5. Snorlax

323 35 3
                                    

Airy memaksa Aslan untuk pulang terlebih dahulu, lagipula tidak mungkin ia akan membiarkan Dika begitu saja di rumah sakit ini sedangkan dia berleha-leha kembali ke rumah sambil melanjutkan menonton series 2gether.

Dika sedang tertidur pulas, entah karena pengaruh obat ataupun rasa lelahnya yang menuntut agar lebih banyak beristirahat. Akhir-akhir ini Dika juga jarang tidur teratur, lampu tidurnya baru mati dini hari sekitar jam 2 malam.

Sebenarnya Airy juga kepingin akrab dengan saudara kandung, seperti tertawa bersama, saling mengejek, dll. Ia tidak berharap Dika jadi abang idaman yang bersikap lembut dan menyayanginya lebih dari apapun seperti karakter di wattpad—Ya, Airy tidak berharap sejauh itu. Menjalani hubungan normal layaknya saudara biasa sudah lebih cukup untuknya.

Dia terlalu menyayangi Dika. Sekali lagi, karena hanya Dika satu-satunya.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di otaknya membuat Airy beranjak berdiri dari posisi duduknya. Ia menghampiri perawat dan meminta nomor kamar pria yang berada di sebelah Dika tadi.

Nomor 34.

Tanpa pikir panjang Airy naik lift dan mendatangi kamar tersebut. Setelah satu tarikan nafas Airy pun memegang knop pintu dan membukanya sekali hentakan.

Pria itu menoleh.

YAMOLIIII...

MY EYES.

MATANYA TERNODAI.

Pria itu sedang mengganti bajunya dengan baju pasien yang belum seluruh kancingnya masih belum bertemu alhasil Airy menatapnya topless. Sempat-sempatnya mata Airy turun ke bawah dan menemukan sebuah tatto di tubuh pria itu.

Tapi, tunggu. Airy merasa tidak asing dengan tato yang berada di bagian kanan bawah perutnya. Rasanya akrab di mata, tapi.. gambar apa ya?

Airy segera menutup pintu kembali setelah menyadari kebodohannya. Sempat-sempatnya ia berpikir! Ia mengacak rambutnya geram, seharunya ia mengetuk dulu, sialan!

Tak berani untuk membuka pintu itu lagi, akhirnya Airy meminta secarik kertas pada perawat dan menulisnya.

Maaf? Bisa ke roftop? Ada yang ingin saya bicarakan.

"Geli ga sih pake saya? Aku aja kali ya?" gumam Airy pada dirinya. "eh, tapi nanti dikatain sok akrab, atau gue aja? Lah ga sopan."

Yasudah. Airy pun mantap membawa secarik kertas itu menuju kamar nomor 34. Ia menarik nafas panjang dan mengetuk pintu sebanyak dua kali kemudian memasukkan kertas itu lewat celah pintu paling bawah.

Airy kemudian pergi menuju roftop untuk menunggu kehadiran pria itu. Ternyata udara diatas sangat dingin diluar perkiraan Airy. Bahkan ia sudah mengenakan hoodie dan jaket tapi udaranya masih terasa menusuk ke kulit.

Ia tak bisa bertahan lama jika begini.

Ia menghentak-hentakkan kakinya di lantai sambil menunggu pria di kamar 34 tadi.

Airy mengadah ke atas—tepatnya langit. Tidak ada bintang malam ini menandakan hari sedang mendung dan hujan akan datang, pantas saja udaranya sesejuk ini.

"Tuh orang kemana sih kok ga—" ucapan Airy terpotong kala seorang pria berhoodie hitam berdiri di sebelahnya, dan dengan santainya pria itu menghisap sebagai rokok.

OALAH COK.

"Permisi." Airy memulai.

Pria itu menoleh dengan tak niat. Ia hanya diam dan melemparkan tatapan sinis, entah memang matanya yang begitu atau ia memang risih terhadap Airy.

ZIONID. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang