Tidur

16 0 0
                                    


Entah kenapa, aku ingin tidur. Tidur lama, berharap mengobati perasaan sendu dan ditinggal masa depan. Di tinggal di garis belakang. Mereka tersenyum atas ketertinggalan. Lalu, aku harus apa dan bagaimana? terlalu kejam yang mereka lakukan. Terlalu membumbui diri dan hidupnya dengan pembohongan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. 

Aku ingin tidur saja, melupakan sakit hati menahun, mencoba berdamai dengan diri sendiri. Namun, hasilnya nihil. Mencoba berbagai hal untuk menutupi kesedihan. Tetap saja, hasilnya nihil. Aku tak mengerti mengapa. Mungkin luka ini terlalu lama mengangga untuk hal yang mungkin orang lain biasa, tetapi bagiku luar biasa. 

Bermula pada malam hari, ketika kubertanya tentang persiapan untuk salah satu beasiswa termasyur negeri ini. Lalu, ia mendapatkannya dengan percuma. Penghargaan dan penelitian yang kosong hanya membuat dia seperti monyet lugu yang diberi baju seorang ratu. Sialan. Aku ingin menyumpah saat melihat hal tersebut. 

Mencoba tidak membandingkan diri sendiri dengan monyet yang dibajukan tersebut. Namun, tetap saja tidak bisa. Aku membandingkannya. Ternyata, jelas bahwa memang kami jauh berbeda. Orang awam pun akan tahu siapa yang lebih unggul. Hanya saja, ia adalah orang yang beruntung. Namun, ia tidak terima dengan sebutan itu. Ia marah dan langsung menyindir habis-habisan dan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang bodoh.

Sial, aku benci dengan orang yang tidak bersyukur seperti ini. Sok menjadi budak negara atas yang ia peroleh dengan gelontoran dana yang luar biasa. Banyak mengeluh atas yang ia peroleh. Namun, itu hanya sebuah kesokpolosan dan sebenarnya kesombongan yang berusaha diledakkan di depan mataku sendiri. 

 Berpose bak keluarga miskin yang tidak berdaya. Ia mendapatkan beasiswa ke luar negeri dengan julukan keluarga miskin. Lucu sekali keluarganya. Katanya paham agama, tetapi melakukan hal curang agar nama tenar dan hal lainnya yang tak habis pikir. 

Ternyata, bapaknya adalah manager sebuah perusahaan rokok yang katanya gajinya di atas 10 juta. Bayangkan jika 10 juta ke atas dapat dikatakan sebagai orang miskin. Lantas, apa dejaratku jika seperti ini?! Lalu, ia pun mengatakan bahwa di rumahnya pun ada wifi yang dipasang. Hah?? keluarga miskin macam apa yang di rumahnya ada wifi hanya untuk berhubungan dengan dirinya dan orang tuanya yang berbeda kota?

Kesal sekali aku malam itu, dia berpura-pura tak memiliki salah. Lalu, kulihat lapotopnya yang menyimpan data sedang melalukan kursus prakerja. Padahal, ia pun berkata bahwa anak beasiswa tak layak untuk mengikuti prakerja karena sudah mendapatkan uang dari pemerintah. Ternyata perutnya besar dan tak pernah kenyang-kenyang. Sialan, aku semakin membenci perempuan itu. 

Sejak malam tadi, rasanya, dadaku sesak. Ia berusaha menyiram cuka atas luka masa lalu yang telah kusimpan dan hampir kulupakan. Namun, ia membuka dengan bangga. Sialan. 


Belum lagi, lelaki yang hanya menumpang makan di kosanku. Tidak memberikan uang, hanya makan dan melakukan aktivitas lainnya. Sedangkan diriku harus menyiapkan kebutuhannya. Walaupun ia tidak pernah meminta, sebagai manusia berpikir, aku melakukannya. Sialan. 

Dadaku serasa banyak kembang api atau petasan yang telah meledak semalam dan hari ini adalah sisa abu dan baunya yang begitu menyesakkan. Aku tak sanggup. Aku ingin tidur. Tadi pagi, aku sudah tidur. Tak fokus melakukan apapun. Ingin melanjutkan tesisku atau melamar pekerjaan lainnya tidak dapat. Sulit sekali berpikir jernih atas ketidakadilan ini. 

Kucoba putar lagu kekecewaan berulang, menangis jerit dengan alunan suasana pilu. Sialan. Akukan puasa, tetapi aku hanya ingin menangis. Lalu, kuputuskan tidur. Ini bukan waktu yang baik untuk tidur. Namun, aku memilihnya. Berusaha mendapatkan mimpi indah dan melupakan dunia yang begitu sengsara. Namun, akhirnya pertengahan siang aku harus bangun dan dibangunkan oleh azan salat. Kuberharap setelah salat dan mengaji, aku dapat melupakan masa lalu ini. Namun, tidak. Lukanya semakin menganga ketika alunan tersebut berputar kembali. 

Apa yang harus kulakukan? Aku mengadu pada lelaki sebelumnya. Kukira akan mendapatkan ketenangan, tetapi berakhir pilu pada akhirnya. Sebal. Sebenarnya, ini adalah hubungan yang menimbun racun yang tidak tahu hingga kapan dan membukit dalam sesak dada. 

Pernah kuingin mengakhiri semuanya, tetapi entah mengapa pun aku harus kembali pikirku. Namun, ia memang seperti ini. Aku yang harus meninggalkan agar semuanya beres. 

Aku ingin tidur atas semua kegagalan beasiswa, pendidikan, dan karierku. Silakan, kau berkata apa. Bukankah kita dapat memilih jalan yang kita hendaki? Aku memilih tidur.

L.E.L.A.K.ITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang