Aku benci diberi janji. Sungguh memilukan dan membawaku ke masa lalu. Hanya alasan sepele yang membuat semua berantakan. Aku benci untuk diberi janji-janji apapun itu jika kau tak sanggup untuk menepatinya.
Aku benci sendiri. Tak ada guna menghabiskan waktu sendiri dengan kelam dan suara jangkrik pada malam hari. Aku tak suka sendiri. Seakan dunia tidak adil padamu. Kau hanya mengatakan bahwa aku adalah gadis malang dan tak tahu diri. Memang, aku melupakan siapa aku ketika bertemu denganmu.
Katanya, hari ini dia akan datang menemuiku untuk berbuka puasa bersama. Lalu, katanya, ia tak mau menemuiku karena karena itu dosa. Lalu, apa yang dimaksud dosa jika rupanya kau berbohong padaku?
Katanya menemuiku adalah sebuah dosa yang tak boleh dirajut pada bulan Ramadhan ini, katanya aku adalah dosanya dan sebenarnya ia tak ingin merajut lebih banyak lagi. Katanya, ya sudah pergi saja aku entah ke mana, ikuti saja angin membawaku pergi. Lalu, aku tak mau dengar. Katanya aku harus dengar. Kupingku panas mendengar tajamnya kata-kata yang membuat pekik kuping ini. Terlalu menyakitkan bagi jiwa dan ragaku.
"Jika aku pergi, kau akan sedih dalam hatimu"
"Tidak sama sekali. Aku malah bebas dan bahagia. Tak ada lagi pengganggu dalam hidupku.", sambil tertawa bahagia.Kuputuskan mematikan telepon. Kuhapus nomornya dari kontakku. Jika kumenghapus kontak seseorang dari kontakku, foto profilku takkan terlihat oleh orang tersebut. Lalu, hilanglah semua harapku. Hanya tangis yang menghantui. Kucoba untuk kuat.
Ruangan ini menghitam, gelap, dan kelam. Tak sanggup kumelihat titik cahaya dalam ruangan ini. Kuputuskan untuk tidur, seperti biasa. Berharap ketika aku bangun, kejadian sebelumnya adalah mimpi dan omong kosong belaka.
Sudah sore, kuputuskan untuk bangun dan kulihat gawaiku. Sial, tidak ada kata maaf dan juga penyesalan darinya. Kucoba untuk memulai lagi, padahal aku tak suka memulai sesuatu yang tak kuinginkan. Kucoba untuk menghubunginya kembali dengan sebuah pesan.
"Bukankah kau bahagia jika aku pergi dari kehidupanmu, wahai Kumbang?"
Tak ada pesan dan membuatku semakin emosional. Aku tak tahu mengapa diriku selalu emosional ketika tidak mendapatkan respons ketika diriku emosional. Selalu. Aku benci dengan perasaan dan situasi seperti ini. Kucoba untuk telepon, tetapi sama pun tak ada kabar. Aku hanya bisa menangis.
Tetiba, ruangan ini semakin kelam dan kelam. Dia tak membalas pesanku. Akhirnya, beberapa jam kemudian, dia membalas dengan pernyataan yang malah memarahiku. Dia bilang aku ini biadab, hanya mengganggu. Padahal, dua hari lalu, ia yang mengungkapkan bahwa ia akan datang menemuiku.
"Apakah salah jika aku menagih janji yang dia berikan padaku?"
Ruangan semakin kelam, kutemui satu titik di atap ruangan ini. Titik itu berwarna abu-abu. Terputar masa kecil ketika ibuku suka berbohong padaku. Tentang suatu benda yang kuharapkan, ternyata tidak sesuai dengan perkataan mereka dan tidak sesuai dengan ekspetasiku. Aku lihat bahwa Bunga kecil, diriku hanya bisa menangis tersedu-sedu dan kesal dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspetasiku tersebut.
Kulihat lagi sebuah titik abu-abu lainnya yang berada di tengah ruangan. Kulihat Bunga kecil yang mengejar ibunya malam hari melalui semak-semak sunyi dan menyeramkan. Ia tak ingin berpisah dengan ibunya. Namun, ibunya harus bekerja ke kota besar untuk menghidupi keluarga mereka. Bunga tak bisa menerima itu dan hanya mengejar ibunya. Berteriak keras-keras. Tak ada rasa takut yang menghampiri. Walaupun, kata orang-orang, semak-semak itu begitu mengancam dan menyeramkan. Ia tidak pikirkan.Ia terus berlari mengejar ibunya tanpa alas kaki. Ia teriaki ibunya, hanya satu kata berulang. "Ibu, ibu, ibu, dan ibu". Namun, ibunya yang sudah jauh ditelan gelap malam hanya meninggalkan jejak saja di jalan yang diselimuti semak-semak itu.
Bunga kecil hanya bisa menangis. Rasanya berjuta-juta jarum menusuk dalam jantung dan paru-parunya. Rasanya sakit sekali. Bunga kecil pun akhirnya kembali memutar arah ke rumahnya. Ia membuka pintu rumahnya dan menutupnya kembali. Ia harus bersahabat dengan kesepian malam dan kesedihan.
Ia tutup pintunya, ia pasangkan palang seperti yang ayah sambungnya lakukan. Ia jadi teringat ayahnya yang entah ke mana. Ia benci kepada ayahnya yang menjadikan ibunya harus pergi mencari nafkah dan meninggalkan dirinya sendiri diselimuti gelap malam.
Ia segera masuk ke dalam kamar, mengunci jendela dan pintu kamar itu. Menutupi diri dengan selimut dan berdoa agar tidak ada makhluk astral atau manusia jahat yang mengganggunya. Ia berharap ibunya cepat pulang dan kembali bersamanya. Namun, itu hanya harap saja. Begitu menyakitkan dan ia hanya ingin tidur, berharap besok pagi, ibunya telah ada di sampingnya. Membangunkannya dan menyuruhnya untuk lekas sarapan susu dan roti kesukannya.
Katanya, ia hanya pergi untuk buang air besar, ternyata ia pergi untuk melakukan kagiatan lain dalam waktu lama. Bunga semakin tidak tenang dan kembali angin masa lalu membawa kenangan dan trauma buruk yang tidak ia inginkan. Sejadi-jadinya, ia menghubungi kembali orang tersebut dan tetap tidak ada balasan.Perkataan kasar telah dilekatkan kepada laki-laki tersebut. Namun, tetap saja, laki-laki itu tak ada kabar. Sudah sampai ke titik tidak bernyawa dan tidak mempunyai harapan. Bunga hana bisa menangis sejadi-jadinya. Dadanya sakit seperti masa silam, bermiliar-miliar jarum bahkan yang menusuk jantung dan paru-parunya. Ia sulit sekali untuk bernapas.
Akhirnya, jalan terakhirnya, Bunga menceritkan kisah hidupnya yang sebenarnya ia tak ingin ceritakan kepada laki-laki yang sebenarnya tidak mengharapkannnya. Begitu menyakitkan. Respons laki-laki itu hanya biasa saja. Malah, balasan pesannya menandakan bahwa ia malas untuk mendengarkan cerita sedih orang lain.
Lalu, laki-laki itu memutuskan untuk meninggalkan perempuan itu sendiri dengan rambut yang penuh dengan kabut. Ia biarkan Bunga untuk binasa ditelan oleh angin malam dan pekatnya kabut malam. Mulai dari tusukan jarum yang mula-mula sedikit menjadikannya puzzel dan akhirnya bersih ditiup oleh angin malam.

KAMU SEDANG MEMBACA
L.E.L.A.K.I
Short StoryAku Bunga. Ketika orang bertanya, aku ini bunga apa, aku hanya bisa diam. Aku tergantung di antara atas dan bawah. Tali ini yang akan memutuskannya. Tali ini adalah lelaki. Mencari esensi kata "lelaki" yang sulit kutemui dari arti kata "hidup". Nam...