"Lalu, sudah kukatakan bahwa aku benci untuk mengucapkan lalu dan mengingat lalu. Kurang jelas apa untuk kukatakan berulang? aku benci sekali".
Bermula saat tadi malam, mengobrol seperti biasa dengan ibuku. Berbincang menanyakan kabarnya dan jualan kami. Tetiba, otakku yang selalu memikirkan uang, langsung menawarkan ibuku dan sosok yang kusebut ayah untuk ikut serta dalam program Prakerja yang dibuat oleh premerintah. Sialan, keluargaku ini tak mendapatkan BLT, sudah seharusnya dan sewajibnya kami mendapatkannya. Namun, realitanya tidak seperti itu. Akhirnya, ibuku akan menghubungi lelaki tersebut untuk meminta foto identitas dan wajahnya untuk kuunggah atau kudaftarkan ke media sosial.
merusak otak saja sialan! aku benci untuk diganggu oleh ingatan masa lalu tentang keluaga, membuka luka lama. Terlalu perih, seperti ditaburi garam begitu banyak sehingga panas dan bahkan bernapas pun aku hanya bisa terenggah-enggah.
Aku ingin menulis berbagai hal, menceritakannya hanya dengan tulisan, tetapi sial, orang dari masa lalu datang tanpa diundang merusak semua khayal dan mimpiku. Aku tak menyukai lalu, apapun gabungan atau bentukan dasar dari kata tersebut.
Aku hanya mencoba mengetik berbagai tulisan dalam laptopku, berharap otakku tidak berubah menjadi otak udang yang tidak disukai oleh banyak orang. Sialan.
Ia hanya tertidur di kasur tersebut, entah memimpikan apa. Ia memilih untuk tidur duluan akibat konflik kecil akibat kegusaran hatinya yang tidak ingin berdekatan denganku. Dia merasa neraka untuk selalu berada di dekatku. Laki-laki aneh. Aku benci kepadanya, tetapi aku seperti sudah terikat oleh waktu dan lalu padanya. Sial. Aku sangat benci situasi ini.
Dia hanya mementingkan dirinya. Lihatlah, badannya rebahan dengan tenang. Suara ngoroknya menggelegar di ruangan ini. Jijik. Namun, aku tak bisa berbuat apapun. Lalu menghampiri dan membuatku untuk mengingat kelam. Sialan. Aku menangis karena semuanya merusak hariku atau aku yang mungkin terlalu egois untuk asyik dengan dunia sendiri?
Kupandangi laki-laki tersebut. Ia tetap tidur nyenyak dan berpetualang di alam mimpi. Ia tidak mengetahui gejolak hatiku dan air mata yang telah menetes tadi. Ia hanya menikmati hidupnya saja. Sebenarnya, ingin kuusir dirinya dari ruangan ini. Namun, berusaha mengalah kepada keadaan.
Kupandangi lebih dekat laki-laki itu, tetapi ternyata kutak menemukan depan di wajahnya. Tidak ada harap atau pun cinta darinya. Itu yang seharusnya kusadari. Aku tahu, tetapi belum sampai di titik sadar. Namanya juga cinta, cinta buta. Namun, aku harus berjalan ke depan. Bukankah orang-orang selalu mengungkapkan bahwa jika ia tidak ingin berjalan bersama, biarkanlah. Ah, membuat otakku bingung dan ingin pecah.

KAMU SEDANG MEMBACA
L.E.L.A.K.I
Short StoryAku Bunga. Ketika orang bertanya, aku ini bunga apa, aku hanya bisa diam. Aku tergantung di antara atas dan bawah. Tali ini yang akan memutuskannya. Tali ini adalah lelaki. Mencari esensi kata "lelaki" yang sulit kutemui dari arti kata "hidup". Nam...