12. Insting

211 25 0
                                    

Airy sampai ke sekolah agak siang hari ini. Untungnya pagar belum di tutup padahal sudah jam 7 lewat.

Airy melangkahkan kaki santai di halaman sekolah sambil memperhatikan kelas 12 IPA 1 yang mulai turun untuk olahraga. Walaupun anak IPA, mereka selalu bersemangat beraktivitas di luar ruangan bahkan kerap kali ketika baru jam 6 lewat mereka sudah turun untuk pemanasan. Jika ada lomba di sekolah dalam bidang olahraga kelas itu pasti selalu membawa piala.

Mata Airy tak sengaja menangkap Zion yang tengah berbicara dengan dua orang cowok di tepi lapangan. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa, namun Zion tidak. Positif thinking saja, mungkin Zion itu tidak punya selera humor.

Salah satu dari mereka menoleh ke arah Airy. Airy ingat pria itu, pria bule yang tempo hari menengahi perdebatan Airy dan Zion. Dirinya ini nolep atau bagaimana? Kok bisa sampai tidak tahu di sekolah ini ada cowok setampan itu?

Ketika Zion hendak ikut menoleh sontak Airy langsung panik. Ia melepaskan tas yang ada di punggungnya untuk menutupi wajahnya, kemudian berlari meninggalkan lapangan.

"Airy!!! Kabar baik buat lo!" seru Rose bersemangat sambil menarik lengan Airy ketika ia baru saja memasuki kelas.

"Hari ini beberapa wali murid datang buat ngajuin permintaan pemindahan kelas buat Zion." info Rose.

"Jadi, dia ga bakal sekelas lagi sama kita gitu?"

"Lebih dari lima puluh persen kemungkinan pengajuan bakal di setujui," jawab Rose.

"Gue pikir anak-anak cuma bercanda mau ngajuin begituan," ucap Airy tak yakin. Dia sebenarnya juga tidak suka Zion sih, tapi ya mendepak nya dari kelas juga bukan solusi yang baik.

"Ya elah, tenang aja. Mama gue kan salah satu donatur sekolah ini, ya kali kepsek berani nolak permintaan nyokap," celetuk Rania—gadis cantik berwajah glowing. Jika di lihat dari gaya, ia termasuk paling mewah. Nyaris setiap minggu selalu ganti tas dan tidak pernah marah jika pulpen nya tiba-tiba raib di telan bumi. Anaknya narsis parah, kalau mau foto ga tanggung-tanggung langsung bawa Canon ke sekolah dan di simpan di loker untuk konsumsi satu kelas.

"Emaknya siapa aja yang datang?" tanya Airy pada Rania yang seketika menoleh.

"50 persen dari kelas ini dateng. Nyokap Varo juga join," jawab Rania santai.

"WOIIIII WOI AIRY! ROSE!" teriakan cempreng itu berasal dari seorang Varo yang terlihat amat sangat panik sambil ngos-ngosan setelah berlari. "Berita hot, markotop. Kepsek lagi adu argumen sama nyokap-nyokap kita gara-gara pengajuan pemindahan sekolah buat Zion. Gue habis dari kantor, rencana nya mau nguping dikit tapi ga sempet, keburu telat."

"Pemindahan sekolah? Remedi dulu ngomong. Orang dia cuma mau dipindah kelas kok," sahut Rose.

"Cangkemmu! Tanya Rania noh, emaknya bilang ga cukup buat pemindahan kelas, kudu di pindahin ke sekolah lain biar semua murid SMA ini aman. Nanti kalau dipindahin ke kelas lain malah jadi masalah jilid dua," cerocos Varo.

Airy seketika menoleh ke arah Rania. "Beneran?"

"Apanya?"

"Bukannya kelewatan ya harus sampai di pindahin ke sekolah lain." Airy benci ini, kenyataan dimana ia merasa iba pada Zion. Ia semangkin membenci dirinya ketika berani membela pria itu.

Rania tertawa lepas mendengarnya, ia menyugar poni nya ke belakang. "bukannya ini lebih adil buat semua murid sekolah ini? Jujur aja mereka pasti selama ini ikut waspada. Dan gue akhirnya bantu mereka buat ngajuin hal tersebut ke kepsek, berhubung nyokap gue berpengaruh. Kalau bukan gue siapa lagi sih?"

ZIONID. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang