Unexpected Thing

809 66 15
                                        












Jimin menatap luar jendela, dirinya hanya diam dengan tatapan kosong miliknya, disini dirinya hanya menjalani hari-harinya dengan rasa bosan yang memenuhi hati dan pikirannya.


Dia butuh kebebasan, tapi dia sendiri pun tidak begitu tahu apa arti kebebasan itu sendiri, dia juga ingin merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.


Terlalu larut dalam pikirannya hingga tiba-tiba ujung baju Jimin ditarik kecil oleh sosok manis disamping Jimin dengan tatapan polosnya, Jimin yang menyadari itupun menatap sang pelaku "Hey," sapa Jimin pada sosok manis itu.


Sosok manis itu pun menggengam tangan Jimin lalu menuntun nya kearah brankar milik Jimin dan tentu saja Jimin duduk diatas sana dan mengangkat tubuh sosok manis itu membawa nya ke pangkuan nya dan sosok dipangkuan itu mulai bercerita dan Jimin pun mendengarkan nya dengan senang.


Setidaknya beberapa hari ini Jimin ditemani sosok anak kecil yang sama-sama kesepian dalam hidupnya, anak kecil itu awalnya sama diamnya seperti Jimin saat pertemuan pertama mereka, tapi lama kelamaan, Jimin memutuskan untuk mengajak berbicara pada anak itu, bagi Jimin, anak itu seperti dirinya, kesepian dan kehilangan arah jadi tidak apa jika dirinya berteman dengan si kecil itu agar saling tidak merasa kesepian lebih dalam.



Jimin sendiri pun tak ingat sudah berapa lama dia sudah terkurung disini, bahkan ibunya sangatlah jarang untuk menjenguk nya, bahkan seperti dia bisa masih bisa menghitung kehadiran nya dengan hitungan jari tangan miliknya.


Orang-orang berlalu lalang dan bercerita dengan diikuti senyum maupun tawa sering dia lihat saat berjalan diluar kamar rawatnya, dia teringat, jika dia juga pernah merasakan hal itu saat bersama sahabatnya, dia tidak bisa berbohong jika dirinya pun begitu merindukan mereka, terutama Jung Hoseok, sosok yang selalu ada untuk nya saat senang maupun duka saat itu tidak lagi untuk sekarang, dia sendiri dalam labirin kegelapan yang tak ada kata akhirnya untuknya, karena dia selalu saja berakhir di tempat yang sama.


Dirinya kembali merasakan hal yang sama seperti beberapa tahun yang lalu dirinya lagi-lagi terkucilkan, dia sering berfikir, kenapa dirinya begitu lemah dan membuat orang-orang melihat dirinya dengan kasihan, dirinya benci tatapan orang-orang yang seperti itu.


























.

.

.

Jimin sudah terlalu hafal dengan seluk beluk rumah sakit ini, dia sering berkeliaran seorang diri tanpa seseorang pun yang menemaninya karena sejak kejadian itu, dirinya tak memiliki siapapun kecuali dirinya sendiri, katakanlah dia harus berjuang demi hati nya yang sedang berusaha untuk bahagia, dunia ini baginya terlalu kejam untuk hatinya yang sudah begitu hancur berkeping-keping.



Jimin berjalan sembari menunduk, dia terlalu bingung harus kemana dia pergi untuk membuat pikiran nya tidak kusut, terdengar samar dia bisa mendengar seseorang sedang berbicara dengan membawa nama nya, "Kau tau pasien yang bernama Park Jimin,?" ujar salah satu perawat disana.


"Park Jimin? Yang sudah 2 tahun ini dirawat disini? Jika iya maka aku tau, dia begitu kasihan, bahkan dirinya jarang sekali dijenguk bahkan oleh orang tuanya sendiri," ujar perawat lain nya.


Jimin yang dibalik tembok itu pun mendudukan tubuhnya yang lemas seketika diatas dinginnya lantai rumah sakit, dia hanya menatap kosong kedepan, dirinya tidak bisa berkata-kata lagi, hidupnya sudah dipenuhi penderitaan, begitu dirinya mengetahui selama itu dia berada dirumah sakit, dia bahkan sangat jarang di jenguk oleh ibu nya, dirinya mulai berfikir, apakah dia dibuang? Dia dikucilkan?.



Teka teki rumit itu selalu datang menghampiri isi otak nya, dirinya kini tidak mau diberi tatapan kasihan oleh orang-orang yang berlalu lalang akhirnya pun bangkit dari duduknya, dan berjalan seperti mayat hidup, raut wajah yang begitu berantakan karena sisa air mata yang masih membekas di pipi putihnya.























"Tolong panggilkan dokter, ada pasien yang pingsan di jalan!"



















Jimin menatap para perawat yang berusaha mendorong brankar tersebut ke ruangan pemeriksaan, sekilas dirinya melihat wajah pasien tersebut, dia terlihat seperti salah satu sahabatnya, Jung Hoseok.






Jimin pun menggelengkan kepalanya, itu tidak mungkin, mungkin itu hanya halusinasinya saja karena efek terlalu rindu sahabatnya itu, tapi dirinya merasa begitu yakin jika itu adalah Hoseok.


Dia pun berjalan tergesa-gesa mengikuti para perawat membawa pasien tersebut, dia terus menunggu selesai nya pemeriksaan untuk memastikan apa yang dia pikiran itu benar atau tidak.




























Bagaimana ini, apa yang dia pikirkan ternyata benar, pasien tadi adalah Hoseok, sahabatnya.

Dia pun menatap Hoseok yang masih tak sadarkan diri dengan tatapan rindu, dirinya mulai menggengam salah satu tangan Hoseok dan mulai tersenyum dengan air mata yang mengalir dari sudut mata bulan sabitnya.


"Hey, kita bertemu lagi," ucap lirih Jimin yang masih menatap Hoseok dalam diam.


Dirinya terus menunggu kapan Hoseok sadar, dirinya tidak mau lagi terpisahkan oleh sahabatnya itu, dia terus memastikan apakah Hoseok baik-baik saja, hingga dirinya mulai mendapatkan pergerakan kecil dari tangan hoseok yang sedang dia genggam.


Jimin menatap wajah Hoseok berbinar yang penuh harapan, Hoseok yang tersadar pun yang pertama kali dia lihat adalah wajah sahabatnya yang sudah lama ia tidak temui itu.

"Jimin-ah," ucap lirih Hoseok memastikan bahwa itu semua bukan halusinasi miliknya saja.

"Hoseok hyung," ucap Jimin lalu memeluk tubuh Hoseok dan mengucapkan kalimat-kalimat rindu yang selama ini dia rasakan.


Hoseok pun membalas pelukan Jimin dan menepuk lirih punggung Jimin yang masih sedikit bergetar.


"Kita bertemu lagi, aku kira kita takan pernah bisa bertemu lagi," ucap Hoseok yang diakhiri dengan kekehan kecilnya yang menyebalkan.

Jimin pun mulai melepaskan pelukanya, "Ini kita bertemu lagi, dengan latar rumah sakit dan sama-sama menjadi pasien," ucap Jimin tak kalah menyebalkan, keduanya pun mulai tertawa karena candaan konyol milik mereka.


































Gimana? Makin ga jelas ya?
Alur nya kecepatan kayaknya, tapi aku udah bingung mau nambahin apa lagi, tapi aku harap kalian masih suka ya....

Kayaknya bentar lagi selesai deh, tinggal aku mikir mau bikin alur akhirnya gimana >,<

Jangan lupa VOTE dan KOMEN ya💜

The First MistakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang