"Setelah diadakan rapat tentang pengajuan orang tua dari sebagian besar murid di kelas kamu, saya selaku kepala sekolah tidak bisa menolak mereka. Terpaksa kamu harus pindah ke sekolah lain sebagai gantinya saya akan mencarikan sekolah baru untuk kamu," jelas pak Hama—selaku kepala sekolah SMA GARUDA setelah memanggil Zion ke kantor untuk membicarakan hal tersebut.
Zion diam mendengarkan.
Merasa tak mendapat jawaban pak Hama pun kembali berbicara, "bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?" Zion balik bertanya.
"Apa ada pembelaan?"
Zion tersenyum sinis, "pembelaan seperti apa? Baguslah kalau bapak membuat keputusan seperti itu, membuktikan jika sekolah ini memiliki kepala sekolah yang tidak tegas."
Pak Hama memang terkenal baik sebagai kepala sekolah, dia ramah dan berwawasan luas. Pernah sekali ia melihat ada anak muda penjual sayur di pinggir jalan, anak muda itu mengaku tidak punya uang untuk melanjutkan pendidikan dan pak Hama membiayainya. Ya .. dia memang sebaik itu, sayangnya ia tidaklah tegas.
"Ini untuk kebaikan sekolah, dan juga kebaikan kamu. Kan tidak enak juga jika terus diasingkan dari kelas," ucap pak Hama mencoba untuk menahan diri. "Kamu tidak akan langsung di pindahkan, kami sepakat setelah acara anniversary sekolah yang ke-30 baru kamu pindah. Acaranya akan diadakan selama 3 hari, jadi kamu punya 3 hari di sini."
"Terserah pak. Mau saya bapak tendang sekarang juga ga papa. Udah di terima di sekolah ini kembali adalah suatu kehormatan, walaupun kehormatan itu terasa tak jelas dimana lagi keadaannya."
"Kamu menyindir saya?"
"Tepat," jawab Zion tanpa takut.
"Oh iya soal orang tua kamu apakah bisa mereka datang ke sekolah atau saya saja yang mendatangi mereka?"
"Ga perlu kasi tau mereka pak, mereka ga se peduli itu. Asal saya tamat sekolah aja, mau saya sekolahnya di kandang buaya pun mereka membiarkan."
"Setidaknya mereka kan harus tahu. Saya bukan bermaksud ingin membedakan anak lain dengan kamu, tapi ini karena desakan para orang tua. Kamu juga pasti tau kan seberapa bar bar nya emak-emak, lampu sen ke kiri eh malah belok ke kanan, iya.. se bar bar itu memang."
"Terserah lah yang jelas saya udah setuju, kasi info aja sekolah pindahan saya," pinta Zion, "dan satu lagi, saya kecewa sama bapak."
"Bapak tadi sudah mencoba untuk membela kamu tapi guru lain mengadakan pemungutan suara dan saya kalah. Saya tidak bisa berbuat jauh lagi, saya harap kamu bisa berdamai dengan sekolah baru kamu."
"Seharusnya kamu berterimakasih sama pak Hama masih menerima kamu di sekolah ini lagi, ini malah bilang kecewa, pikirkan dong gimana sakitnya hati dia," celetuk Bu Rana—wakil kepala sekolah yang terkenal sangat killer dan bermulut tajam, sebagai perempuan dia adalah ratu nya gosip. Bibirnya selalu merah ketika mengajar membuat Zion setiap kali ingin melemparnya ke rawa-rawa.
"Memangnya saya berbicara dengan ibu?"
"Saya kan menyahut, saya negur kamu."
Zion hanya mengangguk kecil. "Oh."
"Kamu kok semakin kurang ajar ya jadi murid?! Untung aja ya ada wali murid yang datang ke sekolah buat ngajuin pemindahan sekolah buat kamu, jadi sekolah kita ga perlu berlama-lama lagi menampung orang seperti kamu."
"Memangnya saya seperti apa?"
"Kamu bisa menilai diri kamu sendiri dengan baik!"
"Oke, saya ganteng," Zion membalas santai.
