1. Something On My Mind

2.9K 266 0
                                        

Semuanya terlihat gelap. Tak ada secercah cahaya pun terlihat untuk menunjukkan jalan padaku.

Aku lelah, aku lelah dengan semua yang terjadi. Haruskah aku berhenti? Namun didalam pikiranku selalu terbesit jika aku tidak selemah ini.

"Kumpulkan tugas essai yang saya berikan minggu lalu"

Aku adalah seorang salah satu mahasiswi jurusan ekonomi yang selalu memilih duduk di paling belakang barisan. Jangan tanyakan kenapa, karena aku lebih suka menyendiri.

Dengan membawa tugas yang diminta, tubuhku mulai beranjak dari tempat duduk untuk pergi ke meja Mr. Edwin. Dosen yang terkenal menakutkan di jurusanku karena kedisiplinannya.

Namun ketika hendak melewati barisanku, seketika aku menghentikan langkah. Ku lihat tangan sebelah kiriku yang terbebas, dan disana aku menemukan tangan lain yang menggenggam pelan milikku. Tangan kekar dengan beberapa urat yang menonjol sungguh membuatnya tampak jantan.

"Boleh aku menitip tugasku untuk dikumpulkan? Aku tidak ingin Mr. Edwin melihatku sedikit hangover, itu tidak baik untuk nilaiku" Jelasnya panjang yang sebenarnya tidak aku butuhkan.

Dia adalah Vano seorang teman satu jurusan yang memang selalu berada di barisan yang sama denganku. Lelaki itu selalu memilih untuk tidur dibarisan yang memang memiliki kemungkinan tidak terlihat oleh dosen.

Apa karena kebiasaan pergaulannya? Karena menurut kabar yang beredar, ia menjadi DJ di salah satu club disekitar kampus setiap malam.

Sudahlah, apa peduliku... Lebih baik aku memikirkan hidupku sendiri yang berantakan.

Tanpa menjawab, aku menerima lembar essai dari Vano sebelum mengumpulkannya bersama dengan milikku.
***

Mata kuliah sudah berakhir sejak beberapa jam yang lalu. Ketika semua mahasiswa memilih untuk pulang namun tidak denganku. Aku menghindari tempat yang disebut rumah itu.

Kau tahu kenapa? Karena sungguh sangat melelahkan jika setiap hari disuguhkan pertunjukkan dari pertengkaran kedua orangtua. Saling berteriak satu sama lain, bahkan tak jarang mereka juga beradu fisik.

Jujur saja itu sangat menyakitkan untukku, untuk seorang anak yang terpaksa menyaksikan hal yang tidak pantas untuk dilihat.

Semua hal itu aku telan dengan pedih didalam ruang pikiranku hingga suatu waktu ingin rasanya pergi menemukan tempat yang lebih baik.

Itulah mengapa aku memilih untuk berada di perpustakaan se lama mungkin. Bahkan terkadang sampai petugas menegurku karena sudah waktunya bagi mereka untuk pulang.

"Jane sudah waktunya perpustakaan untuk tutup" Wanita paruh baya yang mungkin seumuran dengan ibu mengingatkanku dengan suara lembutnya. Andai saja ibu bisa sebaik Mrs. Rosie mungkin aku akan selalu pulang kerumah tepat waktu.

Aku mengangguk pelan, memberikan senyum tipisku yang jarang ku berikan pada orang lain. "Terimakasih sudah mengingatkan, dan maaf karena saya Anda selalu telat untuk pulang"

"Tidak apa Jane, aku sangat senang ketika melihat ada anak muda yang masih menjadikan perpustakaan sebagai tempat favoritnya"
***

Aku berjalan pelan seakan memperlambat waktu untuk segera mencapai rumah. Bahkan sengaja memilih berjalan kaki daripada menaiki kendaraan umum.

Rumahku sebenarnya berjarak tidak terlalu jauh dengan kampus namun jika harus berjalan kaki, itu membutuhkan waktu dan tenaga yang lumayan.

Dengan tenang aku mencoba menikmati indahnya bunga-bunga yang sedang bermekaran di sepanjang jalan. Berharap dapat merilekskan pikiranku sesaat sebelum kembali dengan keadaan yang membuatku muak.

Aku tahu aku sudah dewasa, namun sejatinya aku berbeda dengan teman-temanku yang lain karena lebih menyukai kenyamanan rumah yang ternyata tidak senyaman pikiranku.

Suara klakson motor membuat kesadaranku kembali. Ku putar kepalaku kearah kanan dimana sebuah motor sedang berhenti dengan pemilik yang terlihat melepaskan helm.

"Mau kuantar pulang?"

Lelaki itu lagi, sepertinya ia sangat hobi menghentikan pergerakan orang lain.

"Tidak perlu Van, aku tidak ingin merepotkanmu" tolak ku halus.

Aku mengira Vano adalah sosok yang sombong dan tidak peduli sekitar, namun sepertinya anggapanku salah.

"Tidak, aku merasa tidak direpotkan. Lagian anggap ini sebagai ucapan terimakasihku karena telah mengumpulkan tugasku tadi"

"Aku rasa kau sedikit berlebihan, itu bukan hal yang harus dibalas"

"Tapi aku memaksa untuk mengantarmu pulang"

Vano tampak turun dari motor dan berjalan mendekatiku. Dengan sedikit memaksa ia mengajakku untuk duduk dibelakangnya.

"Emmm.. Aku hanya membawa satu helm, bagaimana jika kau yang memakainya?"

"Kau yang berada di depan jadi menurutku kau yang lebih membutuhkannya Van"

"Okey..."

Ketika hendak menyalakan motornya Vano mengurungkannya karena mendengar dering dari ponselnya yang berada di saku depan.

Ia mengurungkan niatnya karena harus menerima panggilan itu.

"Ya... Ada apa?"

"Bagaimana bisa mereka mengetahuinya..!!"

"Baiklah aku akan kesana"

Aku tidak tahu mereka membicarakan apa, namun dari jawaban Vano bisa ku simpulkan jika itu bukan sesuatu yang baik.

Perhatianku kembali tertuju pada Vano ketika lelaki itu mengeluarkan suara yang terdengar sangat damai.

"Maaf Jane, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sekarang karena ada suatu hal yang harus aku lakukan dan tidak bisa ditunda. Apa kau tak apa?"

"Sebenarnya aku tidak masalah, tapi apa kau keberatan jika aku ikut bersama mu?"

"Apa kau serius ingin ikut?"

"Ya, karena tidak ada yang kulakukan juga dirumah jadi sedikit terlambat sepertinya tak apa"

Hope you like it guys...

1. LOVELY (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang