"Lepasin," titah Airy tegas dengan mata yang lurus menatap Zion, kemudian pindah ke Dika.
"Airy, jangan—"
"Gue bilang lepas, Bin!" bentak Airy pada Bintang yang hanya bisa mengalah sedangkan Aldo masih tidak menurut.
Airy menatap sinis Aldo, "lepas."
"Lo bisa mati kalau ke sana—oh shittt!" Airy menendang area sensitif Aldo dengan kuat membuat cekalan Aldo terlepas.
"Jangan ikut campur." Kali ini Xander yang mencoba untuk menahan namun Airy menepis tangan pria itu sekuat tenaga membuat Xander ikut kaget karena Airy juga cukup jago. Ia pikir gadis kurus itu hanya bisa haha hihi genyol-genyol saja.
Zion beranjak berdiri sedangkan Dika mengubah posisi nya menjadi duduk. Mata Airy semakin memanas ketika melihat kondisi Dika. Airy hendak langsung menghampiri Dika namun gerakannya dihadang oleh Zion.
"Lo ngapain disi—" Dika terbatuk kecil sehingga ia tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Mata Airy beralih melihat ke arah beberapa anggota Denox yang juga memperhatikannya, ia kembali menatap Dika dengan tatapan kecewa. Apa-apaan ini? Dika benar-benar kembali bergaul dengan anggota geng yang bernama Denox itu? Padahal Denox sudah dibubarkan 6 bulan yang lalu.
"Siapa bilang lo boleh seenak—" kali ini Zion yang tak dapat melanjutkan kalimatnya karena Airy sudah menabrak bahunya dengan keras membuat pria itu sedikit menyingkir.
Airy mengulurkan tangannya pada Dika untuk membantu pria itu berdiri. "Kak.." lirih Airy kala Dika tak menyambutnya.
"Pulang," suruh Dika.
Airy menarik tangannya kembali, ia melirik ke arah Aslan yang berdiri tak jauh dari mereka. Airy memberi kode sehingga membuat Aslan langsung membantu Dika untuk berdiri.
Airy beralih menoleh sinis ke arah Zion yang masih melihatnya dengan tatapan aneh.
"Kata siapa lo bisa bawa dia pergi gitu aja? Urusan kita belum selesai," ucap Zion.
"Urusan apa? Membunuh kak Dika, itu maksudnya? Dia udah hampir mati apa belum cukup?"
"Dia duluan yang nantangin duel padahal dia bawa anggota Denox yang lain. Gue ga pernah ngusik Abang lo, tapi dia nya aja yang kek anjing. Singa ga akan ngamuk kalau ketenangannya ga di usik."
"Terus? Kenapa? Bukannya lo bilang tugasnya anjing emang buat menggonggong? Kalau lo emang anggap ka Dika kayak anjing ya biarin aja, selagi dia ga mengusik orang yang menurut lo penting kan?" Ucap Airy mengingatkan Zion pada kalimat yang dilontarkannya tempo hari. Tugas nya anjing buat menggonggong, selagi dia ganggu gue ya gapapa, tapi sampe aja mereka ganggu orang yang menurut gue penting, jangan tanya apa yang bakal gua lakukan.
Tapi Airy keliru soal poin menganggu orang penting bagi Zion. Dika melakukannya.
"Ini beda." Zion berucap.
"Apanya yang beda?"
"Lo ga bakal ngerti."
Zion mengalihkan pandangannya dari Airy, beralih ke Dika. "You lose, ok?"
"Kita belum selesai," ucap Dika tak terima. Ia belum kalah.
"Mau lanjut?" Tanya Zion terdengar menantang.
Dika menatap Airy di detik itu juga. "Pulang, ini urusan laki," usir nya membuat Airy nyaris tak bisa berkata-kata.
"Biar gue yang anterin," ucap Bintang mendekati Airy dan mencoba untuk membawanya menjauh, namun Airy menolak. Ia tak akan pulang jika bukan bersama Dika, kecuali ia siap melihat abangnya itu mati sekarang juga.
