"Langit kalau kamu gak suka sama cara Ayah mending kamu angkat kaki dari rumah ini!" Teriak Devan lantang.
"Oh jadi itu mau Ayah? Okeh" Langit tak kalah emosi.
"Apa susah nya sih dengar apa kata Ayah hah?"
Langit tersenyum hambar "Gimana Langit mau dengarin Ayah kalau Ayah sendiri gak pernah dengarin Langit!"
"Apa Ayah pernah nanya ke Langit apa yang Langit suka dan gak suka?"
"Bahkan sampai Langit berlutut di depan Ayah..." Langit menggeleng "Ayah gak dengarin apa mau Langit!"
Devan terdiam seribu bahasa tak tahu harus menjawab apa lagi untuk kali ini kalah melihat Langit sangat terluka.
Langit mengusap Air matanya kasar kemudian keluar dari rumah dengan motornya tak memperdulikan panggilan Devan.
"Kenapa semua orang selalu nuntut hal yang gue sendiri gak tahu" teriaknya di sela kegiatan mengendarai motornya.
Langit berakhir ke apartemen pemberian mamanya dulu. Ia membanting tubuh kasar ke kasur nya dan mengacak rambutnya.
"Andai mama masih ada disini" ujarnya nanar.
Setelah beberapa jam ia merasa bosan di apartemen itu sendirian entahlah dua teman nya itu pun tidak munculkan batang hidung nya.
Suara bel berbunyi dari pintu "Bentar" Langit membuka pintunya dan terkejut kala ada serangan mendadak.
"Langit lo gak papa kan bro" Aciel langsung memeluk Langit agresif.
Langit melepas pelukan nya kasar karena merasa jijik dengan sikap Aciel seperti cewek aja.
Mereka pun masuk dan duduk di sofa depan TV "Lo ada masalah apa lagi Lang?" Tanya Keenan.
Langit menggeleng "biasa" jawabnya datar.
"Sabar aja yah bro kita berdua bakalan selalu ada buat lo" tenang Keenan.
Langit hanya mengangguk lesu "Thanks" ujarnya sambil tersenyum.
Setidak nya Langit masih mempunyai seorang sahabat sekarang walau pun perasaan nya sangat hancur saat ini.
****
Matahari nampak bersinar dengan cerah nya membuat keringat setiap orang yang melintas dibawah nya bercucuran.
Langit duduk di tepi lapangan bawah pohon sambil melihat murid bermain basket. Hari ini ia sungguh tidak mood untuk bermain basket. Pikiran dan perasaannya sedang sangat kacau.
Mata nya menyipit saat ada bola yang melayang ke arah kepala seorang cewek. Dengan sigap ia berlari menghampiri dan menghalangi dengan tangan nya.
"Aw" Langit meringis saat bola itu ditepis nya kuat sepertinya tanganya terkilir.
Pelangi yang tadi nya memejamkan mata kini membuka matanya saat tidak merasakan apapun di kepala nya lalu mendongak.
"Langit" gumanya heran.
Pelangi melihat tangan Langit yang nampak membiru akibat bola tadi "Lo gapapa?" Tanya nya.
Langit tak menjawab dan hanya berdiri santai. Dengan sigap Pelangi menarik Langit ke uks untuk mengobati luka nya.
Mereka duduk di salah satu meja "Gak perlu" ujar Langit dingin.
"Sstttt" Pelangi menaruh jari telunjuk nya di bibir Langit menyuruh diam.
Dengan cekatan Pelangi mengompres tangan Langit dengan air dingin agar tidak bengkak.
"Makasih yah Lang" ujar Pelangi di sela kegiatan.
Langit hanya melirik sekilas "Iya Pelangi sama-sama" guman Pelangi membalas ucapan nya sendiri.
Langit sedikit tersenyum melihat wajah sebal Pelangi "Lo carmuk sama gue" ujarnya singkat.
Pelangi menaikan alisnya "Carmuk? Langit oh Langit kalau lo gak cedera karena nolong gue, yah gue juga gak bakal peduli lah"
"Berati gue harus sering-sering nolong lo biar lo peduli"
Pelangi melirik wajah Langit dan berakhir mereka saling tatap selama beberapa menit "Najis" ujar Pelangi jijik.
"Lo lupa? Lo pacar gue"
"Emang gue udah iyain apa? Lo buat teriak-teriak sendiri norak tau gak"
"Kalau gue serius lo mau gak jadi pacar gue?" Tanya Langit.
"Gak! Gak akan pernah mau lo ingat itu gue tu benci banget sama lo Lang!!" Ujar Pelangi cuek kemudian melenggang pergi.
"Tapi gue suka sama lo" ujar Langit setelah Pelangi melenggang pergi.
***
Pelangi termenung menompang dagu di tangan nya. Memikir kan ucapan Langit tadi. Apa maksudnya coba? "Ahhh kok gue malah mikirin cowok gila itu sih"guman nya.
"Eh gebleng lo udah otak pas-pas an gaya banget gak merhatikan bu sulas Jelasi" tegur Kyra.
Pelangi memutar bola matanya malas "Kaya lo pinter aja Kyr" cibirnya.
Kyra dan Pelangi memang mempunyai otak yang sangat pas-pasan dalam mata pelajaran apapun. Tapi percayakah kalian kalau Pelangi ahli dalam melukis dan menggambar.
Diantara mereka hanya Fany yang mempunyai otak cemerlang walau lemot dalam berpikir tapi Fany sangat pintar dalam mata pelajaran entahlah bagaimana pun ia lah faktanya.
Kyra melirik ke meja Fany yang ada di belakang mereka "Kita kan punya Fany" kekehnya.
Pelangi menoleh ke belakang melihat Fany yang fokus memperhatikan ikut terkekeh geli.
Fany yang sadar di perhatikan pun melihat kedua temanya sembari mengangkat alisnya "Kenapa?"
Pelangi dan Kyra hanya menggeleng dan beralih menghadap ke depan lagi. Tapi bukan untuk memperhatikan Kyra yang kembali sibuk dengan ponselnya sedangkan Pelangi menggerak-gerakan tanganya diatas buku putihnya.
Ia menggambar sebuah bola basket dan sebuah tangan tanpa sadar terbentuk lah diri nya dan Langit di lapangan tadi.
Saat menyadari matanya menyipit "Kok gambar ini sih" gumanya lalu menutup bukunya kasar.
*****
Ciee tanpa sadar Pelangi gambar Langit lo kaya ada benih-benih cinta wkwkwk
Inikah benci jadi cinta???
Sory yah baru update soalnya rada sibuk wkwkwk sibuk mikirin dia
Kalian juga terus Vote dan Komen yahhh!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
PELANGI7
Teen FictionMempunyai kenangan buruk, Ketika melihat Sahabat nya meninggal di hadapan dirinya membuat kehidupan Langit Ivander Arsenio menjadi kelabu. Rasa bersalah dan kekesalan kepada sang Ayah yang selalu melakukan apapun dengan uang membuat ia mengubur mimp...
