"Tunggu aku di persimpangan. Aku akan datang menemuimu dan mengajak kau ke sebuah gerbang di mana aku dan kau akan menjadi kita. Aku takkan lupa akan janjiku untuk selalu bersamamu, bersama dengan motor atau jalan kaki kita untuk melangkah ke gerbang itu", Katanya sambil meyakinkanku dan memegang jemariku yang entah sudah lemas untuk sebuah jarak yang menganga.
Aku hanya terdiam ketika ia membaca mantra yang menurutnya akan meredakan keinginanku untuk melambaikan tangan. Dia segera tangkap tanganku dan membacakan mantra tersebut. Aneh, sungguh aneh. Sebenarnya, aku sudah hafal dengan mantra tersebut dan ternyata mantra itu adalah sebuah kontruksi. Namun, aku selalu mempercayainya. Selalu.
Salam itu, ia mendongengkan perjalanan yang nantinya akan kita lalui bersama jika melalui gerbang itu. Katanya, cukup pegang tangannya saja dan aku akan merasa aman. Baiklah, kucoba untuk mempercayainya.
Waktu berlalu, nyatanya, jarak telah tumbuh subur dan menjamur seperti kayu kapuk di sebuah hutan belantara. Telah kucoba untuk menyingkirkan jamur tersebut. Nyatanya, tidak semudah untuk membeli sebuah permen di warung-warung yang sering ditawarkan ketika tidak ada kembalian. Telah kucoba juga untuk memotongnya dengan gunting rumput, nyatanya, hal tersebut kontadiktif. Hanya bagai memotong dengan gunting kuku. Ternyata lelah.
Kumudah untuk mencecap definisi jarak. Namun, aku benci jarak. Seperti pelajaran fisika yang selalu menanyakan jarak ketika pelajaran IPA dahulu. Aku tahu rumusnya dan aku semangat untuk menghitungnya. Hingga saat ini, aku pun lihai mengukur jarak hingga kuhafal satu jarak kota satu dengan kota lainnya. Namun, jika aku adalah Einstein atau orang berpengaruh lainnya, izinkan aku punya pintu ke mana saja Doraemon yang dapat kugunakan untuk memperpendek jarak ini.
Jarak ini terlalu menyakitkan. Membuat kepala dan mual tak karuan. Membuat jiwaku terbang ke sana- ke mari. Sial! aku mulai membenci jarak sekarang. Dia yang membuatku benci dengan jarak. Padahal, dulu aku sangat menyukai jarak. Terlebih lagi, ketika aku harus pergi beratus kilometer, berjuta. Senang sekali rasanya. Namun, kini aku sudah memutuskan persahabatan dengan jarak.
Dia yang mengubah persahabatanku dengan jarak. Dia yang berhasil memecahkan persahabatan ini. Baiklah, tidak apa. "Aku masih punya ia", pikirku. Nyatanya, tidak seperti itu. Dia bukan milikku atau aku hanya dapat mengklaim sesuatu yang tidak kupunya hak ciptanya. Sialan!
Kuputar lagu high hopes yang ada di laptop. Mengingat masa lampau bahwa adanya harapan tinggi ketika tiada jarak di antara kami.
Hari ini, tanggal 25. Ternyata, sulit untuk mengetahui ke mana dia, sedang apa, tau apa yang ia makan saat ini, atau banyak hal yang biasa kami bicarakan tanpa basa-basi dan ditutup oleh tawa canda bersama. Ah, rasanya ingin kukunyah jarak ini dan kumuntahkan pada sungai yang airnya mengalir. Tanpa ada kembali dan hanyut ke lautan luas.
Aku tidak mengetahui di mana dia. Apakah dia masuk ke dalam sebuah kotak dan berusaha menyelotip kotak tersebut atau dia terbang bersama udara yang kurasakan pagi ini? Entahlah. Kulihat ada banyak tanda yang mengingatkanku terkait bau tubuhnya yang membuatku menjadi teringat mengapa dia selalu menghantui?
Hampir dua minggu ia sudah menghilang. Entah ke mana. Sepertinya untuk menutupi semua kekacauan yang ia miliki atau hal lainnya. Aku benci seperti ini. Perut penuh dengan kerinduan dan harus kumuntahkan lagi saking penuh dan tak muat untuk kyutanggung. Kumuntahkan di sudut kamar mandi. Kuguyur dengan bergayung-gayung air berharap hanyut hingga laut yang kuceritakan tadi.
Dia tidak ada kabar. Menghilang. Ke mana? apakah ia sakit atau bersembunyi atau ia menghilang atau apa? entahlah. Hanya otakku yang mampu berspekulasi dengan adanya rasa gundah yang mencuat dan mengalir di seluruh darahku yang amis.
Kutunggu, tidak ada kabar. Kuhitung jarak kota ini dengan kotanya. Sangat jauh. Entahlah. Ternyata, tersiar kabar, ia telah mati. Apa iya benar iya sudah mati? Apa benar bahwa ia hanya jasad tanpa roh lagi? Apa benar bahwa ia tidak bisa mendengar dan membalas semua pertanyaanku?
Lelaki itu menghilang. Aku masih menunggu di gerbang yang ia katakan. Setiap malam saat orang-orang terlelap tidur dan merasakan mimpi yang ia inginkan. Kutunggu di gerbang ini dengan keadaan gulita, dingin yang menusuk lapisan kulit terdalamku.
Banyak orang yang sudah menyuruh untuk pulang. Menikmati hidup saja dengan meminum minuman favoritku, susu dengan makan makanan favoritku, kue cokelat keju dan menatap ke jendela dengan sisa embun sisa hujan. Namun, itu tak dapat kulakukan. Pikiranku hanya melayang ke lelaki itu. Aku menunggunya sambil berjinjit dan mengintai dari jarak jauh. Kulihat dan kususuri setiap sudut jalan dari ufuk timur hingga barat. Nyatanya, tidak ada yang hadir atau menunjukkan petanda. Biasanya, angin akan menunjukkan petanda jika adanya orang yang hadir. Namun, kata angin, dia bilang bahwa hari ini takkan ada orang yang datang.
"Angin pembohong!", Gumamku dengan hati yang mengkerut. Tidak dapat menerima kenyataan. Aku duduk kembali di trotoar itu sambil memeluk diri sendiri yang kedinginan karena udara malam yang begitu menusuk. Kutunggu dan ternyata, hari ini dia tidak datang kembali.
Kugariskan dan kutandai di buku harianku. Ke mana dia? Apakah ia lupa akan gerbang ini? Entahlah. Akhirnya, kuputuskan pulang. Berharap ia akan menemuiku di gerbang ini. Menemuiku dengan berkata bahwa "Aku siap!"
Besoknya, kugunakan palaian pertama kali yang kugunakan saat pertama kali bertemu dengan lelaki itu. Berharap peristiwa 7 tabun lalu ia ingat. Berharap bahwa ia akan memberikan kunci selama ini yang ingin ia dan aku miliki. Sudah kugunakan pakaian ini dan parfum yang selalu ia ingat sebagai kehadiran diriku. Tidak lupa, kubawakan minuman favorit kami berdua, sebuah minuman susu rasa strawberi dengan adanya selai strawberi dan eye fish yang ada di dalamnya yang membuat mulut kami akan merasakan ledakan dari pecahan bola-bola gel tersebut.
Atau kubawakan pula handsanitezer yang harus membuat aku bawel karena ia sering lupa memakainya. Aku membawakannya semua untuknya. Atau sebuah bolu ikan favoritnya atau biskuit cokelat yang sengaja kubiarkan terbuka setelah dibuka kemasannya agar empuk yang kata lelaki itu enak sekali. Kulakukan semuanya. Kubawa itu di tempat makan yang pernah ia pakai untuk pergi perjalanan jauh.
Aku sudah bisa membayangkan bahwa ia akan menggunakan kemeja abu panjang yang ia gulung setengah dan menggunakan celana jeans hitam dengan sepatu merek Reebook abu. Lalu, ia tersenyum kepadaku sambil matanya yang tidak mau menatap mataku atau suaranya yang penuh dengan bata-bata.
Kutunggu. Kucoba untuk menghubunginya. Berjam-jam. Nyatanya, tidak ada respons sama sekali. Kulihat minumanku sudah banyak mengeluarkan uap air dan suhunya yang berubah sedikit demi sedikit. Rasanya gusar. Kulihat jam berkali-kali hingga berpuluh.
"Ia tidak akan datang, Mawar! Pulang sajalah!"
Sebenarnya, aku ingin merintikkan air mata dan masih ngeyel bahwa lelaki itu akan menemuiku pada hari ini. Kucoba mengghubunginya. Ke manakah dia?
"Aku selalu datang ke tempat ini dengan pakaian pertama kali kita berjumpa atau dengan minuman favorit kita. Nyatanya, kau ingkar untuk datang. Ke mana kau?"
Alam tidak bersahabat pula padaku malam ini. Tetiba rintik hujan membantuku untuk melangkahkan kaki pergi menjauh dari gerbang itu. Lelaki itu tanpa kabar. Terus dan terus.
Aku, Mawar, hingga luruh semua kelopakku. Bahkan, rerantingku sudah layu atau akarku yang sudah kering dan ingin menyembur ke tanah yang kering kerontang karena tak sanggup menahan tubuh yang sudah roboh ini.
Biarkan angin membawa semua harap yang mulai luntur untuk menghilang bersama debu. Katamu, kita akan menjadi debu? Aku sudah memulainya.

KAMU SEDANG MEMBACA
L.E.L.A.K.I
Cerita PendekAku Bunga. Ketika orang bertanya, aku ini bunga apa, aku hanya bisa diam. Aku tergantung di antara atas dan bawah. Tali ini yang akan memutuskannya. Tali ini adalah lelaki. Mencari esensi kata "lelaki" yang sulit kutemui dari arti kata "hidup". Nam...