengawasi 4 ekor ayam jago berbeda warna.

"Memangnya, apa yang terjadi?"

"Banyak, dan sayangnya sejarah menelannya. Memakan mentah-mentah adegan yang harusnya diabadikan dalam sebuah potret untuk masa depan." Doro mendongak, menatap birunya langit, tanpa ia sadari, setetes air matanya luruh.

"Banyak sudut pandang sejarah yang diceritakan. Namun sayang, selalu ada halaman yang hilang, ada fakta yang disembunyikan diganti sebuah opini yang kadang meresahkan."

Doro menoleh pelan pada Jito. Seperti perkiraannya, ayam jago muda itu tak paham dengan statementnya.

"Intinya, jika kau ingin tahu apa itu sejarah tanyakan langsung pada tokohnya, walau hanya tinggal tulang dan bulu yang tersisa dari mereka!" sambung Doro tegas.

HONESTY (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang